Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Sosok R, Pelaku Pembunuhan Diplomat Muda Arya Daru?

Dalam informasi yang beredar, Arya dibunuh oleh sosok R, yang merupakan mantan kolega diduga punya relasi dengan oknum mafia diplomatik.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Andra Prabasari | Editor: galih permadi
Kolase Facebook dan Ist
PELAKU PEMBUNUHAN ARYA - Dalam informasi yang beredar, Arya dibunuh oleh sosok R, yang merupakan mantan kolega diduga punya relasi dengan oknum mafia diplomatik. Selain itu dugaan pembunuhan juga tertuju pada orang dalam di Kemenlu yang aktif di jalur diplomatik Amerika Selatan. 

Sosok R, Pelaku Pembunuhan Diplomat Muda Arya Daru?

TRIBUNJATENG.COM - Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan, masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan.

Dari hasil autopsi diplomat Kemlu, Arya Daru Pangayunan (ADP) yang beredar di media sosial, menyebut penyebab kematiannya karena dibunuh dan bukan bunuh diri ramai beredar.

Dalam informasi yang beredar, Arya dibunuh oleh sosok R, yang merupakan mantan kolega diduga punya relasi dengan oknum mafia diplomatik.

Selain itu dugaan pembunuhan juga tertuju pada orang dalam di Kemenlu yang aktif di jalur diplomatik Amerika Selatan.

Dugaan lainnya juga dari LSM Internasional, yang membocorkan lokasi Arya pada pihak ketiga.

Sementara itu Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi membantah informasi yang beredar tersebut, lantaran hal ini tidak resmi dan bukan berasal dari Kepolisian. 

“Yang menyampaikan itu siapa? Silakan ditanyakan kepada pihak yang menyampaikan" kata Ade Ary mengutip dari Tribunnews, Senin (28/7/2025).

Yang jelas, kata Ade, semua fakta-fakta yang ditemukan akan dikumpulkan sehingga nanti saat pemeriksaan ini sudah selesai semua, barulah semuanya bisa disimpulkan.

"Ada beberapa ahli yang dilibatkan, beberapa hasilnya sudah ada di tangan penyelidik," kata Ade Ary, kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (24/7/2025).

Baca juga: 1 Ponsel Arya Daru Ternyata Telah Ditemukan, Ada Laptop juga, Apa Isinya?

Terkait klaim yang beredar di media sosial tersebut, Ade Ary tidak secara langsung menyebutnya sebagai hoaks. 

Namun, ia menyatakan informasi tersebut tetap akan menjadi bagian dari bahan analisis penyelidikan.

“Saya tidak bisa menyebut (hoaks) ya, atau tidak bisa mengomentari, yang jelas itu akan menjadi bagian yang didalami oleh penyelidik.

Kami imbau masyarakat agar bijak dalam bermedia sosial dan berhati-hati dalam menyikapi informasi,” ujarnya.

Ade Ary menegaskan, proses penyelidikan masih terus berlangsung dan melibatkan berbagai ahli dari beragam disiplin ilmu.

“Beberapa hasil pemeriksaan dari para ahli memang sudah kami terima, namun masih ada yang belum.

Setelah semuanya lengkap, akan kami sampaikan secara utuh.

Setiap ahli akan diminta menjelaskan hasil pemeriksaannya sesuai kompetensinya,” jelasnya.

Ia menekankan, penyelidikan dilakukan dengan pendekatan berbasis ilmiah atau scientific crime investigation.

“Kami tetap berpegang pada prinsip pengungkapan berbasis ilmiah, dengan melibatkan berbagai ahli, pengumpulan fakta yang komprehensif, serta metode pembuktian yang ketat dan hati-hati.

Semua ini dilakukan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Arya Berada di Rooftop

Berdasarkan hasil penelusuran terbaru, diketahui bahwa Arya sempat naik ke rooftop lantai 12 Gedung Kemenlu pada malam sebelum jasadnya ditemukan.

Rekaman CCTV pada Senin (7/7/2025) malam mencatat momen saat Arya naik ke rooftop pukul 21.43 WIB. 

Ia terlihat membawa tas ransel dan kantong belanja. Namun, ketika turun, barang-barang tersebut tak lagi terlihat bersamanya.

"Diduga tanggal 7 Juli 2025, jam 21.43 WIB sampai 23.09 WIB, atau sekitar 1 jam 26 menit diduga korban berada di rooftop lantai 12 Gedung Kemenlu," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi di Mapolda Metro Jaya, Kamis (24/7/2025).

Ade Ary menambahkan bahwa penyidik masih menelusuri keberadaan tas dan kantong belanja yang dibawa Arya. 

Pihaknya juga tengah mendalami aktivitas Arya selama lebih dari satu jam berada di rooftop tersebut.

"Pendalaman tempat korban bekerja, kemudian hasil pemeriksaan saksi-saksi."

"Ini fakta yang kami temukan. Proses pengumpulan data dan bukti-bukti lainnya masih terus dilakukan," ujar Ade Ary.

"Kami masih menelusuri dan mencocokkan semua bukti yang ada. Pembuktian harus lengkap dan menyeluruh," imbuh dia.

Hingga kini, penyelidik Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah meminta keterangan dari 15 orang yang berkaitan dengan Arya. 

Mereka terdiri dari tetangga indekos, rekan kerja, hingga keluarga.

"Sampai saat ini tim penyelidik telah melakukan klarifikasi dan mengambil keterangan dari 15 orang," ungkap Ade Ary. Ia menegaskan bahwa penyelidikan berjalan tanpa hambatan dan menggunakan metode berbasis bukti ilmiah.

"Maka penyelidikan melakukan pemeriksaan dan kerja sama dengan beberapa ahli agar peristiwa yang disampaikan nantinya akuntabel, proporsional, dan hasil akhirnya transparan," pungkasnya.

Kondisi Kamar Terkunci dari Dalam

Temuan lain datang dari Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang mengungkapkan bahwa saat jasad Arya ditemukan, kamar kos tempat tinggalnya dalam kondisi terkunci dari dalam.

"Kami cek posisi kunci (pintu kamar Arya) karena sangat krusial itu. Kami cek secara fisik dan kami konfirmasi kepada penjaga kos-kosan ini karena beliau lah yang membuka pertama kali dan kami minta peragakan."

"Jadi ada dua kunci, kunci yang memang terpasang di pintunya bisa dibuka dari luar maupun dalam. Terus kunci yang memang ada di dalam yang bentuknya memang slot yang itu hanya bisa dibuka atau dikunci dari dalam," jelas Komisioner Kompolnas, Choirul Anam.

Anam menambahkan, tidak ada tanda-tanda kerusakan di dalam kamar, serta tidak ditemukan CCTV yang hilang dari area sekitar lokasi kejadian. 

Selain itu, saksi penghuni kos mengaku tak mendengar suara mencurigakan pada malam Arya diduga meninggal.

"Kami juga ada (meminta keterangan) salah satu penghuni kos-kosan yang masih belum tidur sampai jam 1-an begitu. Apakah ada suara mencurigakan? Nggak ada, suaranya hening seperti biasanya."

"Apakah kondisinya seperti biasanya? Seperti biasanya. Ditambah saat itu, hujan rintik-rintik ya," urainya.

Fakta Baru:

  • HP
  • Luka Lebam
  • Tas

Fakta baru terungkap dalam kasus kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan alias ADP (39).

Ternyata ponsel milik Arya sudah ditemukan.

Ponsel tersebut berada di dalam tas ransel milik ADP di rooftop gedung Kemlu.

Ponsel Arya ikut disorot karena besar kemungkinan bisa menjadi kunci untuk menentukan penyebab kematiannya.

Arya ditemukan tewas di kamar kosnya. 

Kondisi jasad Arya tertutup selimut. Sedangkan kepala hingga leher terlilit lakban kuning.

Dikutip dari Kompas.com, Senin (28/7/2025), Kasubbid Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, menyampaikan bahwa salah satu temuan penting adalah sebuah ponsel yang sebelumnya tidak disebutkan hilang. 

Ponsel ini ternyata berbeda dengan ponsel pribadi ADP yang digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. 

Ponsel tambahan ini masih terhubung ke laptop korban.

"Ditemukan ada handphone lain dan ditemukan juga beberapa device," ujar Reonald dalam program Berita Utama Kompas TV, Minggu (27/7/2025). 

Selain ponsel, penyidik juga menemukan laptop milik ADP. 

Dari laptop tersebut, diketahui bahwa aplikasi WhatsApp masih terhubung dengan ponsel korban. 

Hal ini memudahkan penyidik dalam menelusuri komunikasi terakhir ADP. 

"WA (WhatsApp) yang ada di HP korban dan yang ada di laptop connect. Itu agak sedikit mempermudah penyidik melakukan penyidikan," jelas Reonald. 

Luka Lebam

Sangat rapi, namun tak ada kejahatan yang sempurna.

Inilah fakta baru kematian Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan.

Mayatnya ditemukan di kamar kos dengan kondisi kepala sampai leher terbalut lakban kuninng.

Anggota Komisi III DPR Fraksi PKS, Nasir Djamil mengungkap fakta baru.

Menurut Nasir, pada tubuh Arya Daru itu ditemukan beberapa lebam.

Hal itu berdasarkan foto-foto yang ia terima mengenai kondisi jenazah Arya Daru.

Nasir menduga kalau Arya Daru bukan meninggal dunia karena keinginan sendiri, melainkan dibunuh.

Namun ia mengatakan kalau tidak ada kejahatan yang sempurna.

"Sangat rapi sebenarnya pelaku itu, karena terkunci dari dalam, kemudian dilakban. Bahkan saja juga dapat foto-foto terkait dengan kondisi korban," kata Nasir Djamil dikutip dari Kompas TV, Senin (28/7/2025).

Menurut Nasir, pada foto-foto yang ia terima, ada beberapa lebam di tubuh Arya Daru.

"Di mana seluruh jarinya itu berwarna biru, kemudian ada lebam di leher, ada lebam di pangkal tangan," ungkap Nasir.

Sehingga ia pun meyakini kalau Arya Daru meninggal dunia karena dibunuh.

"Itu menyebabkan spekulasi atau isu-isu terkait dengan korban bahwa bunuh diri dan sebagainya, itu menurut saya sangat tidak masuk akal," tegas dia.

Ia pun mengatakan kalau kasus ini menjadi tantangan sekaligus pembuktian bagi institusi Polri.

"Untuk itu sekali lagi, SCI menjadi sangat penting dilakukan oleh kepolisian untuk mengungkap misteri tadi itu," katanya.

Nasir mengungkap, beberapa lebam yang ada pada tubuh Arya Daru itu merupakan bukti adanya kekerasan fisik.

"Foto-foto itu masih ada sama saya, itu sepertinya ada kekerasan fisik yang dialami oleh korban dan itu menunjukkan bahwa tidak mungkin itu dilakukan sendiri, dan tidak mungkin kemudian tidak ada orang yang melakukannya," beber Nasir lagi.

Menanggapi hal itu, Komisioner Kompolnas Yusuf Warsyim juga mengaku sudah melihat foto-foto yang dimaksud oleh Nasir.

Namun ia tak bisa menyimpulkan apakah lebam itu merupakan sebab kekerasan atau bukan.

"Sebagian ada (lebam), apakah itu karena sebab kekerasan tentu ahli kedokteran forensik yang bisa menjelaskan," ungkap Yusuf Wasyim.

Ia pun menegaskan bahwa hal itu hanya bisa dijelaskan oleh ahli kedokteran forensik.

"Tentu ahli kedokteran forensik yang bisa menjelaskan. Itu ciri-ciri memar apakah kekerasan, apakah setiap memar itu kekerasan, itu kan yang tahu kedokteran forensik," bebernya.

Yusuf pun menyinggung soal rekaman CCTV yang memperlihatkan Arya Daru di rooftop Kemlu.

"Hanya kan ada CCTV yang almarhum ada di rooftop Kemlu, itu diduga dalam rentang waktu istri tidak bisa menghubungi almarhum," katanya.

Jika kemungkinan Arya Daru tewas dibunuh, kata dia, ada rentang waktu mulai dari pukul 21.00 WIB hingga tiba di kosan.

"Dalam rentang waktu bisa saja apakah dia itu dilakukan tindak pidana yang kaitannya racun atau apa, itu bisa saja. Kami saat melihat TKP memang meminta pendalaman dengan cermat dan teliti tentang rentang waktu itu," jelasnya.

Sehingga untuk saat ini, kata dia, masih belum disimpulkan penyebab kematian Arya Daru.

"Kami belum bisa menyimpulkan, nanti apabila ada celah ke arah sana (pidana), tentu kesimpulan lain akan gugur," jelasnya.

Tas ditemukan

Tas ransel yang dibawa ADP sebelum kematiannya ditemukan di rooftop Gedung Kemlu, tepatnya di lantai 12 di samping tangga darurat. 

Sebelumnya, ADP terekam CCTV berada di rooftop selama 1 jam 26 menit sambil membawa tas dan kantong belanja. 

Saat ia turun, tas tersebut sudah tidak terlihat bersamanya. 

"Tim penyelidik langsung mencari dan menemukan tas itu di atas. Di lantai 12, di samping tangga lantai 12," ungkap Reonald. 

Yang mengejutkan, dalam tas tersebut terdapat sejumlah barang, termasuk dokumen rekam medis ADP dari salah satu rumah sakit umum di Jakarta bertanggal 9 Juni 2025. 

Meski begitu, Reonald tidak merinci isi dokumen tersebut. 

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved