Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Adv

Satrio Tekankan Pentingnya Pembangunan Ramah Lingkungan

"Arsitektur punya peran penting dalam perubahan lingkungan, di tengah derasnya konsep arsitektur hunian modern,"

Penulis: budi susanto | Editor: rival al manaf
Dok Sibambo Studio
Satrio Dwi Ananda owner Sibambo Studio. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Arsitektur punya peran penting dalam perubahan lingkungan, di tengah derasnya konsep arsitektur hunian modern," hal itu jadi moto pemuda kelahiran 11 Februari 1993 asal Tangerang, Satrio Dwi Ananda.

Lelaki 28 yang konsen dalam bidang arsitektur itu, bahkan selalu menerapkan konsep tersebut dalam setiap projek yang ia kerjakan.

Satrio sendiri merupakan pendiri PT Sibambo Karya Internasional (Sibambo Studio), PT Sibambo Karya Konstruksi (Sicons) dan CV Sibambo Internasional (Sibambo Interior), yang semua badan usahanya fokus pada arsitektur.

Baca juga: Semarang Nge-gas Keliling Kota Bagi Sembako dan Takjil di Bulan Ramadhan

Baca juga: Angka 7 Tetap Melekat di Punggung Ciro Alves Bersama Persib, Tapi Tak Akan Ganggu Beckham Putra

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini Padang, Ramadhan Hari ke-15, Minggu 17 April 2022

Lulusan Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang, dan kini sedang melanjutkan studinya di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta itu, meyakini jika semua desain arsitektur menerapkannya desain ramah lingkungan, alam akan tetap terjaga.

"Konsep pembangunan dan pelestarian lingkungan kebanyakan bersebrangan, karena jika ada pembangunan pasti lingkaran yang dikorbankan, konsep tersebut harusnya diubah," jelasnya, Sabtu (16/4/2022).

Satrio yang telah merintis usaha arsitektur sejak masa perkuliahan itu menerangkan, konsep pembangunan harusnya beriringan dengan pelestarian lingkungan.

"Dua hal itu bukan dua konsep yang saling berlawanan, harusnya bisa berjalan beriringan. Pembangunan masif dengan konsep pelestarian lingkungan yang masif pula," paparnya.

Pria yang sengat lekat dengan dunia konstruksi itu mengatakan, regulasi terkait arsitektur juga sudah dibuat, di mana tidak boleh membangun 100 persen total lahan.

"Kan ada aturan juga pembangunan hanya boleh 60 persen dari total lahan, sisanya adalah ruang terbuka hijau. Hal itu sudah ada dalam regulasi arsitektur, dan hasrusnya diterapkan secara menyeluruh tanpa terkecuali," ucap pria yang lahir di keluarga yang bekerja di bidang konstruksi itu.

Karena lahir di keluarga yang berprofesi di bidang konstruksi, sedari kecil Satrio sering sekali mengunjungi proyek-proyek yang sedang berlangsung.

Tak hanya itu, kegemarannya membaca berbagai buku, dan memiliki target setiap tahunnya 25-30 ia baca membuatnya famah akan pentingnya konsep pembangunan yang mengedepankan pelestarian lingkungan.

"Pembangunan hijau wajid jadi acuan dalam pembangunan, jangan sampai masifnya pembangunan memperparah kerusakan lingkungan yang sudah terjadi," kata Satrio yang memiliki moto hidup long life learner, atau terus belajar untuk menjadi pribadi yang bijak dan memahami dunia tersebut.

Ia pun terus memompa diri, dan timnya dalam setiap projek yang dikerjakan, bahkan acapkali Satrio mengikuti wokshop bisnis, marketing, branding dan pengembangan sumber daya manusia, yang semuanya mengedepankan pembangunan hijau.

Kini pemuda 28 tahun itu berupaya untuk melakukan transformasi di dalam perusahaan yang ia dirikan untuk menuju perubahaan revolusi 4.0, dengan terus beradaptasi dan berinovasi mengembangkan bisnisnya di era digital.

Ia memanfaatkan sosial media sebagai ajang komunikasi kepada masyarakat untuk memperkenalkan dunia konstruksi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved