Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Camilan Chimu: Cita Cinta Teguh dan Herna Rintis Usaha saat Pensiun

Bagi mereka, pensiun bukan akhir karier, melainkan awal dari bentuk kerja yang lebih dekat dengan rumah dan nilai hidup. 

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM/REZANDA AKBAR D
TUNJUKKAN PRODUK: Herna dan Teguh saat menunjukan produk camilan Chimu yang mereka rintis di Jalan Erowati Utara Nomor 91, Semarang Utara, Kota Semarang. Dalam mengembangkan usaha, keduanya memanfaatkan beragam peluang yang ada, seperti bergabung dengan Rumah Kreatif BUMN BRI untuk melebarkan sayap bisnisnya. (TRIBUNJATENG.COM/REZANDA AKBAR D) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dua sejoli Teguh Christanto dan Herna Triyastuti kerap duduk berdua di teras rumah mereka.

Memandangi langit, dan bicara tentang banyak hal: anak-anak, kesehatan, juga impian membangun sebuah usaha di hari tua.

Teguh dan Herna mulai merintis sebuah merek makanan ringan rumahan yang aman, sehat, dan punya nilai. 

Baca juga: Cerita Widiyowati Jaga Kualitas Kacang Bogares, Warisan Kuliner Bercita Rasa Gurih

Dari obrolan intim itu, lahirlah Chimu.

Bukan sekadar merek usaha dagang, tapi juga ikhtiar untuk tetap sehat dan produktif di masa pensiun.

"Chimu itu dari panggilan anak-anak ke kami, kalau manggil ayah itu Chaci dan ibu itu Mamu. Terus kami putuskan untuk digabung saja. Jadi Chimu," kenang Herna saat ditemui di rumah produksi Jalan Erowati Utara Nomor 91, Selasa (29/4/2025).

Teguh, mantan sales produk IT di sebuah perusahaan swasta di Jakarta dan Herna, seorang ibu rumah tangga yang juga pegang urusan admin pada perusahaan, memulai usaha ini dengan tekad penuh.

Bagi mereka, pensiun bukan akhir karier, melainkan awal dari bentuk kerja yang lebih dekat dengan rumah dan nilai hidup. 

Ketika pandemi memaksa banyak orang tinggal di rumah, termasuk suaminya yang harus dipaksa pensiun dini, namun karena dari itu mereka justru belajar. Untuk mulai meracik resep kering kentang yang jadi andalan.

"Kebetulan kami ini punya kecocokan, saya suka dengan masak dan suami suka ngicipin dan memberikan saran ke saya," kata Herna sambil cekikikan.

Herna mengenang saat pandemi Covid-19 yang menjadi roda awal berjalannya bisnis itu, sang suami selalu memberikan wejangan kepadanya, agar usahanya tidak hanya jalan saat Covid-19 namun harus konsisten dijalankan terus menerus.

Ketika itu suami terkena pensiun dini dan akhirnya, Teguh menjalankan usahanya sepenuh hati dengan istrinya. Dari situ Herna dan Teguh mulai semangat untuk terus berproduksi, usaha sejoli itu juga didukung oleh kedua anak kembarnya. 

Herna mengenang anaknya pernah bercerita kepadanya agar tetap berproduksi dengan semangat semasa tuanya, agar Herna dan Teguh bisa tetap sehat.

Dukungan kedua anaknya itu membuat Teguh dan Herna mulai mengembangkan bisnisnya dengan kompak. 

Urusan legalitas, pemasaran, hingga jaringan distribusi. Keduanya bahu-membahu termasuk soal bahan baku, kemasan, hingga sertifikasi halal dan BPOM pun mereka urus sendiri.

Tentu saja tetap ada masa trial dan error menjadi tantangan bagi mereka, untuk membangun usaha mulai dari pemilihan bahan baku terkadang masih saja ada yang tidak pas.

“Pernah coba ambil kentang dari pasar Gede. Tapi hasilnya nggak konsisten, karena kentang itu dicampur tidak satu jenis," tutur Herna.

“Ada yang matang, ada yang belum. Akhirnya kita nemu petani kentang di Dieng. Sekarang suplai stabil dan kualitasnya terjaga.” sambungnya.

Selain produk kering kentang, kini sejoli itu memiliki produk lainnya, mulai dari keripik kentang beragam varian seperti salted egg, balado, pedas manis, dan barbeque.

Selain itu mereka juga memiliki produk ceriping pisang dengan dua varian yakni original dan coklat.  Juga produk petis, Coockies Ganjel Rel dan Granola.

"Konsep aman dikonsumsi, makannya sebisa mungkin membuat makanan memberikan yang terbaik, no msg, pewarna ataupun penyedap rasa dan pengawet. Juga menggunakan barang-barang premium yang tentunya bersertifikat halal," ujar Herna.

Produk Chimu kini sudah masuk pasar oleh-oleh di Semarang seperti Laseco, Istana Buah, Gelael, Sanitas, hingga restoran Rojo. 

Jangkauannya, dari Kota Semarang sudah sampai ke Bekasi, Bintaro, dan Jakarta. Semua ini dicapai dalam waktu dua tahun. 

Berkembang dengan Rumah Kreatif BUMN BRI

Teguh mengatakan, dalam mengembangkan usaha bersama istrinya, tentu memanfaatkan beragam peluang yang ada, seperti bergabung dengan Rumah Kreatif BUMN BRI untuk melebarkan sayap bisnisnya.

"Ikut BRI EXPO(RT) disitu dapat informasi dari distributor makanan juga banyak kenal, sama-sama membutuhkan, kami juga banyak mendapat masukan artinya bikin inovatif," kata Teguh.

"Kami sangat berterima kasih kepada BRI, bisnis matching ketemu buyer lokal kami senang. Kami punya pandangan akan approach untuk pasar ke seluruh Indonesia," jelas Teguh.

Teguh mengatakan, selama bergabung dengan Rumah Kreatif BUMN BRI tidak hanya mendapatkan fasilitas untuk melakukan pameran saja. 

Namun juga fasilitas pelatihan, seperti pemasaran, pembukuan ataupun melakukan desain kemasan tentunya berfokus pada pengembangan usaha, selain itu mereka juga mendapat akses pada bantuan modal yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Nantinya modal tersebut akan dimanfaatkan untuk investasi mesin supaya mempermudah usaha dan bantuan tenaga kerja, sembari tetap menjaga kendali atas kualitas. 

Untuk produk Banana chips, dalam sebulan seminimnya produksi 50-100 kemasan sedangkan kripik kentang seminimnya 60-100 kemasan.

Sedangkan petis 50an sebulan. Untuk produk ganola yakni segmented karena harga yang dirasa cukup tinggi.

Tingginya harga tersebut lantaran menggunakan bahan-bahan kualitas premium tidak pakai pemanis dan pakai madu asli. Biji-bijian yang berkualitas, gandum dari Australia dan pakai virgin coconut oil kemudian buah kering tanpa pemanis. Sebotol kecil Granola harga Rp40ribu.

"Kalau yang tahu bahannya itu worth it dengan harga segitu. Ya karena itu segmented," jelasnya.

Saat ini, setidaknya ada tiga reseller aktif, dan jalur daring pun tetap mereka garap lewat toko online dengan akun chimusmg.

Namun, yang paling mereka banggakan bukan omzet atau distribusi. Tapi karena mereka melakukannya berdua. 

Sepasang suami istri, di masa pensiun, yang memilih bekerja bukan hanya untuk bertahan, tapi juga untuk bermakna.

“Chimu ini adalah aktuliasi dari impian kita, semasa masih muda. Kami bermimpi untuk punya usaha saat masa tua," ujar Teguh.

Fakhrul Ihsan Saputra, petugas di Rumah BUMN BRI, menyampaikan komitmen Bank Rakyat Indonesia untuk terus mendampingi para pelaku UMKM agar dapat berkembang dan mandiri.

"Kami dengan senang hati akan membantu UMKM yang ingin bergabung. Sudah banyak UMKM yang bernaung di bawah Rumah Kreatif BUMN BRI dan telah merasakan manfaatnya," ujarnya.

Menurut Fakhrul, UMKM yang tergabung mendapat berbagai fasilitas, mulai dari pelatihan peningkatan kualitas produk, dukungan pemasaran, hingga kesempatan mengikuti pameran seperti BRI EXPO(RT) untuk mempertemukan mereka dengan calon pembeli potensial.

"Kami bantu dari sisi branding. Kadang ada tamu dari dinas atau pejabat yang membutuhkan souvenir, atau butuh pendampingan UMKM. Di situlah kami berperan menjembatani, agar pelaku UMKM bisa bertemu dengan buyer. Kalau cocok, bisa sampai ekspor," jelasnya.

Rumah Kreatif BUMN BRI terus berupaya menciptakan ruang-ruang kolaboratif agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas. (Rad)

Baca juga: Keluarga Habis Ditelan Bencana, Suwarni Penyintas Longsor Bangkit berkat Usaha Keripik Herbal

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved