Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kota Semarang

DLH Ungkap Penyebab Monyet Serbu Permukiman Warga: Program Vasektomi Gagal hingga Populasi Melonjak

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang menanggapi kemunculan monyet ekor panjang yang menyerbu permukiman.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
DISERBU MONYET - Warga Kampung Kalialang Baru menunjukkan ladang yang kerap didatangi kawanan monyet, Senin (27/4/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang menanggapi kemunculan monyet ekor panjang yang menyerbu permukiman warga di Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang.

DLH menyebut, fenomena tersebut berkaitan dengan lonjakan populasi dan keterbatasan pakan di habitat aslinya, sehingga satwa tersebut mulai masuk ke kampung-kampung untuk mencari makan.

"Mungkin di Jatibarang itu kekurangan makanan ya, asupan makanan, sehingga monyet kan lari ke kampung-kampung. Terus juga terlalu banyak populasinya," jelas Kabid Pengendalian Pencemaran dan Konservasi lingkungan Hidup DLH Kota Semarang, Priyatna kepada Tribun Jateng, Selasa (28/4/2026).

Menurut Priyatna, persoalan ini sebenarnya telah dibahas dalam rapat lintas instansi pada 2025 yang melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dan DLH Kota Semarang.

Baca juga: Hakim Tinggi di Jateng Diduga Lakukan Kekerasan Seksual Terhadap 3 Wanita di Lingkungan Kerja

Baca juga: Imbas Kecelakaan Kereta di Bekasi, Perjalanan dari Semarang Lumpuh: 2 Batal Berangkat

Dalam forum tersebut terungkap adanya peningkatan populasi yang signifikan dalam waktu singkat.

"Perkembangan monyet ekor panjang itu pesat sekali dari kurang lebih 300 ekor menjadi kurang lebih 500 ekor itu yang berada di Waduk Jatibarang," jelasnya.

Menurut dia, upaya pengendalian populasi pun sebenarnya telah dilakukan oleh BKSDA melalui program vasektomi, namun hasilnya belum optimal.

Selain itu, terdapat usulan untuk menyediakan tempat untuk karantina bagi monyet-monyet tersebut.

"Dari BKSDA itu kan sudah mengadakan vasektomi terhadap monyet ekor panjang tapi mengalami kegagalan.

Nah, di rapat tersebut itu dari BKSDA minta ke BBWS untuk menyediakan kayak pulo untuk karantina monyet-monyet tersebut. Tapi sampai sekarang belum terlaksana," jelasnya.

Akibat belum terealisasinya solusi tersebut, monyet-monyet terus menyebar ke wilayah permukiman.

Dia menyebutkan, kejadian serupa tidak hanya terjadi di Sukorejo, tetapi juga pernah dilaporkan di wilayah Kedungpane, Kecamatan Mijen.

Priyatna menambahkan, penanganan masalah ini tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. DLH berencana kembali berkoordinasi dengan BKSDA dan pihak terkait untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.

"Penanganan itu tidak bisa dilakukan mungkin BKSDA sendiri, tapi harus bersama-sama. Ada relawan, ada dari Damkar, ada Satpol PP, ada Dinas Pertanian juga," sebutnya.

Pihaknya juga menegaskan, penanganan monyet ekor panjang tidak bisa dilakukan secara sembarangan, seperti ditangkap atau dipindahkan tanpa solusi.

Menurutnya, pemindahan harus mempertimbangkan keberlanjutan habitat dan keamanan satwa.

"Misal melebihi itu pun kalau dikurangi itu kan harus dicarikan tempatnya di mana, tidak asal ditangkap dipindahkan, tapi harus ada solusinya. Jadi tidak semata-mata harus ditangkap atau ditembak, enggak boleh. Tapi misal ditangkap ya dipindahkan di daerah mana tapi harus tetap aman," imbuhnya. (idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved