Nocturnal Heresy Bersyiar di Jalur Metal
Nocturnal Heresy Bersyiar di Jalur Metal
Penulis: galih priatmojo | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM - Masih ingat band Payable of Death atau POD? Band Nu-Metal yang melejit lewat single Alive dan Youth of Nation ini dikenal punya sisi religius yang kuat dari lirik-lirik lagu yang dibawakan.
Diam-diam, Semarang yang jadi barometer musik cadas, juga menyimpan band metal bermahzab sama. Namanya, Nocturnal Heresy. Band yang dirintis Alejandro 'Ale' J'Heresy dan Thorax Surealis ini berdiri sejak Agustus 1999. Ale mengatakan, para personel Nocturnal bertemu kali pertama lewat jejaring sosial. Dari kesamaan visi, mereka bergabung membentuk sebuah band trash metal.
Nama Nocturnal diambil dari kebiasaan para personel yang lebih banyak beraktivitas di malam hari. Sedangkan Heresy merupakan kata yang mempunyai makna bidah. Secara keseluruhan, Nocturnal Heresy menggambarkan aktivitas ngeband anggotanya di malam hari, yang dianggap bidah bagi banyak orang. "Nama, itu sebagai pengingat supaya kami tidak melenceng pada hal yang tidak baik," ujarnya.
Di awal kemunculannya, band yang sudah malang melintang di berbagai even musik lokal maupun nasional ini banyak membawakan lagu bertema protes dan rebel berbalut musik yang mereka sebut erotic black simphony. Dalam perjalanan waktu, dari awal berdiri, band ini mengalami beberapa kali pergantian personel. Meski begitu, mereka tetap produktif. Ini terbukti dari dua album yang diluncurkan pada 2001 dan 2003 serta satu single di tahun 2008.
"Sejak terbentuk, kami sebetulnya punya album demo bertajuk Romance in Dark Valley. Kemudian, tahun 2001 dan 2003, kami rilis full album bertajuk Freddom and Victory serta Monastery's Veil Part I. Dua album ini dirilis RA Production, produser indie Jakarta," ujar Ale, lead vokal Nocturnal Heresy.
Hampir delapan tahun konsisten di jalur underground, pada 2007, Nocturnal Heresy mengalami titik balik. Lirik lagu yang dibawakan tak lagi rebel namun beralih ke pesan syiar. Manager sekaligus salah satu motor Nocturnal Heresy, Agung Sudarmanto mengatakan, perubahan tersebut bermula ketika seluruh personel melakukan evaluasi.
Ada keinginan tak sekadar mencetak album tapi juga yang mempunyai nilai positif dan bermanfaat. "Alasannya sederhana, ketika itu karena faktor umur dan juga ingin membuat karya yang bernilai," ungkapnya.
Thorax Surealis (gitar) menambahkan, Nocturnal Heresy ingin menyebarkan energi positif dan cinta kasih di lingkungan sekitar. (VIDEO NOCTURNAL HERSY ZALZALAH)
Perubahan arah bermusik tertuang dalam single berjudul Menanti Cahaya yang rilis pada 2008. Disusul single kedua Burdah to Syahidah pada 2009 dan album The King of Babylon yang juga rilis di tahun sama.
Di pertengahan tahun 2016 ini, Nocturnal Heresy berencana merilis album ketujuh bertajuk Perisai Neraka. Album ini, menurut Thorax, spesial sebab menjadi titik puncak perubahan masa transisi dari band metal dark ke metal syiar.
Ia menyebut, Perisai Neraka berbeda dari album-album sebelumnya. Selain dari segi materi yang bernuansa dakwah, aransemen yang digunakan lebih kaya lantaran menggabungkan trash metal, arabic dan tradisional yang diwakili gendang, gamelan serta musik khasidah.
"Produksi album Perisai Neraka sudah dimulai sejak 2012. Memang prosesnya lama karena kami berproses transisi dan tema yang diusung menguras energi. Sampai sekarang, ada 4 lagu yang sudah jadi dari total 10 lagu yang disiapkan," terangnya.
Zalzalah Jadi Single Pembuka
Thorax menyebut, album Perisai Neraka berisikan lagu yang memiliki lirik sarat ungkapan filosofi dan satir. Cukup berat memang ketimbang lagu di album sebelumnya.
Ada sejumlah lagu yang dinukilkan dari surah di dalam Alquran. Satu di antaranya, single jagoan berjudul Zalzalah yang sudah dirilis awal tahun ini. Dalam lagu ini, semua lirik berdasar pada surah ke-99 dalam Alquran yakni Az Zalzalah. Single ini dirilis sebagai pembuka sekaligus pengingat agar mencintai alam sekitar, serta sang pencipta.
"Single ini bisa dibilang pengigat juga perenungan. Dalam surah Az Zalzalah diceritakan, awal terjadinya hari kemudian yang disebut kiamat. Kami ingin pendengar lebih mencintai apa yang diberikan sekarang dan mengingat pada sang pencipta bahwa semua kembali pada-NYA dan atas kuasa-NYA," jelasnya.
Selain Zalzalah, Nocturnal Heresy telah merilis dua single lain yang juga kental nuansa syiar. Yakni, Amarah gelombang I dan Amarah gelombang II. (tribunjateng/galih priatmojo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/nocturnal-heresy-zalzalah_20160228_155441.jpg)