Berita Rembang
Potret Kehidupan Santri di Tengah Peradaban Tiongkok Kecil Rembang
Potret kehidupan santri ditengah kehidupan Tiongkok Kecil masih terbingkai dengan rapih hingga saat ini
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Pondok Pesantren Kauman Lasem yang didirikan KH Muhammad Zain Ahmad Ma'shoem merupakan pondok pesantren yang memiliki corak arsitektur Tionghoa klasik, yang masih utuh terjaga.
Sebelum mengenal kehidupan para santri di tengah potret kehidupan masyarakat Tionghoa.
Perlu diketahui, bahwa Kecamatan Lasem sendiri merupakan kecamatan di Kabupaten Rembang yang dahulunya merupakan tempat pendaratan para orang Tionghoa di Pulau Jawa untuk berdagang.
Lambat laun, terjadinya akulturasi budaya yang mempengaruhi gaya hidup, bahkan hingga arsitektur maupun tata ruang wilayah.
Bukti terjadinya akulturasi budaya, terukir dalam arsitektur perkampungan Heritage Tionghoa dengan rumah-rumah kuno klasik serta tiga klenteng megah yang masih berdiri di Jalan Karangturi dan Desa Soditan.
Kawasan tersebut biasa disebut sebagai Tiongkok Kecil Heritage.
Meski berada di tengah kehidupan masyarakat Tionghoa, para santri di Lasem bisa beradaptasi dengan baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan toleransi.
Potret kehidupan santri ditengah kehidupan Tiongkok Kecil masih terbingkai dengan rapih hingga saat ini.
Satu diantaranya adalah Ponpes Kauman yang berdiri sejak tahun 2000 yang semulanya bangunan utama dari pondok pesantren itu adalah bekas penginapan masyarakat Tionghoa.
Meski berawal dari sembilan santri saja saat ini pondok pesantren tersebut memiliki sekitar 600 santri.
Selama berkembangnya pondok pesantren tersebut.
Tak pernah ada satupun permasalahan yang timbul antara para santri dan masyarakat Tionghoa sekitar.
Kehidupan toleransi yang sangat cair, dijelaskan oleh Ketua Pengurus Pondok Pesantren Lasem, Imam Rosyidi.
"Pesantren kami sangat membaur dengan masyarakat Tionghoa, dan mereka menerima kami dengan baik," ujarnya dikutip Tribunjateng, Senin (21/10/2024).
Harmonisasi kehidupan antara santri dan masyarakat Tionghoa terlihat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan, termasuk acara besar pondok yang melibatkan tetangga sekitar.
"Setiap ada kegiatan besar, kami selalu mengajak masyarakat sekitar. Mereka sangat menghargai dan hubungan kami tetap rukun," ujarnya.
"Lingkungan yang tercipta sangat indah dan harmonis. Contoh nyata dari toleransi ini adalah kerja bakti bersama serta acara tahunan ro'an toleransi yang melibatkan santri dan warga Tionghoa," sambungnya.
Bahkan tiap acara perayaan hari besar masyarakat Tionghoa yakni Imlek, para santri juga ikut turut membantu agar perayaan tersebut bisa berjalan dengan lancar.
Tiap tahunnya, santri dan warga Tionghoa menggelar acara diskusi dan dialog interaktif multikultural untuk menjaga toleransi yang sudah berjalan dengan indah.
Pada kegiatan itu, mereka mengundang berbagai pemuka agama untuk berdiskusi dan mempererat kerukunan antar umat beragama di Lasem.
"Kami tiap tahun sering menggelar dialog interaktif multikultural, para pemuka agama kami kumpulkan,"
"Para santri dan masyarakat sekitar juga mengikuti dengan baik juga daling tukar pikiran yang terpenting hidup yang selalu rukun dan berdampingan," tuturnya. (Rad)
| Modal Kunci T, Komplotan Curanmor Lintas Daerah Akhirnya Dibekuk di Rembang |
|
|---|
| Gaduh Soal Pendaftar Luar Daerah, Pengisian Perangkat Desa di Rembang Akhirnya Diulang |
|
|---|
| Sekda Fahrudin: Michael Bambang Hartono Asli Rembang, Dimakamkan Dekat Bapak-Ibunya |
|
|---|
| Ribuan Karyawan Lepas Kepergian Michael Bambang Hartono di Makam Keluarga Djarum Rembang |
|
|---|
| Makam Bos Djarum di Rembang Dipenuhi Janur Kuning dan Karangan Bunga |
|
|---|