Lipsus

Kontraktor Molor Didenda 24 Juta Per Hari

Editor: rustam aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI -pelebaran jalan dan perbaikan di Krapyak Semarang, Agustus 2014

Semarang, Tribun - Pemerintah Provinsi Jateng terus memantau proyek perbaikan jalan rusak yang masih tersisa rata-rata sekitar 23 persen. Jika pekerjaan molor, Pemprov akan memberi sanksi kepada kontraktor.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan pihaknya terus mendorong progres pembangunan jalan agar selesai tepat waktu. Hal ini berkaitan dengan matrik pelaksanaan (time table) anggaran. "Pembangunan jalan harus selesai tepat waktu. Kemarin sudah dievaluasi, progresnya harus terus didorong karena nantinya akan berkaitan dengan time table anggaran," ujarnya, Kamis (20/11).

Jika sampai batas waktu yang ditentukan ada pekerjaan yang belum selesai, Ganjar akan beri sanksi kepada pelaksana proyek atau kontraktor. "Kalau pekerjaan molor, pasti akan ada sanksi untuk kontraktor," ujarnya.

Dinas Bina Marga Jawa Tengah memberikan batas waktu hingga 15 Desember (bukan 11 Desember) kepada kontraktor untuk menyelesaikan proyek pembangunan jalan yang menggunakan biaya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Demikian dikatakan Kepala Bidang Bimbingan dan Teknik (Kabid Bintek) Dinas Bina Marga Jateng, Hanung Triyono, kemarin. Hal senada juga diberlakukan kepada kontraktor yang menggarap proyek dengan dana Anggaran Pendapatan dan Biaya Nasional (APBN). 

Hanung berharap, tidak ada pengerjaan yang molor. "Alokasi APBD untuk infrastruktur jalan Rp 1 triliun lebih sedikit," kata Hanung.

Sejumlah proyek pembangunan jalan di Jawa Tengah diperkirakan tidak selesai sesuai jadwal 15 Desember. Pengerjaan pembetonan ruas jalan nasional di Siliwangi dan jalan Walisongo, Kelurahan Jerakah, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, misalnya, diprediksi bakal molor. Hal itu dikatakan Pengawas Lapangan Satker Jalan Nasional, Dinas Bina Marga Pemerintah Provinsi Jateng, Kasiman.

Saat ditemui Tribun di kawasan Banjir Kanal Barat (BKB), pekan lalu, Kasiman baru saja meninjau progres pembetonan di paket Siliwangi (senilai Rp 28 miliar) sepanjang 1,2 kilometer dan paket Walisongo (senilai Rp 24 miliar) sepanjang 2,3 kilometer. "Kalau prediksi saya sebagai orang lapangan, yang ruas jalan Walisongo itu kayaknya tidak selesai sampai akhir tahun. Yah, maksimal 95 persenlah, kalau cepet," katanya yakin, Selasa (18/11).

Ia lalu menjelaskan progres paket Siliwangi (Jerakah-Krapyak) dari target 95,18 persen baru terealisasi 58,65 persen. Deviasi atau kekurangannya minus 36,32 persen. Ada sekitar 200 meter empat lajur yang belum dikerjakan sejak beberapa bulan lalu (arah Semarang). Kasiman menjelaskan, ruas jalan 200 meter itulah yang selama ini jadi keluhan banyak masyarakat. Pengerjaan itu terhambat karena pihaknya harus menguruk setinggi 1,2 meter sebelum membeton.

Sedangkan untuk ruas jalan Walisongo, dari target 98,982 persen, tapi realisasi baru 53,00 persen. Ia tidak yakin kontraktor bisa menyelesaikan pada 15 Desember. Bahkan, ada beberapa kontraktor yang sudah mengajukan perpanjangan pengerjaan hingga akhir Desember.

Kasiman menyatakan, jika tidak selesai maka para kontraktor harus membayar denda. “Dendanya dihitung per hari yakni satu per seibu dikali nilai kontrak,” katanya.

Jika nilai kontraknya Rp 24 miliar seperti pada proyek perbaikan jalan Walisongo maka kontraktor molor akan dikenai denda Rp 24 juta setiap hari molor.(tim)

Berita Terkini