Beban Pajak Dirasa Terlalu Memberatkan, KUD Mojosongo Boyolali Berharap Diturunkan
Koperasi Unit Desa (KUD) Mojosongo, Boyolali menjadi satu dari sejumlah KUD di Boyolali yang masih bertahan.
Penulis: akbar hari mukti | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti
TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Koperasi Unit Desa (KUD) Mojosongo, Boyolali menjadi satu dari sejumlah KUD di Boyolali yang masih bertahan.
Para pengelola KUD yang memproduksi susu murni itu ingin agar pemerintah memberikan perbedaan nilai pajak untuk KUD, dibandingkan perusahaan-perusahaan milik pemodal.
Begitu ungkap Manajer KUD Mojosongo Boyolali, Winarno, Selasa (24/4/2018).
Ia menilai beban pajak saat ini masih terasa memberatkan dan tak memenuhi keadilan.
"Selama ini ada pajak SHU, ada pajak penghasilan dan lain-lain. Kami diberi beban pajak yang tak sebanding dengan penghasilan yang kami dapatkan," ungkap Winarno.
Dirinya berharap, koperasi yang notabene milik rakyat dan peternak kecil, tidak disamakan dengan perusahaan-perusahaan besar milik pemodal besar.
"Masa kami yang berdasar iuran dan swadaya mau disamakan pajaknya dengan perusahaan milik investor besar dan investor milik luar negeri. Jangan disamakan," kata dia.
Selain itu ia menjelaskan, kendala lain dari KUD Mojosongo adalah pemerintah yang meminta KUD penghasil susu ini disamakan dengan peternakan luar negeri terkait kualitas susu.
Padahal ia menilai untuk memberikan kualitas susu terbaik, ada sejumlah faktor yang harus dipenuhi.
"Di antaranya TPC (Total Plate Count). Di sini rata-rata 0.7 sampai 0.8 juta cfu/ml. Sudah termasuk lebih tinggi dari standar Indonesia yang 1 juta permili. Tapi memang harus ada dorongan pemerintah agar kualitas susu lebih baik," paparnya.
Disinggung terkait penghasilan KUD ini pertahun, ia enggan menjawabnya. Meski begitu, Winarno mengatakan produksi susu KUD tersebut 24 ribu liter per hari. Terjadi penurunan produksi dari tahun-tahun yang lalu yang mencapai 45 ribu liter per hari.
Pemasok susu di KUD itu dari 700 peternak sapi dari anggota KUD yang tersebar di Boyolali dan Klaten.
"Kita memasok ke FFI (Frisian Flag Indonesia) dan SGF (So Good Food)," ungkapnya.
Penjualan susu tersebut, perliter dihargai Rp 4.500 sampai Rp 5.500 perliter.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/proses-penyulingan-awal-susu_20180424_195513.jpg)