Semarang
Warisan Tanpa Arah: Iin dan Pencarian Jati Diri Batik Semarangan
Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma .
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma seperti kayu basah, Minggu (13/4/2025).
Tangannya bekerja pelan, mencanting pola pada selembar kain putih. Ditemani suara kompor parafin dan detak jam di dinding.
Tapi di ruang itulah, sejarah kota ini sedang ditulis ulang. Perlahan dengan tangan dan tekad, lewat selembar kain.
Sudah 19 tahun Iin bertahan sebagai pembatik, untuk melestarikan warisan batik Semarangan yang masih hidup hingga hari ini, sebagian besar ditopang dari goresan canting seperti yang dia lakukan.
Dia adalah satu dari segelintir pembatik tulen yang lahir dari sebuah kampung yang dinamakan kampung Batik Semarang dari tahun 2006.
Tahun 2006, Dinas Perindustrian Kota Semarang melakukan revitalisasi Kampung Batik. Dari pelatihan yang diikuti sekitar 20 orang, hanya satu yang benar-benar bertahan menjadi pembatik aktif yakni Iin.
Dia langsung terjun setelah pelatihan.
Tapi saat itu ia belum berani mempublikasikan karyanya. Produksi masih terbatas, rumah pun masih sewa.
Namun cerita tentang kebangkitan Kampung Batik terlanjur menyebar luas, dikemas berlebihan oleh media dan birokrat yang gemar memoles realita.
“Banyak wisatawan datang, cari batik, mereka tidak sekedar cari tapi ingin tahu betul tentang batik Semarangan. Tapi enggak semua tahu saya produksi," jelas Iin sembari menembok kain putih dengan malam.
"Karena kebanyakan disini adalah pedagang batik. Jadi pas mereka lihat realitanya, kecewa. Dibilangnya Kampung Batik hanya Gimik,” kenang Iin.
Pada 2008, Dinas meminta bantuannya untuk meluruskan informasi yang keliru. Saat itu, hanya ada dua perajin aktif dirinya dan satu pembatik di dekat masjid.
“Saya enggak mau lagi cerita berlebihan. Yang penting nyata. Biar pengunjung enggak tertipu ekspektasi,” ujarnya.
Antara Pedagang dan Pembatik
Hari ini, nama Kampung Batik memang dikenal. Tapi bukan karena banyaknya pembatik. Justru, yang dominan adalah pedagang. Banyak dari mereka hanya menjual batik dari daerah lain: Pekalongan, Solo, Jogja. Lalu dilabeli “Semarangan".
Meski dinas memberikan pelatihan, namun kebanyakan dari masyarakat tak sabar dan memilih untuk menjadi pedagang agar perputaran uang lebih cepat.
“Kadang orang datang, nanya mana batik Semarangan, tapi yang saat itu produksi cuma saya. Kalau dijual terus sebagai kampung perajin, ya itu salah,” kata Iin.
Selain itu banyaknya bakul batik di kampung itu, dirasa membuat perajin batik baru merasa pesimis. Mereka takut karya dan waktunya yang dituangkan pada selembar kain kalah dengan kain jadi dari para pedagang.
Meski demikian, Iin memilih jalan yang berbeda memproduksi sendiri, melatih SDM sendiri.
Pengalamannya itu terkadang membuat dirinya menjadi mentor bagi para kelompok PKK, murid sekolah, mahasiswa ataupun pelaku UMKM yang mau merintis.
Namun bertahan sebagai pembatik di Semarang tak mudah. Bahan baku susah dicari harus beli ke luar kota. SDM loyal dan punya totalitas pun jarang.
“Orang Semarang dasarnya lebih keberdagang. Mereka tak sabar menikmati proses,” katanya getir.
Warisan Tanpa Arah
Batik Semarang adalah warisan yang belum selesai. Tak seperti Solo atau Lasem, motif-motif batik Semarang tidak punya pakem yang kuat.
Apalagi batik Semarangan dipengaruhi Belanda, Tiongkok, dan Keraton. Karakternya cair, cenderung bebas, tapi itu pula yang jadi soal.
Iin sendiri sempat melakukan riset yang panjang untuk mencari tahu jatidiri dari batik Semarangan, yang ditahunya batik Semarangan adalah motif pesisiran, yang ramai akan motif floral.
Pada tahun 2007, Istri Walikota Semarang, Sinto Sukawi mengusulkan bahwa Batik Semarang itu adalah batik motif fengan flora fauna yang dibuat oleh orang Semarang, di Kota Semarang, dengan memberdayakan warga Semarang, dengan warna-warna cerah.
Hanya saja, yang paling menonjol pada batik Semarangan adalah karakternya yang kuat dan memiliki "rasa".
Terdengar seperti sesuatu hal yang abstrak, namun bisa dipahami ketika menjejerkan dua batik dengan motif yang sama antara batik Semarangan dengan daerah lain.
Untuk mengembangkan batik Semarangan, diberikan saran oleh Sinto Sukawi agar menggunakan ikon kota seperti Lawang Sewu, Tugu Muda dan Warak Ngendok sebagai pemicu kreativitas para pembatik.
Sayangnya, niat itu disalahpahami. Motif-motif itu malah dijadikan pakem, dan para pembatik yang tak melakukan riset hanya berkutat pada motif itu saja.
Apalagi, ASN diminta memakai batik dengan motif yang sama terus-menerus. Seolah hal itu membuat kreativitas pembatik terkurung.
“Seni itu enggak bisa dibatasi. Motif yang dibakukan itu bikin kami buntu. Motif-motif itu mudah dijiplak, tidak punya kedalaman spiritual,” katanya.
Dia percaya, batik adalah ekspresi jiwa. Ada filosofi, ada doa, ada getaran dalam tiap guratan. Ketika itu dibatasi, maknanya pudar.
Hari ini, di Kampung Batik Gedong Nomor 430, Iin mengelola Cinta Batik Semarang. Ada sepuluh pembatik di bawah naungannya, baik tulis maupun cap.
Sebagian menggunakan pewarna alam berbahan dasar kulit kayu, daun yang difermentasi, kulit buah.
Produk mereka pernah dipamerkan sampai ke Singapura. Terkadang juga ada tamu yang datang dari berbagai benua eropa seperti Belgia, Prancis, dan sebagainya.
Harga batiknya bervariasi mulai dari Rp90 ribu untuk sintetis, hingga Rp200 ribu ke atas untuk batik tulis.
Omzetnya berkisar Rp20–35 juta per bulan. Penjualannya dilakukan online dan offline namun lebih banyak pembeli datang ke galerinya sekaligus untuk mengenal batik Semarangan lebih dalam.
Kini, batik Semarangan memang belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Tapi mungkin, bentuk itu tak akan pernah tunggal. Mungkin batik Semarang justru hidup dalam keberagaman, dalam kegelisahan, dalam proses pencarian yang belum usai.
Dan di tengah semua itu, Iin Windha tetap mencanting. Tidak untuk memenuhi pesanan. Tapi untuk menghidupkan ulang batik Semarangan yang krisis identitas agar kota ini tak lupa siapa dirinya.
Tergabung dalam Rumah Kreatif BUMN BRI Semarang
Dalam perjalanan Iin tak sendiri, dia juga menjadi UMKM binaan BRI serta tergabung dalam rumah Kreatif BUMN BRI.
Ada beragam manfaat yang dia dapatkan, utamanya untuk mengenalkan dan mengedukasi kepada masyarakat tentang Batik Semarangan.
Iin bisa mengakses program seperti BRiLian Preneur yang memberinya akses ke pelatihan manajemen, foto produk batiknya, ekspor, dan e-commerce agar kain yang berisikan pesan Iin tentang batik Semarangan semakin mendunia.
Pada tahun 2022, Iin tercatat menjadi UMKM binaan BRI. Cerita itu bermula saat Iin melakukan pameran di Bandara Ahmad Yani dan ditawari oleh BRI. Apalagi untuk menjadi UMKM BRI tak perlu memiliki pinjaman.
"Baru bergabung 2022, itu pertama kali ikut pameran lagi, terakhir saat Covid-19 saya sudah nggak pernah pameran, akhirnya saat itu diajak pameran di Angkasa Pura, bersama UMKM binaan BRI," ujarnya
Produk batik buatannya diakui oleh tim kurator pihak BRI, sehingga hal itu yang membuat Iin mendapatkan fasilitas binaan dari BRI, untuk mendapatkan segudang ilmu peningkatan kualitas UMKM.
"Terus ada kegiatan BRIlianpreneur. Saya coba ikut kurasi dan masuk. Kemudian ikut pameran ke Jakarta. Jadi tolak ukur produk kita layak jual itu jika bisa ikut pameran di luar Kota Semarang," sambungnya.
Menurutnya, BRI sangat membantu promosi dan pemasarannya.BSelain itu, Iin juga bergabung dengan Rumah BUMN Semarang. Sehingga ia mendapat beberapa fasilitas pelatihan dari Rumah BUMN.
Sementara itu, Koordinator Rumah Kreatif BUMN BRI Semarang, Endang Sulistiawati menjelaskan bahwa Iin merupakan satu dari 3.000 pelaku UMKM di Rumah BUMN.
Mereka memiliki tujuannya masing-masing untuk bergabung di Rumah Kreatif BUMN BRI Semarang.
Ada yang bergabung untuk mempertahankan ideologinya dibalik produk UMKMnya, namun juga ada yang menginginkan produknya bisa dikenal dan dibeli oleh masyarakat luas hingga mancanegara.
Endang menjelaskan bahwa berbagai program dari rumah BUMN akan membantu menggapai mimpi dari pelaku UMKM.
Dia menjelaskan bahwa Rumah BUMN berkomitmen memberikan bantuan kepada para UMKM agar naik kelas.
"Kami memberikan bantuan go modern, go online, go digital, bahkan go global, ini tujuannya untuk membantu para pelaku usaha agar tidak stak dan bisa terus berkembang," jelasnya.
Para UMKM, juga mendapat beragam fasilitas yang diberikan rumah BUMN meliputi pelatihan gratis, modul gratis, dan pendampingan. Pihaknya juga memfasilitasi bazaar, untuk memperkenalkan produk UMKM dan fasilitas penunjang lainnya seperti bantuan legalitas. (Rad)
| Supriyatun 40 Tahun Berjualan Nasi di Semarang, Kini Naik Haji Usai Nabung Rp 10 Ribu Sehari |
|
|---|
| Kota Semarang akan Memulai Rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-479 Melalui Launching |
|
|---|
| Musda HDII Jateng 2026, Penguatan Ekosistem Jadi Sorotan Utama |
|
|---|
| 65 Rumah di Gedawang Banyumanik Terdampak Puting Beliung, Pemkot Semarang Beri Bantuan |
|
|---|
| Gara-gara Tikus, Petani di Tegalwaton Semarang Empat Kali Gagal Panen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/MEMBATIK-Iin-Windha-Pembatik-sekaligus-pemilik-UMKM-Cinta-Batik.jpg)