Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Khairullah Direktur Pesantren Pernah Gabung Jemaah Islamiyah Kini Didik Cinta NKRI

Dengan peci hitam, pakaian putih, dan celana panjang hitam di atas mata kaki, Khairullah berdiri tegak di sisi lapangan pada Pondok Pesantre

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Tim Video Editor

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini  video Khairullah Direktur Pesantren Pernah Gabung Jemaah Islamiyah Kini Didik Cinta NKRI

Dengan peci hitam, pakaian putih, dan celana panjang hitam di atas mata kaki, Khairullah berdiri tegak di sisi lapangan pada Pondok Pesantren Islam Baitussalam di Jalan Krajan Utara No.14, Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Minggu (17/8/2025).

Pandangannya lurus ke arah tiang bendera, menyaksikan para santri mengibarkan Sang Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya.


Sesekali ia tersenyum, sesekali menundukkan kepala, khusyuk menikmati detik-detik upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di pesantren yang dipimpinnya.


“Alhamdulillah, sampai hari ini upacara pun kita ngelatih sendiri. Sudah lebih dari seminggu persiapannya. Biasanya diambil sore setelah pelajaran selesai,” ujar Khairullah Direktur Pondok Pesantren, usai mengikuti upacara, Sabtu (17/8/2025).


Bagi Khairullah, momen kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan simbolik upacara, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme kepada para santri. 


Ia menegaskan, sejak awal para santri sudah terbiasa disiplin, bahkan ada yang membawa bekal keterampilan baris-berbaris sejak pertama masuk pesantren.


Hingga saat ini, dia berharap agar tetap mendapat pendampingan dari pemerintah baik dalam pengelolaan pondok pesantren dan sebagainya.


“Kalau bisa tetap ada pembinaan dari Kemenag atau kepolisian. Itu tetap kita butuhkan ya,” katanya.


Saat ini, pesantrennya menampung sekitar 140 santri tingkat MTs hingga MA. Selain mengaji, para santri juga diajarkan pelajaran umum seperti kimia, PKN, hingga wawasan kebangsaan. 


“Alhamdulillah, guru-guru kami juga sudah banyak yang tersertifikasi,” jelasnya.

Dari Eks-JI ke NKRI

Khairullah mengaku pernah tercatat sebagai bagian dari Jamaah Islamiyah (JI) pada 2007. 


Dia tidak sendiri setidaknya ada 10 hingga 15 orang alumni yang pernah berada dalam jaringan yang sama. 


Namun, ia menegaskan kini mereka telah bertransformasi, meninggalkan masa lalu, dan memilih jalur kebangsaan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved