Penjual Bakmi Senang Pasar Jongke Solo Semakin Bersih dan Megah
Sunani pedagang bakmi dan bumbu dapur di Pasar Jongke Solo senang terhadap kondisi pasar sekarang. Pasar menjadi lebih bersih, tertata rapi dan ramai
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Sunani pedagang bakmi dan bumbu dapur di Pasar Jongke Solo senang terhadap kondisi pasar sekarang. Pasar menjadi lebih bersih, tertata rapi dan ramai pengunjung.
Warga Kadipiro Banjarsari ini sudah 32 tahun berjualan di Pasar Jongke. Sunani (62) mengatakan dia jualan di Pasar Jongke sejak 1992 ketika pasar ini pertama dibuka. Maka dia mengalami perkembangan Pasar Jongke dari tahun ke tahun.
"Saya mulai berdagang di pasar ini sejak dibuka resmi tahun 1992, dan selama 32 tahun ini, saya menyaksikan berbagai perubahan dan perkembangan yang signifikan," ujar Sunani. Keberlangsungan usahanya mencerminkan ketahanan dan adaptabilitas yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan.
Pemilihan Pasar Jongke sebagai tempat berdagang bukan tanpa alasan. "Pasar Jongke menyediakan tiga lantai yang terorganisir dengan baik; lantai pertama untuk sayuran dan buah-buahan, lantai kedua untuk sembako dan bumbu dapur, serta lantai ketiga untuk kuliner," jelas Suryani.
Struktur pasar yang terencana ini memudahkan pengunjung untuk menemukan kebutuhan mereka, menjadikan Pasar Jongke pilihan strategis bagi para pedagang dan konsumen. Apalagi Pasar Jongke berada di pinggir jalan raya.
Pasar ini seluas 13.000 meter persegi direnovasi tahun 2024 dengan anggaran Rp 138 miliar. Sekarang mampu menampung 1500an pedagang. Ada tiga lantai. Lantai satu untuk los zona basah termasuk daging di lantai satu. Kios kelontong dan pasar kabangan di lantai dua. Sedangkan lantai tiga untuk kuliner dan kantor Pasar Jongke.
"Bakmi per bos saya sering menjadi pilihan utama pelanggan, karena rasa yang konsisten dan kualitas bahan baku yang terjaga membuat pelanggan selalu kembali," kata Sunani.
Keberhasilan produk ini menjadi salah satu alasan mengapa Sunani tetap setia berdagang di Pasar Jongke.
Pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi berbagai sektor, termasuk perdagangan di Pasar Jongke. Namun, Sunani mencatat bahwa jumlah pengunjung tidak mengalami penurunan drastis.
"Meskipun pandemi melanda, pasar ini masih cukup ramai. Bahkan saat diberlakukan pembatasan darurat, pengunjung tetap ada meskipun tidak sebanyak sebelum pandemi," jelasnya. Ketahanan pasar ini menunjukkan pentingnya peran Pasar Jongke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mengenai kebersihan dan fasilitas, Sunani memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya yang dilakukan di Pasar Jongke. "Fasilitas dan kebersihan di sini sudah sangat baik. Meskipun demikian, perbandingan harga sembako di Pasar Jongke hampir sama dengan pasar tradisional lainnya," tutur dia. (Umi Nuri Nurcahyati, mahasiswa prodi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta magang Tribunjateng.com).
| Berharap Aktivitas Berjualan Didukung, Ratusan Pedagang Jl Vihara Pindah ke Pasar Wage Purwokerto |
|
|---|
| "Naruh Terong Aja Sudah Penuh" Curhat Pedagang Jalan Vihara Pasar Wage Purwokerto Usai Direlokasi |
|
|---|
| Pendekatan Humanis, Pedagang Jalan Vihara Pasar Wage Purwokerto Bersedia Ditata dan Direlokasi |
|
|---|
| Lebaran Jadi Titik Balik, Pedagang Pasar Wage Purwokerto Legawa Tinggalkan Jalan Vihara |
|
|---|
| Pedagang Malam Pasar Bitingan Kudus yang Enggan Pindah ke Pasar Saerah Bentangkan Spanduk Penolakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pasar-Jongke-Solo-yang-diresmikan-Juli-2024.jpg)