Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Dana Desa Anjlok, Kades pun Harus Putar Otak 

Sejumlah kades pun mengaku terpaksa menunda atau membatalkan proyek strategis di desa untuk menyiasati penurunan dana desa.

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Vito
GEMINI.AI
ILUSTRASI - Foto ilustrasi dana desa 2026 buatan GEMINI.AI. 

KENDAL, TRIBUN - Fokus pemerintah pusat terhadap sejumlah prgram prioritas menyebabkan terjadinya pemangkasan anggaran ke daerah, termasuk dana desa.

Pemerintah pun telah menetapkan anggaran dana desa untuk wilayah Jateng pada 2026 sebesar Rp 2,1 triliun. Angka itu anjlok dari anggaran tahun sebelumnya yang mencapai Rp 7,9 triliun.

Dampak pemangkasan anggaran yang mencapai Rp 5,8 triliun itu mendesak para kepala desa (kades) untuk memutar otak. Sejumlah kades pun mengaku terpaksa menunda atau membatalkan proyek strategis di desa.

Mereka bahkan sempat dituduh melakukan korupsi gegara pelaksanaan acara di desa yang tidak memberikan fasilitas seperti biasanya.

"Iya, pengurangan anggaran ini sangat berdampak ke kami," ujar Kades Ngampel Wetan, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Abdul Malik, kepada Tribun Jateng, Selasa (6/1).

"Kemarin saja saat acara posyandu tidak ada snack-nya atau tidak ada tambahan makanan bergizinya sudah muncul tuduhan uangnya dipotong (dikorupsi-Red) sama Pak Kades. Padahal itu potongan dari pusat," sambungnya.

Menurut dia, Desa Ngampel pada 2025 mendapatkan jatah dana desa sekitar Rp 900 juta. Pada tahun ini, anggaran merosot ke angka Rp 252 juta. Anggaran yang turun sampai Rp 648 juta pun membuat Malik pegang kepala.

Ia harus memutar otak agar uang itu bisa memenuhi program yang sudah disepakati dalam musyawarah desa. Alhasil, ia harus memilih menjalankan program prioritas, lalu meniadakan progam yang dinilai tidak terlalu strategis.

"Anggaran karang taruna dan Program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotik) Puskesos (Pusat Kesejahteraan Sosial) kami hilangkan," ujarnya.

Sebaliknya, Malik menuturkan, ada beberapa program yang masih ia pertahankan untuk tahun ini, di antaranya proyek infrastruktur yang sempat tertunda pada 2025 karena program ketahanan pangan.

Ia menyebut, proyek infrastruktur fisik meliputi wilayah di tiga Rukun Warga (RW) meliputi RW 01 sekitar Rp 50 juta, RW 02 sebesar Rp 20 juta, RW 03 sebanyak Rp 20 juta. Kemudian anggaran Posyandu yang awalnya Rp 36 juta menjadi Rp 10 juta.

Sementara, untuk program PKK, Malik menyatakan, anggaran itu sempat akan dihilangkan, tetapi karena desanya ditunjuk untuk ikut lomba tingkat kabupaten, maka ia mengalokasikan anggaran sekitar Rp 11,5  juta yang awalnya anggaran sekitar Rp 23 juta. 

"Yang kemarin saya anggarkan ini juga masih tarik ulur dengan dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan dengan lembaga desa yang lain," bebernya.

Dari kondisi itu, Malik mengaku kesulitan menyampaikan perubahan itu agar bisa diterima oleh masyarakat dengan jelas.

"Misal seperti ini, tahun depan tidak perlu Musyawarah Dusun (Musdus) lagi. Karena takutnya kalau program Musdus tidak terealisasi justru jadi permasalahan baru secara politik buat kami," tukasnya.

Dianaktirikan

Ia menilai, desa sekarang terkesan dianaktirikan. Semisal pemerintah pusat tidak menganggarkan dana desa, bisa dialihkan anggaran dengan bentuk lain.

Namun, Malik menyebut, bantuan lain dengan skema Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) juga tidak tepat bagi semua desa. Ia mencontohkan, di Desa Jerukgiling, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, yang hanya ada 450 warga tidak terlalu membutuhkan KDMP.

"Bukan kami melawan pemerintah pusat, tapi kami yakin tidak semua desa butuh KDMP. Artinya, tidak semua program-program nasional bisa diterapkan secara utuh di desa," jelasnya.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Papdesi) Kabupaten Kendal itupun mememinta agar anggaran pemerintah bisa lebih tepat sasaran, dengan mengerti kebutuhan dari masyarakat desa, seperti irigasi, pesawahan, dan lain-lain.

Sementara, Kepala Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Joko Lasono menyebut, anggaran dana desanya turun dari Rp 970 juta menjadi Rp 335  juta.

Ketua DPC Papdesi Kabupaten Klaten itu mengungkapkan, kondisi itu dialami di seluruh desa di Kabupaten Klaten. Di wilayah itu, desa tertinggi menerima dana desa di angka Rp 373 juta, sedangkan yang terendah di antara kisaran di Rp 290 juta.

"Dengan adanya penurunan dana desa yang begitu drastis tersebut, kami terpaksa harus merevisi kegiatan-kegiatan yang kemarin sebenarnya sudah kami musyawarahkan. Banyak sekali kegiatan yang harus dikurangi penganggarannya, dan kegiatannya juga ditiadakan," paparnya.

Dengan mengantongi uang dana desa sebesar Rp 335  juta, Joko kini hanya fokus menyalurkan uang rakyat itu ke sejumlah program seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), kesehatan, dan pendidikan.

Sebab, untuk kegiatan di pendidikan saja memakan biaya cukup besar, di mana Desa Tijayan memiliki dua Taman Kanak-kanak (TK) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang harus menganggarkan hingga delapan guru. 

Sementara untuk proyek pembangunan fisik ditekan hingga di angka kurang dari Rp 50 juta. "Infrastruktur ya kami anggarkan kurang lebih di bawah Rp50 juta," ucap Joko. (Iwan Arifianto)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved