Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Unik, Tradisi Sawuran Desa Gedangdowo Blora Saling Lempar Nasi Berkat

Tradisi 'sawuran' menjadi salah satu tradisi unik yang ada di Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: Tim Video Editor

TRIBUNJATENG.COM, BLORA -  Berikut ini video Unik, Tradisi Sawuran Desa Gedangdowo Blora Saling Lempar Nasi Berkat 

Tradisi 'sawuran' menjadi salah satu tradisi unik yang ada di Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Tradisi 'sawuran' selalu digelar setiap tahunnya saat sedekah bumi Desa Gedangdowo

Tradisi 'sawuran' dilakukan dengan saling lempar antarwarga satu dengan warga lainnya. 

Bukan lempar batu, melainkan warga saling lempar menggunakan nasi berkat yang dibungkus daun jati. 

Nasi berkat itu disusun membentuk gunungan. Gunungan nasi berkat dipikul warga, lalu diletakkan di tengah kerumunan warga.

Lalu, ketika waktunya tiba, warga saling berebut nasi berkat dan saling lempar ke warga lainnya.

Tradisi 'sawuran' yang digelar di salah satu makam Desa Gedangdowo tersebut selalu diikuti oleh ratusan warga yang rela berdesak-desakan mengikuti jalannya tradisi itu.

Menurut Kepala Desa Gedangdowo, Sutikno, tradisi 'sawuran' itu sudah secara turun temurun digelar.

"Saya kelahiran 1964 ya, sebelum tahun itu tradisi ini sudah ada," katanya, kepada Tribunjateng, Jumat (24/5/2024).

Sutikno mengatakan tidak ada yang bisa merubah tradisi itu. Sehingga setiap ada hajatan sedekah bumi, tradisi 'sawuran' selalu digelar.

"Jadi kita tidak ada yang bisa merubah, karena tradisi ini turun temurun," tuturnya.

Meskipun, seringkali ada anggapan masyarakat umum tradisi 'sawuran' dianggap tidak bermanfaat, lantaran dinilai menghambur-hamburkan nasi.

Menanggapi hal itu, Sutikno menyebut tradisi 'sawuran' sudah mendarah daging dengan warga Desa Gedangdowo sehingga tradisi tersebut selalu digelar.

Bahkan, meskipun begitu, masyarakat Desa Gedangdowo dinilai tetap sejahtera.

"Warga itu sudah mendarah daging, kalau tidak diadakan itu dia tidak terima, jadi kita sebagai pelayan masyarakat tidak bisa melarang dan tidak bisa memberikan sanksi kepada masyarakat, karena ini adat ya kita ngikut saja," 

"Alhamdulillah dengan adanya ini, untuk warga Gedangdowo malah murah sandang, murah pangan, tanaman juga subur," paparnya.(Iqs).

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved