Wonosobo Hebat

Anak Muda Maduretno Gairahkan Kembali Bundengan, Musik Bambu Khas Wonosobo

Tribun Jateng/Imah Masitoh
ALAT MUSIK BUNDENGAN - Pemuda di Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo tengah berlatih memainkan alat musik bundengan, Selasa (12/8/2025). Alat musik bundengan terus dilestarikan di desa ini. Desa Maduretno akan diproyeksikan menjadi sentra bundengan di Wonosobo. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Di kaki gunung Sumbing, dentingan bambu mengalun lembut, menenangkan siapa pun yang mendengarnya.

Bukan dari alat musik modern, melainkan dari bundengan, alat musik tradisional yang tak hanya mengeluarkan suara, tapi juga membawa cerita panjang dari Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo. 

Kini, desa ini tengah menyiapkan diri menjadi Desa Sentra Bundengan, pusat pelatihan, produksi, dan pelestarian warisan budaya Wonosobo.

Baca juga: Inovasi Pragati, Gelang Penanda Irama untuk Anak Tuli Diuji Perdana di Wonosobo

Langkah besar ini mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo yang baru-baru ini memberikan bantuan berupa 40 unit bundengan lengkap dengan sistem suara (sound system). 

Bantuan ini sekaligus menjadi titik balik bundengan tak lagi hanya alat musik sederhana, tetapi akan menjadi ikon budaya lokal dengan pusat pengembangannya berada di Maduretno.

Eko selaku Ketua Karang Taruna Maduretno sekaligus pegiat alat musik bundengan menjelaskan, asal-usul bendungan di Maduretno berawal dari kisah unik. 

Dahulu, seorang warga setempat menggunakan bundengan untuk menutupi kepala dari air hujan.

Bundengan kala itu lebih dikenal sebagai pelindung dari hujan untuk berteduh yang terbuat dari anyaman bambu atau disebut kowangan.

Ketika senarnya dipetik, terdengarlah suara yang mengundang tawa dan kagum. Dari sinilah lahir kreativitas baru, alat pelindung bisa jadi alat musik. 

Cerita ini kemudian berkembang dan dikenang sebagai momen kelahiran bundengan. Dari kisah sederhana itu, lahir warisan budaya yang kini terus dijaga.

Tokoh penting dalam sejarah ini adalah almarhum Pak Parnawi, yang pertama kali menggagas permainan bundengan di Desa Maduretno. 

Kini, estafet pelestarian seni tersebut diteruskan oleh adiknya, Pak Munir, yang berdomisili di Dusun Ngabian, Desa Maduretno.

“Dulu waktu hujan, nggak punya payung, dia bawa alat ini, malah bisa dipetik dan bunyi. Dari situ berkembang sampai sekarang,” tutur Eko.

Saat ini, pembuatan bundengan difokuskan di Dusun Ngabian, di mana para pengrajin lokal sedang menyelesaikan 40 bundengan pesanan dari program Disparbud. 

Tak hanya produksi, Ngabian juga direncanakan sebagai pusat pelatihan dan pengembangan bundengan ke depan.

Sejauh ini, Karang Taruna Maduretno telah beberapa kali menggelar pelatihan bagi para pemuda yang tertarik mempelajari bundengan. 

Antusiasme tinggi datang dari para generasi muda. Ke depan, pelatihan akan diperluas, bahkan dirancang masuk ke sekolah-sekolah sekitar sebagai program percontohan.

“Pelatihan rutin sudah kita mulai. Harapannya nanti ada kelas bundengan, terus masuk juga ke sekolah-sekolah sekitar,” ungkap Eko.

Bundengan memiliki bentuk menyerupai kerangka anyaman bambu, dilengkapi senar-senar dari nilon yang dipetik untuk menghasilkan suara. 

Komponen utama alat ini terdiri dari slumpring yakni pelepah bambu yang melapisi anyaman, kemudian senar penghasil nada, dan tali ijuk untuk mengikat slumpring pada anyaman.

Nada yang dihasilkan pun sederhana. Umumnya hanya terdiri dari senar nada 1, 2, 3, dan 4, yang dimainkan berulang, namun cukup untuk mengiringi tari dan nyanyian tradisional.

“Kalau ditanya susahnya, itu pas nyatuin tempo antara alat, penyanyi, dan penari. Harus benar-benar peka,” kata Muhammad Husni Mubarokah, salah satu peserta pelatihan alat musik bundengan.

Langkah Maduretno untuk menjadi desa sentra bundengan bukanlah mimpi kosong. Kini sudah ada dukungan dari pemerintah daerah, respons positif dari Karang Taruna Kabupaten, dan yang paling penting semangat kolektif dari masyarakatnya sendiri.

Bahkan, bundengan yang dulu nyaris hilang dari Maduretno, kini kembali menggema di tangan generasi muda. 

Baca juga: Pemkab Wonosobo Luncurkan Call Center Protokol untuk Perkuat Koordinasi Kedinasan

Pelatihan rutin digelar seminggu sekali di Balai Desa, dan sudah ada sekitar 15 anak muda yang aktif berlatih.

“Harapannya sih bundengan bisa makin dikenal dan dilestarikan. Jangan cuma jadi cerita orang tua,” ujarnya.

Dengan akar sejarah yang kuat, dukungan pemerintah, dan semangat anak-anak muda, Maduretno bukan hanya menyelamatkan budaya namun juga menghidupkannya kembali. (ima)