Berita Purbalingga
Waspada! Gunung Slamet Memanas, Warga Diminta Waspada
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Muhammad Rusdi, menyebut suhu kawah mengalami kenaikan dari 461,9 derajat Celsius
Penulis: Lyz | Editor: muh radlis
Ringkasan Berita:
- Suhu kawah Gunung Slamet meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir.
- Status gunung masih Level II (Waspada) dengan radius aman 3 kilometer dari puncak.
- Masyarakat diminta waspada terhadap potensi erupsi dan paparan gas vulkanik berbahaya.
TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA — Aktivitas vulkanik Gunung Slamet kembali menunjukkan peningkatan.
Pos Pengamatan Gunung Api Slamet mencatat kenaikan suhu kawah dalam beberapa hari terakhir, meski status gunung masih berada pada Level II atau Waspada.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Muhammad Rusdi, menyebut suhu kawah mengalami kenaikan dari 461,9 derajat Celsius pada 14 April menjadi 478,7 derajat Celsius pada 18 April 2026.
“Betul, hasil pengukuran rutin menunjukkan kenaikan (suhu kawah),” kata Rusdi ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu.
Meski terjadi peningkatan suhu yang cukup signifikan, otoritas memastikan belum ada perubahan status aktivitas maupun rekomendasi jarak aman dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“(Status dan rekomendasi) masih sama semua, ketika terjadi sesuatu biasanya kami keluarkan Laporan Khusus,” terang Rusdi.
Saat ini, Gunung Slamet tetap berada pada Level II (Waspada). Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak.
Baca juga: Ulah Bejat Ayah Kandung di Cilacap Terungkap karena Ini, Anak Kandung Disetubuhi Sejak SD
Aktivitas Meningkat Sejak Awal April
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian ESDM telah melaporkan adanya peningkatan aktivitas sejak awal April 2026.
Berdasarkan citra termal, terjadi lonjakan suhu kawah yang cukup tajam.
Selain itu, warga di sekitar kaki gunung juga sempat merasakan dampak berupa bau belerang menyengat pada 9 April 2026, khususnya di wilayah Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.
Fenomena tersebut muncul setelah hujan lebat mengguyur kawasan tersebut pada malam hari.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas Gunung Slamet berpotensi menimbulkan erupsi abu, hujan lumpur, hingga lontaran material pijar.
Selain itu, ancaman gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi juga menjadi perhatian serius karena dapat membahayakan keselamatan warga di sekitar gunung.
Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
| Hantam 3 Rumah, Longsor Tewaskan Yanti saat Sedang Masak di Purbalingga |
|
|---|
| Kronologi Balita Tersesat saat Main Sendirian, Akhirnya Kembali ke Pelukan Nenek di Purbalingga |
|
|---|
| Efisiensi Anggaran Diperketat, Pemkab Purbalingga Kaji Skema WFH ASN |
|
|---|
| Tetap Jadi Magnet Wisata Libur Lebaran di Purbalingga, Owabong Water Park Sedot 28 Ribu Pengunjung |
|
|---|
| Pernikahan Iin dan Gursewak, Gadis Purbalingga Dinikahi Pemuda India Setelah Kisah Cinta Berliku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/VISUAL-GUNUNG-SLAMET-Gambaran.jpg)