Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Dekati Rp 18.200/dolar AS, Rupiah Masih Hadapi Tekanan Domestik dan Global

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin (8/6), melemah 0,84 persen secara harian ke Rp 18.188 per dolar AS.

Tayang:
Editor: Vito
tribunjateng.com
ilustrasi uang rupiah 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada Senin (8/6), akibat berbagai tekanan domestik dan global. 

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,84 persen secara harian ke Rp 18.188 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,73 persen secara harian ke Rp 18.171 per dolar AS. 

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup melemah cukup besar terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off global dan penguatan dolar AS, serta eskalasi di Timur Tengah.  

"Rupiah juga tertekan oleh sentimen domestik yang telah menjadi krisis kepercayaan," ujarnya, kepada Kontan, Senin (8/6). 

Menurut dia, data yang menunjukkan kembali menurunnya cadangan devisa juga ikut menekan rupiah.

Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS hingga akhir Mei 2026. Jumlah itu turun 1,3 miliar dolar AS dari posisi akhir April 2026 mencapai 146,2 miliar dolar AS. 

Untuk Selasa (9/6), Lukman melihat pergerakan rupiah akan dipengaruhi sentimen negatif domestik yang masih akan terus menekan rupiah.

Sedangkan dari eksternal, investor akan mencermati perkembangan perdamaian di Timur Tengah yang semakin menjauh dari harapan.  

Dari pasar ekuitas, sell off global terutama dipicu koreksi besar perusahaan teknologi yang apabila berlanjut juga akan ikut menekan rupiah.

Lukman memproyeksikan rupiah pada Selasa (9/6), bergerak di kisaran Rp 18.250-Rp 18.400 per dolar AS. 

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah besok dipengaruhi sentimen perkembangan geopolitik hingga kekhawatiran defisit fiskal. 

Kegelisahan pasar atas agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo terhadapa program politik yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar. 

Pelebaran defisit tersebut terjadi seiring dengan menyusutnya surplus perdagangan Indonesia. Selain itu, pemerintah harus menghitung ulang subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah.

Hal itu terjadi setelah penutupan selat Hormuz di Timur Tengah oleh Iran, sehingga kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat hutang pemerintah semakin membengkak.    

Ibrahim memperkirakan rupiah besok bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 18.180-Rp 18.230 per dolar AS. (Kontan/Vendy Yhulia Susanto)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved