Horizzon
Belajar dari Keteguhan Iran
Data Global Firepower bahkan menunjukkan bahwa kekuatan militer Indonesia dinilai jauh lebih unggul dibanding kekuatan militer Iran maupun Israel.
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
KEKUATAN militer memang tidak dibangun semata untuk perang. Lebih jauh dari itu, kekuatan perang dibangun semata untuk menghindari perang dengan cara membuat lawan gentar melihat kekuatan militer sebuah negara.
Frasa tersebut tentu menjawab pertanyaan sederhana yang barangkali sering muncul di warung-warung kopi. buat apa negara ini mengeluarkan biaya hingga Rp 335 triliun hanya untuk sektor pertahanan. Data Global Firepower (GFP) 2026 menyebutkan bahwa kekuatan militer Indonesia adalah yang terkuat di Asia Tenggara. Dibandingkan dengan kekuatan militer di seluruh dunia, posisi militer Indonesia bahkan mampu menempati urutan ke-13.
Versi GFP bahkan menunjukkan bahwa kekuatan militer Indonesia berada di skor indeks 0,2582, yang artinya, Indonesia dinilai jauh lebih unggul dibanding kekuatan militer Iran maupun Israel.
Anda kaget? Bisa jadi. Saya pun demikian sehingga harus mengulang membaca poin dalam literasi tersebut. Keterkejutan tersebut terutama setelah melihat perang modern yang saat ini tengah dipertontonkan oleh Amerika-Israel, yang dibalas dengan gentleman oleh Iran, bangsa Persia yang tak kenal kata menyerah.
Saya lanjut membaca literasi ini dan kemudian menemukan frasa menarik bahwa indeks 0,2582 ini dicatatkan Indonesia yang unggul dari jumlah personel dan alutsista konvensional. Pada catatan lain, tahun 2026 ini Indonesia membelanjakan Rp 335 triliun yang difokuskan pada program Minimum Essential Force (MEF), yang ditargetkan selesai pada 2029.
Jujur saya membaca literasi ini bermula dari rasa minder, setelah setiap hari melihat tontonan perang AS-Israel versus Iran. Saya dan kita semua dipertontonkan sebuah perang modern. yang sepuluh langkah ada di depan apa yang saya pikirkan.
Nyaris tak ada pertempuran fisik antarorang. Yang ada adalah perang teknologi canggih yang memiliki daya rusak superdahsyat. Dan, yang dilawan adalah pertahanan udara berbasis teknologi, yang tak kalah canggihnya.
Dari Perang Iran ini, saya sedikit lega dengan poin yang menyebut bahwa program MEF yang dilakukan untuk pertahanan dalam negeri juga membelanjakan program peremajaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan sistem kemandirian industri pertahanan. Program ini di antaranya digelontorkan kepada PT Pindad, PT PAL, dan PTDI, yang diharapkan semuanya tuntas pada tahun 2029.
Dari, literasi tersebut, tentu memunculkan sebuah pertanyan krusial yang ada di benak saya: apakah roadmap pembangunan pertahanan kita sudah benar?
Rasanya orang pertama di negeri ini adalah jenderal bintang empat (baca: tiga), yang tentu memiliki visi jauh lebih luas dibanding awam. Namun rasanya itu bukan jaminan, terlebih dari apa yang kita saksikan di Perang Iran. Rasanya membangun kekuatan militer yang talenta-talentanya dilahirkan di Bukit Tidar, yaitu Akademi Militer juga harus didorong untuk lebih maju.
Belajar dari Iran yang teknologinya melampaui bayangan publik, khususnya Amerika, rasanya pertahanan kita juga harus mulai fokus pada laboratorium-laboratorium di kampus. Membangun insinyur-insinyur di bidang pertahanan yang mampu membuat peralatan militer canggih perlu untuk diakselerasi. Iran yang selama lebih dari 40 tahun diembargo secara ekonomi mampu membuktikan harga diri mereka sebagai bangsa petarung, yang bikin Amerika dan Israel kalang kabut di perang ini.
Tentu saya harus paham bagaimana situasi regional berikut situasi keamanan nasional kita. Kita masih punya sejumlah kawasan di dalam negeri yang cukup rawan, seperti Papua, Kalimantan, dan juga Aceh. Saya masih sepakat, jumlah personel dan juga kekuatan militer konvensional dibutuhkan untuk mempertahankan teritorial sekaligus kedaulatan negara ini.
Boleh jadi, secara regional dengan kekuatan militer kita adalah yang paling mumpuni. Hal tersebut menjadi jaminan secara regional kita boleh merasa aman. Namun ancaman bisa datang kapan saja, apalagi dunia sedang membentuk keseimbangannya dengan Perang Iran ini sehingga sikap Indonesia di mata dunia juga harus jeli dalam mengambil posisi.
Dari hitung-hitungan kertas, sesungguhnya harus diakui bahwa Iran masih kalah, jika dibandingkan dengan Amerika yang tentu memiliki banyak negara sekutu yang siap mendukungnya. Namun ada satu poin penting yang juga patut kita belajar dari Iran sehingga bangsa Persia tersebut boleh dibilang tak bisa dikalahkan Amerika. Rasa nasionalisme yang kuat dan pimpinan yang kuat yang dibangun dari rasa cinta rakyat terhadap pimpinannya adalah kekuatan lain yang menhjadi kunci bagaimana Iran seolah yang menjadi dirijen di perang kali ini.
Pola kepemimpinan Iran yang lahir dari rasa cinta rakyatnya adalah kekuatan militansi yang tak bisa dihancurkan oleh rudal secanggih apa pun. Artinya, Iran sanggup menghadapi hegemoni Amerika-Israel bukan semata lantaran ia mampu mengembangkan teknologi perang yang canggih. Iran mampu menghadapi ini semua karena Iran mampu membangun pride atau nasionalisme yang tinggi terhadap publiknya melalui kepemimpinan yang amanah.
Dari sini, rasanya Indonesia perlu belajar dua hal dari Iran. Pertama, tentu bagaimana mengejar ketertinggalan dalam teknologi militer dan, yang kedua, adalah membangun nasionalisme yang rasanya pelan namun pasti mulai luntur ini dengan kepemimpinan bangsa yang jauh lebih konstruktif. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)