Bisnis
Respons Mengejutkan Pengelola Mall di Semarang Terhadap Fenomena Rojali dan Rohana
Fenomena 'rojali' atau rombongan jarang beli dan 'rohana' yakni rombongan hanya nanya di pusat perbelanjaan .
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Fenomena 'rojali' atau rombongan jarang beli dan 'rohana' yakni rombongan hanya nanya di pusat perbelanjaan atau mall kini sedang trending.
Mereka disebut mendapat stereotip kurang bagus karena tidak berdampak pada transaksi yang berujung dengan perputaran ekonomi.
Namun, respons mall di Semarang justru mengejutkan. Mereka tetap berpikir positif dengan rojali dan rohana.
Bahkan, fenomena itu menurut mereka dinilai bukan hal baru.
Baca juga: Potret Rojali dan Rohana di Mal Semarang
Baca juga: Rojali dan Rohana: Cermin Krisis Konsumsi dan Tantangan Etika Pemasaran di Era Jualan Online
Tipe pengunjung hanya melihat dan jarang membeli ini sudah ada sejak dulu.
Promoting Manager Mal Ciputra Semarang, Catur Agus Joko Widodo mengatakan, tipe pengunjung yang hanya melihat-lihat tanpa membeli sudah ada sejak dulu.
Hanya saja, kini diberi label khusus dimungkinkan karena kondisi ekonomi yang sedang melambat.
"Kunjungan yang tidak langsung menghasilkan transaksi itu wajar.
Bisa saja, hari ini mereka survei harga, lalu baru beli besok atau minggu depan. Itu sah-sah saja," kata Catur, Selasa (29/7/2025).
Dia menilai, kehadiran pengunjung meski tidak langsung membeli tetap memberi dampak positif bagi mal.
Rojali maupun rohana ini justru dapat mendukung tingkat belanja dibanding yang tidak datang sama sekali.
Dalam dunia ritel, papar Catur, kunjungan merupakan indikator awal yang penting dalam rantai keputusan berbelanja.
Meski tidak melakukan pembelian pada kunjungan pertama, pengunjung bisa saja kembali membeli di kesempatan berikutnya maupun menyebarkan informasi positif tentang pusat perbelanjaan yang dikunjungi kepada orang lain.
"Belanja itu bonus. Ketika seseorang datang ke mal, menikmati suasana itu sudah menjadi nilai plus bagi kami," sebutnya.
Terkait tren kunjungan ke mal, menurut dia, sejauh ini masih cukup stabil. Bahkan, perbandingan jumlah pengunjung dan tingkat belanja hingga Juli 2025 masih menunjukkan angka yang lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Orang yang berbelanja di puasat perbelanjaan masih tercatat banyak.
"Kalau dikatakan menurun sih tidak ya. Tergantung bulannya. Mei - Juni lalu bagus karena libur sekolah dan Lebaran.
Juli awal masih oke, walau akhir Juli mulai terasa penurunan karena kebutuhan sekolah sudah terpenuhi," jelasnya.
Dia berujar, pusat perbelanjaan modern kini tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, melainkan juga tempat rekreasi.
Oleh karena itu, setiap kunjungan tetap dihargai sebagai potensi ekonomi, baik langsung maupun tidak langsung. (eyf)
| Iming-iming Pencairan Cepat Jadi Umpan, Penipuan KUR BRI Marak Beredar |
|
|---|
| Askrindo Catat Premi Awal 2026 Tumbuh 10 Persen |
|
|---|
| Agen Properti di Semarang Mulai Gunakan Format "Dracin" untuk Promosi |
|
|---|
| Trend Bisnis Robotik Car Wash Mulai Masuk Semarang |
|
|---|
| Cicilan Jadi Penopang Daya Beli Warga, WOM Finance Salurkan Pembiayaan Rp5,94 Triliun di 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250728_Bertemu-Pororo.jpg)