READERS NOTE
Jaga Kesehatan Mental di Masa Pensiun
Kebanyakan orang, terlalu fokus terhadap pertumbuhan anak secara jasmani maupun rohani. Sehingga abai menjaga kesehatan fisik maupun mental
Jaga Kesehatan Mental di Masa Pensiun
Oleh Ruth E Johannes
Magister Psikologi Unika Soegijapranata
BERDASAR hasil Asia Care Survey, menunjukkan 56 persen responden mengalami burnout atau kelelahan fisik dan mental dalam kehidupan sehari-hari di masa pensiun. Orang tua sebagai individu yang utuh perlu dukungan secara emosional dan moral agar dapat mengemban tanggung jawab sebagai pilar dan tulang punggung keluarga.
Kebanyakan orang, terlalu fokus terhadap pertumbuhan anak secara jasmani maupun rohani. Sehingga abai menjaga kesehatan fisik maupun mental di masa pensiun. Yang pada akhirnya banyak orang tua mengalami burnout atau stres.
Banyak faktor pendukung burnout pada orang tua. Antara lain kurang istirahat. Orang tua juga butuh pola hidup yang sehat dan baik, bukan hanya anak-anak yang diasuh. Memiliki pola hidup yang sehat dan teratur akan berdampak bagi kesehatan emosional dan fisik orang tua. Dengan istirahat yang cukup maka orang tua punya energi menghadapi tanggung jawab yang diemban.
Faktor penyebab burnout pada orang tua disebabkan rasa tanggung jawab yang berlebihan dalam mengasuh anak. Memiliki harapan yang baik atas bagaimana cara mendidik anak bukanlah hal yang salah. Namun, orang tua perlu realistis dalam menjalankannya.
Kesadaran bahwa menjadi orang tua pun tak luput dari salah dan menerima bahwa orang tua sudah berusaha yang terbaik walaupun mungkin hasilnya belum sesuai. Hal ini merupakan kesadaran penting.
Burnout juga dipicu oleh konflik tanggung jawab yang diemban orang tua. Orang tua yang bekerja memiliki dua tanggung jawab secara bersamaan, tentu tidak mudah. Dilema yang dirasakan sering berputar antara tanggung jawab memenuhi kebutuhan finansial keluarga atau tanggung jawab mendidik dan mengasuh anak-anak.
Masa Pensiun
Menurut data dari BPS jumlah pensiunan dari ASN tahun 2023 mencapai 177.767 orang. Dan 167.979 ASN akan memasuki masa pensiun tahun 2024. Sehingga ada lebih dari 300.000 ASN menghadapi masa pensiun di periode 2023-2024.
Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi individu yang memasuki masa pensiun. Perubahan kebiasaan dan tanggung jawab yang terjadi tidak seimbang dengan tanggung jawab utama yang masih harus diemban sebagai ayah atau ibu yang menafkahi keluarga.
Kondisi keluarga pensiunan ASN beragam. Ada orangtua memasuki masa pensiun di saat kondisi anak-anak sudah menikah dan berkeluarga kecil. Namun tidak sedikit orangtua pensiun di mana anak anak masih sekolah atau kuliah. Artinya anak-anak masih butuh biaya dan perhatian khusus, di saat kondisi orang tua juga sangat butuh perhatian.
Kestabilan Psikologis
Apapun kondisi keluarga yang dihadapi dalam transisi ini adalah kestabilan psikologis individu yang memasuki masa pensiun. Hal ini sering terjadi namun bukan suatu hal yang memalukan untuk diakui atau dirasakan. Perasaan hampa karena kehilangan peran profesional yang selama ini dijalani, kehilangan komunitas atau tim kerja merupakan hal yang lumrah dirasakan.
Akan tetapi hidup harus tetap berjalan, apa yang bisa dilakukan jika hal ini terjadi. Perlu ada dukungan dari orang-orang terdekat secara emosional. Setiap anggota keluarga tetap mengambil peran untuk saling mendukung dan menghormati melalui masa-masa transisi. Tidak hanya sampai di situ, keterlibatan dalam kegiatan sosial juga akan membantu.
Konseling Berkala
Dalam hal ini pemerintah bisa mengambil peran dalam membantu pensiunan ASN yang sedang atau akan memasuki masa pensiun. Peran yang diambil bisa dengan diadakannya konseling berkala selama satu tahun untuk membantu memelihara kesehatan psikologis para pensiunan ASN.
Atau dengan adanya workshop berkala untuk membantu memelihara soft skill atau kemampuan kognitif setiap individu. Perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk tetap terus mendukung para pahlawan negara dan keluarga yang sudah mengabdi dan mencurahkan diri sepenuh hati pada Bangsa Indonesia dan keluarga mereka.
Peran Pasangan
Pasangan memiliki peran penting dalam hal ini. Embanan tugas menjadi orang tua bukan hanya tanggung jawab seorang ibu atau seorang ayah saja. Namun, ini merupakan tanggung jawab bersama sebagai pasangan. Itulah mengapa orang tua perlu saling kerjasama dan saling menguatkan.
Pasangan perlu mengambil peran untuk berbagi tanggung jawab dalam mengasuh anak. Hal ini bisa dimulai misalnya dengan melakukan kolaborasi antara mengasuh anak atau mengurus pekerjaan rumah sehingga pasangan merasa terbantu.
Perlu adanya dukungan emosional merupakan peran kunci yang menjadi tanggung jawab pasangan. Mendengarkan keluh kesah mungkin bukanlah hal yang menyenangkan setelah lelah beraktifitas seharian. Bagaimanapun juga pasangan kita butuh tempat untuk berbagi cerita atau bahkan hanya sekedar didengar.
Mendengar dengan penuh rasa empati dan menghargai segala usaha yang telah dilakukan oleh pasangan kita sangat membantu untuk mendukung pasangan kita secara emosional. Karena dengan hal ini orang tua akan saling mengerti dan memahami kalau mereka tidak sendiri dan memiliki teman yang aman dan nyaman untuk berbagi.
Bisa juga dengan melakukan kegiatan bersama, memperkuat hubungan positif, pergi ke tempat ibadah bersama dan berwisata juga bersama. Ikatan kasih sayang pasangan di usia tua yang makin kuat, bisa dibagikan kepada anak-anak mereka. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ruth-E-Johannes-Magister-Psikologi-Unika-Soegijapranata.jpg)