Berita Jepara
Pemdes Tunggul Padean Jepara Maksimalkan Bank Sampah Secara Mandiri
Pemerintahan Desa Tunggul Pandean, Kecamatan Nalumsari, lakukan pengelolahan sampah secara mandiri untuk antisipasi sampah yang menumpuk
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Pemerintahan Desa Tunggul Pandean, Kecamatan Nalumsari, lakukan pengelolahan sampah secara mandiri untuk antisipasi sampah yang menumpuk.
Melalui pendirian bank sampah yang dikelola di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Desa ini menunjukkan langkah solutif yang luar biasa dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Petinggi Desa Tunggul Pandean, Khotibul Umam, mengatakan gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap persoalan sampah yang terus menggunung.
Baca juga: Tahun Depan, Pemkab Jepara Akan Buat Paket Wisata Keliling Desa di Kecamatan Nalumsari
“Kami di pemerintahan desa berpikir bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari desa. Maka lahirlah inisiatif mendirikan bank sampah di bawah BUMDes, sebagai langkah nyata,” kata Khotibul saat dikonfirmasi Tribunjateng, Rabu (21/5/2025).
Menurutnya sejak diluncurkan, program ini mendapat respons positif dari masyarakat.
“Alhamdulillah, sekitar 60 persen warga di sini sudah ikut berpartisipasi memanfaatkan layanan pengelolaan sampah ini," ujarnya.
Disampaikan, Bank Sampah Mandiri ini didirikan dengan bantuan dari dari PT PLN.
Adapun untuk mekanismenya saat ini, Khotibul Umam menjelaskan, petugas mengambil sampah dari rumah tangga dua kali dalam seminggu.
Bila ada permintaan pengambilan harian, pihak BUMDes siap melayani dengan skema operasional yang berbeda.
Tak hanya berhenti pada sistem pengambilan, Khotibul Umam juga mengungkapkan, ke depannya desa ini juga berkomitmen meningkatkan sistem administrasi dan operasional bank sampah ke arah yang lebih modern dan tertata.
Edukasi kepada masyarakat pun terus dilakukan agar pemilahan sampah dari rumah warga bisa menjadi budaya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Aris Setiawan, menyebut Desa Tunggul Pandean sebagai salah satu role model dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Meski belum berstatus sebagai Desa Mandiri Sampah (DMS), Tunggul Pandean menunjukkan inisiatif luar biasa. Dari sekitar 1.700 rumah tangga, hampir 60 persen telah memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Aris.
Lebih membanggakan lagi, desa ini mulai menghasilkan produk-produk dari pengolahan sampah, seperti pupuk organik kemasan 4 kg, pupuk cair, hingga sabun pencuci piring berbahan dasar eco-enzyme.
“Ini patut ditularkan ke desa-desa lain. Dari total 184 desa dan 11 kelurahan di Jepara, baru 55 yang berstatus DMS. Selanjutnya untuk Desa Tunggul Pandean akan kami dorong untuk menjadi DMS yang ke 56," lanjut Aris.
Kepala DLH Kabupaten Jepara itu pun mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Jepara juga akan terus mendorong kolaborasi agar pengelolaan sampah di Jepara semakin baik dan maksimal. (Ito)
| 2 Jam Berakhirnya Pelarian Maling Baterai Tower BTS di Jepara, Modalnya Kunci Palsu |
|
|---|
| Kisah Lansia Jepara Nekat Ambil Bayi yang Mengambang di Drainase, Beri Nama Slamet Mukali |
|
|---|
| 30 UMKM Jepara Geliatkan Wirausaha Lewat Kartini Inkubator Bisnis |
|
|---|
| Jasad Bayi Mengambang di Sungai Kedungmalang Jepara, Ari-ari Masih Menempel di Pusar |
|
|---|
| Pesona Masjid Astana Sultan Hadlirin Jepara, Peninggalan Pahlawan Nasional, Ukiran Akulturasi Budaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/BANK-SAMPAH-Suasana-DLH-Jepara-bersama-jajaran-dan-Pem.jpg)