Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banjarnegara

Bangkrut Gegara Ikut Ritual Dukun, Usaha Simun Bersinar Usai Perbaiki Ikhtiar

Simun pernah tak percaya kesuksesan adalah buah dari proses kerja keras. Karenanya, ia yakin ada jalan pintas.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG/Choirul Muzaki
LAYANI PELANGGAN- Simun memasak mi rebus pesanan pelanggan di warungnya, Desa Kesenet Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Sabtu (19/4/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Simun pernah tak percaya kesuksesan adalah buah dari proses kerja keras. Karenanya, ia yakin ada jalan pintas. 


Pertama kali merintis usaha warung nasi goreng di Bandung, 2004 lalu, ia frustasi karena dagangannya selalu sepi. 


Berbanding terbalik dengan temannya, sesama penjual nasi goreng, dimana warungnya selalu ramai diserbu pembeli. Ia penasaran mengapa warung temannya bisa laris. 


Warga Desa Beji Kecamatan Banjarmangu itu memberanikan diri untuk bertanya. Temannya blak-blakan mengaku menggunakan jasa dukun untuk melancarkan usahanya. Simun langsung mencoba mengikuti jejak temannya. Ia pergi ke dukun yang ditunjukkan temannya. 


Simun menghadap sang dukun yang di depannya sudah siap panci tertutup lembar kulit kijang. Aura mistis mulai menyala. Simun ditanya keluh kesahnya. Sambil membaca mantra, sang dukun mulai menerawang. 


“Saat disebut usaha saya nasi goreng, kulit kijang di panci diam saja. Tapi giliran disebut usaha gorengan, kulit itu terangkat. Kesimpulan dukun, berarti saya cocoknya jualan gorengan,”katanya, Sabtu (19/4/2025).


Simun mencoba mengikuti arahan dukunnya. Ia rela menutup usaha nasi goreng yang selama ini ia tekuni, lalu beralih menjual gorengan.  Ia sampai mencari modal tambahan. 


Tapi bukannya untung, saat dipraktikkan, ia malah selalu tombok karena gorengannya tidak laku dijual.   Ia sampai kehabisan modal. Usaha gorengannya pun gulung tikar. 


Ramalan sang dukun ternyata hanya tipuan. Namun Simun belum putus asa percaya paranormal. Ia masih berusaha mencari dukun lain yang lebih sakti. 


Hingga ia menemukan dukun Jawa di lereng gunung terpencil Banjarnegara


Sang dukun memberikan syarat dan ritual agar usahanya lancar. Ia harus mencampur makanan yang dia jual dengan kemenyan. 


Simun juga wajib melakukan ritual. Ia harus menyalakan dupa sebelum berangkat jualan. Dupa yang ditaruh di gerobak harus ditunggu sampai mati,  baru ia boleh jalan. 


Simun menurutinya. Apapun akan dia lakukan asal bisa cepat sukses dan kaya. Saat teman-temannya sudah berkeliling jualan, Simun masih belum beranjak dengan gerobaknya. Ia menghadap dupa sampai nyalanya padam. 


Ia menghabiskan beberapa waktu hanya untuk menyelesaikan ritual sebelum berangkat dagang. 


Alih-alih omzetnya meningkat, dagangan Simun semakin sepi karena telat berangkat. 


Justru teman-temannya yang berangkat lebih dulu untuk berdagang, lebih banyak mendapat pelanggan.


“Teman-teman saya sudah berangkat duluan, mereka dapat pelanggan lebih dulu.  Saya karena berangkat jualan nunggu dupa mati, sudah gak kebagian pelanggan,”katanya


Ini adalah puncak kekesalannya kepada dukun yang mengaku orang pintar. Ia berkesimpulan, dukun dimanapun tidak ada yang bisa menjamin nasib seorang. 


Sempurnakan Resep


Simun tidak percaya kemampuan dukun lagi. Ia memutuskan meninggalkan dunia supranatural yang menyesatkan. Simun mulai percaya dengan kemampuan diri sendiri. 


Ia memperbaiki ikhtiar. Selebihnya ia pasrah kepada Tuhan. 
Simun membuka warung nasi goreng baru di Desa Kesenet Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Tahun 2016. 


Ia merintis usaha kembali dengan jiwa yang beda. Seperti yang sudah-sudah, ia mengawali usaha dengan penuh perjuangan. Mulanya ia hanya punya segelintir pelanggan. 


“Saat pertama buka, laku hanya 8 porsi,”katanya


Simun bahkan terpaksa membuang nasi yang sudah terlanjur dimasak, tapi tidak laku dijual. Ia melempar nasi itu ke kolam untuk dimakan ikan. 


Nasi yang terbuang adalah kerugian. Ia sedih karena melahirkan kesia-siaan.  


Tapi dalam menyikapi kesulitan itu, ia tak lantas mengambil jalan pintas seperti sebelumnya. Simun tak mau menghubungkan kondisi warungnya yang sepi dengan dunia supranatural. 


Simun fokus mengevaluasi diri. Ia memilih meneliti penyebab warungnya sepi. Ia mengoreksi segi pelayanannya yang kurang, atau rasa yang tak sesuai harapan pembeli. 


Selama setahun dagangannya sepi, ia tak lantas frustasi. 
Ia sembari terus melakukan trial and error dan menyempurnakan resep makanannya agar lebih disukai pembeli. 


“Jadi setahun itu gak nutup, yang beli bisa dihitung jari. Tapi saya terus perbaiki apa yang kurang di warung saya,”katanya


Berkat kesabaran dan perjuangan tanpa henti, Simun perlahan memetik hasil. Ia merasa masakannya semakin enak setelah memperbaiki resep. Buktinya, pelanggannya terus bertambah. 


Bukan hanya soal rasa, ia memperbaiki pelayanan dan lebih ramah kepada pelanggan.  Porsi jumbo sajian dengan harga terjangkau juga jadi keunggulan warungnya. 


Ia tak segan menerima komplain, bahkan meminta masukan kepada pelanggan terkait kekurangannya, baik terkait rasa maupun pelayanan.   


Bagi Simun, kritik jujur pelanggan sangat penting sehingga ia tahu kekurangan dan segera bisa memperbaikinya demi kemajuan.


“Daripada ke dukun, ternyata lebih bagus introspeksi diri, apa yang kurang sehingga sepi. Itu saya lakukan sehingga berhasil,”katanya

Warung Simun semakin dikenal hingga selalu ramai diserbu pelanggan. Seterusnya Simun tinggal menjaga kualitas dan pelayanan. 

Namun, seperti usaha lainnya, bisnis Simun sempat surut saat pandemi Covid 19 melanda, tahun 2020. 


Bukan karena pelanggannya kabur, tapi kondisi ekonomi yang lesu membuat daya beli masyarakat turun.  Ditambah aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang memberatkan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sepertinya. 


Bagaimana tidak, ia yang baru membuka warung saat Magrib, oleh aparat dipaksa tutup pukul 21.00 Wib. Padahal, saat situasi normal, ia biasa buka sampai dini hari. 


Padahal, tanpa dibatasi waktu pun, warungnya sudah sepi karena daya beli menurun. 


“Gak dibatasi waktunya saja sudah sepi, orang takut mau jajan kalau tertular Corona. Lha ini apalagi waktunya dibatasi,”katanya


Pencabutan PPKM jadi angin segar baginya seiring dengan pelonggaran aktivitas masyarakat. Usahanya kini berangsur bangkit, meski omzetnya belum 100 persen pulih seperti sebelum pandemi. 


Ia merasakan perekonomian masih lesu yang memengaruhi turunnya daya beli. Tapi Simun sudah terlatih untuk bersabar. Ia sudah berulangkali menghadapi ujian yang lebih berat dari sekarang ini. 


“Sekarang Alhamdulillah sudah mulai bangkit. Tapi belum bisa seperti dulu,”katanya

 


Modal KUR BRI, Tanam Sayur Sendiri


Simun memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk menopang usahanya. Ia bahkan mengaku sudah tiga kali mengakses modal ke BRI lewat program tersebut. 


Tidak sulit baginya mengakses KUR karena petugas atau mantri sudah mengetahui usahanya yang bisa diandalkan. 


“Saya sudah 3 kali ini, setelah lunas nambah lagi,”katanya


Menariknya, Simun punya cara tersendiri untuk memperbesar keuntungan. Ia tak hanya mengandalkan omzet warung untuk menentukan laba.


Berapapun omzetnya, jika modal produksi tinggi, maka laba bersih yang didapat minimal. 


Karena itu ia berusaha menekan modal agar keuntungan yang dia dapat lebih maksimal. 


Simun yang tinggal di desa punya beberapa petak lahan pertanian. Ia bersyukur, dari usaha nasi gorengnya, ia bisa membeli beberapa bidang tanah perkebunan.  


Di lahan itu, ia menanam berbagai komoditas sayur, khususnya untuk kebutuhan warungnya. Di antaranya cabai dan mentimun.  


“Saya tanam Cabai dan Mentimun, karena tiap hari saya beli itu untuk kebutuhan warung,”katanya


Dengan menanam sayur yang dia butuhkan, Simun berhasil menekan modal. Sayur yang biasanya dia beli dengan harga tinggi, kini tinggal memetik di kebun sendiir. 


Ia mencontohkan, saat harga cabai tak terkendali, misal mencapai Rp 100 perkilogram, pedagang makanan pedas sepertinya dipastikan menderita. 


Tapi dengan menanam cabai sendiri, ia tak pusing saat harga cabai selangit. 

Bahkan, ia bisa mendapat keuntungan lebih dengan menjual hasil panennya. 


“Untuk kebutuhan sendiri paling hanya seberapa. Sisanya tetap dijual,”katanya


Anto, salah satu pelanggan sekaligus teman, adalah saksi perjuangan Simun membangun usahanya dari nol. 


Ia mengaku sudah berlangganan di warung Simun sejak awal usaha tersebut dibuka. 


Ia melihat kegigihan Simun dalam merintis usaha yang luar biasa. Ia yang juga pernah berjualan makanan mengaku tak sekuat dan sesabar Simun dalam merintis usaha. 


Anto menceritakan, dulu ia terpaksa menutup usahanya yang baru dirintis karena tak tahan terus-terusan merugi. Karena tak sabar, ia pun gagal.


“Tapi Simun ini kuat dan sabar, meski setahun warungnya sempat tidak laku. Memang usaha itu butuh proses, dan tidak semua pelaku usaha kuat berproses seperti dia,”katanya


Yang membuat ia ketagihan makan di warung Simun adalah menu andalan mie nyemek. Ia mengakui mi rebus di warung Simun sangat lezat dengan ciri khas kuah kentalnya. 


Ditambah topping yang banyak, mulai sayur, mentimun, daging ayam, telur, hingga sosis, kelezatan masakan itu menjadi lengkap. 


Simun punya menu pembeda dari warung serupa di tempat lain, sehingga mejadi magnet bagi pelanggan. 


“Porsinya juga banyak, satu mangkuk bisa penuh. Jadi enak dan kenyang,”katanya

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved