Berita Wonosobo
12 Pelukis Warnai Kawasan Kumuh di Wonosobo dengan Mural 3 Tema
Pandemi Covid-19 nampaknya melahirkan gebrakan-gebrakan baru hingga di lingkungan masyarakat kecil. Satu di antaranya warga Dusun Sruni Desa Jaraksari
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Pandemi Covid-19 nampaknya melahirkan gebrakan-gebrakan baru hingga di lingkungan masyarakat kecil. Satu di antaranya warga Dusun Sruni Desa Jaraksari Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo.
Sebuah dusun kecil di pinggiran Kota Wonosobo ini dihuni oleh 2.500 jiwa yang tersebar di 16 RT. Mereka adalah masyarakat urban yang menggantungkan hidupnya di bidang kesenian dan kebudayaan.
Terdapat 8 kelompok kesenian yang terdiri dari kesenian keroncong, rebana atau hadroh, sintren, kuda kepang, tari lengger, dolalak, pahat hingga kesenian lukis.
Masing-masing kelompok diikuti minimal 12-30 orang pelaku seni dengan karakteristik yang berbeda. Antar warga Sruni hidup berdampingan meski memiliki perbedaan baik dalam kepercayaan maupun kesenian yang ditekuninya.
Hantaman pandemi Covid-19, membuat warga Dusun Sruni seperti mati suri dan tak mempunyai penghasilan.
Hingga akhirnya, terbentuk kelompok revitalisasi untuk menghidupkan kembali warna kesenian dan kebudayaan di kampung tersebut.
Ketua Tim Revitalisasi, Taufik Aka Susanto mengatakan, sebagai langkah awal melakukan perubahan, ia mengajak 12 pelukis untuk mewarnai dusun dengan mural bercerita. Warga menggandeng DPRD setempat untuk bisa menarik dana aspirasi masyarakat guna mendukung rencana tata kelola dusun Sruni.
Mural-mural dibuat dengan 3 tema yang dilukiskan pada dinding-dinding rumah dari gerbang utama hingga ke penjuru dusun. Meliputi, pemandangan alam Dusun Sruni, seni kebudayaan warga setempat, dan simbol kerukunan ummat beragama.
"Pertama ini, kami coba membuat wajah dusun dengan mural bercerita. Ada pemandangan sungai, persawahan hingga gardu pandang pegunungan. Ada juga tarian-tarian, tokoh pewayangan, maupun tokoh budaya. Juga ada pula simbol-simbol yang dipadukan untuk menggambarkan kerukunan ummat, seperti tokoh kepercayaan masing-masing yang saling bergandengan tangan," terangnya, Minggu (6/12/2020).
Kata Taufik, seni mural dibuat selain memberikan warna baru pada dusun, juga menjadi media untuk mengenalkan potensi yang ada di Dusun Sruni.
Dengan mural bercerita itu pula, Warga Sruni berharap dapat menarik wisatawan dari berbagai daerah, provinsi, maupun mancanegara. "Kami target pembuatan mural ini rampung 10 hari. Ada 12 pelukis yang mengerjakan tema masing-masing di setiap penjuru dusun. Konsepnya sederhana namun, kami harap dengan ini kehidupan di Sruni nantinya menjadi lebih hidup," terangnya.
Taufik menjelaskan, pasca penggarapan mural selesai, tim revitalisasi bakal membangun majanemen show para kelompok seni yang ada. Katanya, jiwa seni akan dihidupkan lagi dengan menampilkan pementasan seni bergiliran setiap akhir pekan.
Tim revitalisasi yang terdiri dari 8 orang pilihan warga akan mencoba mewarnai dusun dengan kesenian di tengah pandemi Covid-19. Taufik juga berharap, dengan terangkatnya potensi yang dimiliki warga Sruni, dapat mengubah kawasan yang kumuh menjadi daya tarik wisata pada nantinya.
"Setelah itu, kami coba berikan spot wisata khas Dusun Sruni untuk para wisatawan. Kami coba jaring wisatawan setidaknya mulai 2 tahun ke depan dengan spot selfi, pementasan kesenian, dan wahana wisata yang siap jadi daya tarik. Harapannya, seni pada nantinya dapat menghidupkan dirinya dan menjadi budaya yang mengesankan," harap Taufik.
Bonardi Karso Utomo (53), seorang pelukis mural kawakan mengaku bangga menjadi bagian dari 12 pelukis mural bercerita di Sruni. Waktu 10 hari yang diberikan coba iya maksimalkan untuk membuat karya terbaiknya.