Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Luhut Sentil Pengamat Kritisi Program Makan Bergizi: Kaji Dulu, Jangan Asal Serang

Luhut minta pengamat tak asal kritik Program Makan Bergizi Gratis Prabowo-Gibran. Semua pihak diminta kompak dukung program pemerintah.

Tayang:
TRIBUNJATENG/Agus Iswadi
LUHUT SILATURAHMI - Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan memberikan keterangan kepada wartawan setelah silaturahmi ke kediaman Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo wilayah Sumber Kecamatan Banjarsari Kota Solo pada Senin (31/3/2025). Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan kritik tajam kepada pihak-pihak yang terus menyerang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLOKetua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan kritik tajam kepada pihak-pihak yang terus menyerang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dalam kunjungannya ke kediaman Presiden Jokowi di Solo, Senin (31/3/2025), Luhut menegaskan bahwa kritik tanpa data hanya akan mempersulit jalannya pemerintahan yang baru seumur jagung ini.

“Pengamat-pengamat yang bicara tanpa data hanya membuat suasana nasional makin keruh dan mempersulit Presiden Prabowo dalam menjalankan tugasnya,” ucap Luhut kepada awak media.

Luhut meminta semua pihak untuk menahan diri dan memberi ruang kepada Prabowo-Gibran agar bisa menjalankan program-programnya dengan baik, termasuk MBG yang kini mulai diterapkan.

Program MBG, menurut Luhut, sudah melalui proses kajian yang melibatkan ahli dari berbagai bidang, termasuk Profesor Arif N M Ansori, pakar kemiskinan dari Universitas Airlangga.

Ia menyebut program ini punya potensi besar dalam menangani masalah gizi dan ketimpangan sosial.

“Program ini sudah dikaji oleh pakar. Jadi jangan buru-buru menilai. Semua butuh proses, apalagi program sebesar ini,” ujarnya.

Luhut juga menyinggung pentingnya menjaga kekompakan nasional.

Ia menilai, mendukung kebijakan pemerintah yang positif jauh lebih bermanfaat dibanding terus menyerang tanpa dasar.

“Jangan kita torpedo program yang baru dimulai. Kita juga harus menghargai karya dari pemimpin sebelumnya. Budaya Indonesia itu gotong royong dan kompak,” tegasnya.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia tidaklah sederhana, apalagi di tengah ketidakpastian global.

Oleh karena itu, kekompakan antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama.

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved