Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Purbalingga

Museum Prof DR R Soegarda Purbakawatja Terapkan Sistem Barcode untuk Koleksi

Dalam upaya digitalisasi dan mempermudah pengunjung memperoleh informasi detail mengenai koleksi, Museum

Tayang:
Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG/Farah Anis Rahmawati
KOLEKSI MUSEUM - Seorang petugas Museum Prof DR R Soegarda Purbakawatja, saat memperlihatkan koleksi di dalam museum, Jumat (17/10/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA — Dalam upaya digitalisasi dan mempermudah pengunjung memperoleh informasi detail mengenai koleksi, Museum Prof DR R Soegarda Purbakawatja kini menerapkan sistem barcode atau kode QR.


Petugas Pelayanan Museum, Triningsih, menjelaskan bahwa sistem ini memungkinkan pengunjung mengakses informasi melalui situs web dengan cara memindai kode yang tersedia di setiap koleksi.


“Setelah pengunjung memindai barcode, informasi koleksi bisa langsung didapatkan secara detail, baik dalam bentuk foto maupun audio,” ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (17/10/2025).


Triningsih menambahkan, barcode hanya dapat diakses ketika pengunjung berada di lokasi museum.

Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa sekaligus melihat kondisi fisik koleksi secara langsung.


Namun, dari total sekitar 1.200 koleksi yang dimiliki, baru 15 koleksi yang telah dilengkapi barcode.


Beberapa di antaranya ialah batik Nagatapa, wayang suket, peninggalan Prof Soegarda, koleksi prasejarah, hingga peninggalan zaman batu.


Menurutnya, proses pembuatan barcode untuk setiap koleksi tidaklah mudah.

Selain karena anggaran yang terbatas, dana untuk pengadaan barcode hanya diperoleh melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.


“Sekitar dua tahun lalu untuk pertama kalinya koleksi di sini diberi barcode.

Sekarang belum ada lagi anggarannya, karena tidak setiap tahun kami mendapatkan dana untuk itu,” jelasnya.


Selain kendala anggaran, Triningsih menyebut tantangan lain dalam pembuatan barcode adalah kajian literasi yang harus dilakukan sebelum data diunggah.


“Setiap koleksi harus memiliki kajian literasi yang lengkap.

Informasinya tidak bisa hanya didapat dari buku, tapi juga perlu kunjungan langsung ke lokasi asal koleksi agar datanya lebih akurat,” terangnya.


Meski nantinya seluruh koleksi museum telah dilengkapi barcode, pihak museum akan tetap memberikan pendampingan kepada pengunjung.


“Tentu kami tetap mendampingi.

Kami juga mengarahkan agar pengunjung bisa menggunakan barcode yang tersedia supaya mereka dapat langsung mengetahui informasi terkait koleksi yang ada di sini,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved