Tribun Jateng Hari Ini
Harga Emas Bisa Tembus 5.100 Dolar AS Pekan Ini
Harga emas dunia dan logam mulia dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kondisi geopolitik global, perang dagang, politik AS, hingga supply and demand.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan ini, dengan peluang kenaikan masih sangat kuat.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada penutupan perdagangan Sabtu (24/1) pagi, harga emas dunia berada di level 4.985 dolar AS per ons troi.
Ini menjadi level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Sementara, harga logam mulia di dalam negeri dipatok di kisaran Rp 2,887 juta/gram.
Menurut dia, jika harga emas dunia mengalami koreksi, penurunan pertama diperkirakan terjadi ke level 4.960 dolar AS per ons troi, dan harga logam mulia turun ke Rp 2,852 juta/gram.
Namun, ia menilai, peluang kenaikan masih cukup besar. Jika harga emas dunia menguat, pada awal pekan depan diperkirakan bisa menyentuh level 5.020 dolar AS per ons troi, dengan harga logam mulia naik ke sekitar Rp 2,992 juta/gram.
"Jadi kemungkinan ada kenaikan Rp 35.000. Kemudian kalau naik lagi resisten kedua itu di 5.100 dolar per ons troi," katanya, dalam keterangannya, Minggu (25/1).
"Wow, luar biasa ya, ada kemungkinan besar ke 5.100 sampai hari Sabtu. Kemudian harga logam mulianya itu di Rp 3,092 juta/gram. Jadi sepertinya tidak mencapai di Rp 3,1 juta, tapi di Rp 3,092 juta adalah akhir bulan Februari," sambungnya.
Ibrahim menuturkan, pergerakan harga emas dunia dan logam mulia dipengaruhi sejumlah faktor utama, antara lain kondisi geopolitik global, perang dagang, dinamika politik AS, serta faktor supply dan demand.
Dari sisi geopolitik, ia menyebut, ketegangan global masih menjadi sentimen utama, meskipun isu Greenland sempat mereda. Hubungan AS dan Uni Eropa dinilai masih memanas.
Hal itu terutama berkait dengan sikap Eropa yang menolak bergabung dalam sejumlah inisiatif perdamaian yang diprakarsai AS, termasuk konflik Rusia-Ukraina dan Gaza.
"Saya melihat bahwa pada saat Trump memprakarsai perdamaian untuk Uni Eropa, memprakarsai perdamaian untuk Gaza, negara-negara Eropa tidak mau bergabung. Ya walaupun sudah ada satu kesepakatan tentang masalah Greenland," tuturnya.
"Tetapi pemimpin-pemimpin Uni Eropa sampai saat ini masih memanas hubungannya dengan Amerika, terbukti dengan Dewan ini untuk gencatan senjata di Eropa, Rusia, Ukraina, mereka pun juga menolak bergabung. Kemudian di jalur Gaza pun juga mereka menolak bergabung, itu yang pertama," tambahnya.
Selain itu, Ibrahim menyatakan, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar, menyusul pergerakan armada laut AS dan peringatan keras Presiden AS Donald Trump terkait isu Israel-Iran dan pengembangan nuklir.
Dari sisi perang dagang, dia menambahkan, meski sudah ada kesepakatan tertentu antara AS dan Eropa, ia menilai, potensi ketegangan masih ada karena rencana penerapan tarif dagang sebesar 15 persen yang dijadwalkan berlaku pada Februari.
Sementara dari faktor politik AS, pasar juga mencermati penentuan calon Gubernur Bank Sentral AS.
"Jadi ada empat orang yang kemungkinan besar akan mengerucut. Ini akan dibawa untuk fit and proper di kongres, nanti salah satu yang akan diangkat," jelasnya.
"Jadi kalau kita lihat bahwa empat-empatnya ini adalah orang bawaan dari Trump. Siapapun yang menjadi Gubernur Bank Sentral Amerika itu adalah orangnya Trump," imbuhnya. (Tribunnews/Nitis Hawaroh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Simulasi-Cicil-Emas-Antam-1-Gram-di-BRI-Cukup-Bayar-Rp-151-Ribu-per-Bulan-Ini-Rinciannya.jpg)