Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dalam Lima Bulan Ada 294 Orang Terserang Penyakit Paru di Kudus

“Artinya selama lima bulan pada tahun ini sudah separuh lebih dari jumlah pada tahun 2017,”

Tayang:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: iswidodo

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Wajah Endang sayu saat menunjukkan angka  banyaknya warga Kudus yang mengidap Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Penyakit yang menyerang organ vital manusia berupa paru-paru itu sepanjang Januari sampai Mei 2018 sudah mencapai 294 orang yang terserang.

Sembari membolak-balikkan berkas, perempuan yang kini menjabat sebagai Kasi Penyakit Tidak Menular (PTM) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus mengaku prihatin. 

Pasalnya, baru lima bulan jumlah pengidap PPOK sudah separuh lebih dari jumlah total sepanjang tahun 2017 yaitu sebanyak 489 orang.

 “Artinya selama lima bulan pada tahun ini sudah separuh lebih dari jumlah pada tahun 2017,” kata Endang pada akhir Juni 2018.

Angka tersebut diperoleh pihaknya dari laporan setiap Puskesmas di Kudus.

Lantas pihaknya bukan tidak mau menanggulangi, namun karena upaya penanggulangan misalnya berupa penyuluhan kepada masyarakat terkait konsumsi rokok sangat sulit.

Sebab rokok sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat.

Sekadar diketahui, PPOK merupakan penyakit yang menyerang organ vital manusia, yakni paru-paru, hampir sama secara kasat mata dengan asma.

Sama-sama mengalami sesak napas. Hanya saja, cara penangannya pun berbeda.

“Jika asma itu karena pencetus harus menghindari pencetusnya. Tapi kalau PPOK itu riwayat perokok, jadi merokoknya itu yang harus dihindari. Merokok ini kebiasaan. Bisa menyebabkan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis),” kata Endang.

Sementara upaya lain yang  dilakukan Dinkes terhambat adanya perpindahan jabatan di lingkungan Dinkes. Pasalnya Kasi PTM mulai dibentuk pada 2017.

Adapun program yang berkaitan dengan upaya pengurangan konsumsi rokok yang sebelumnya telah dilakukan pun tidak ada tindak lanjut.

“Dari Dinkes pernah melakukan pelatihan UBM (Upaya Berhenti Merokok) saya juga tidak pernah dapat datanya. Artinya terputus. Saya kalau mau melanjutkan juga harus kerepotan,” kata dia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved