Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Pati

Koperasi Jadi Solusi Selamatkan Nelayan dari Gulungan Ombak Kemiskinan

Di tepian Sungai Silugonggo, yang lebih dikenal dengan Sungai Juwana, terdapat perkampungan dengan deretan rumah gedongan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: muh radlis
Kementerian Koperasi dan UKM RI
Sampul buku Solusi Nelayan: Mengurai Paradoks si Miskin di Negara Maritim 

TRIBUNJATENG.COM - Di tepian Sungai Silugonggo, yang lebih dikenal dengan Sungai Juwana, terdapat perkampungan dengan deretan rumah gedongan.

Rumah-rumah itu bertingkat-tingkat, tampak mewah dengan bermacam gaya arsitektur, mulai klasik hingga modern. Kondisi ini seolah secara gamblang menggambarkan betapa makmur para penghuni permukiman di tepian sungai yang bermuara ke Laut Jawa tersebut.

Permukiman tersebut ialah Kampung Nelayan Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Entah bisa dikatakan hiperbolis atau tidak, beberapa orang menyebutnya “Kampung Nelayan Terkaya di Indonesia”.

Kampung ini pernah viral di media sosial pada Mei 2021 lalu,  setelah pemilik akun TikTok “Elizasifa” mengunggah video yang menampilkan suasana permukiman di sana. Julukan “kampung nelayan sultan” dan sejenisnya pun marak disematkan warganet pada Desa Bendar.

Barangkali, memang kondisi demikianlah yang semestinya tergambar di pikiran kita ketika mendengar istilah “kampung nelayan”. Hidup di negeri maritim dengan kekayaan sumber daya laut yang melimpah ruah, para nelayan Indonesia sudah semestinya sejahtera. Namun sayang, cita-cita akan kondisi ideal kerap kali tidak sejalan dengan kenyataan. Dengan segala problematika yang ada, lebih banyak nelayan yang berada di pusaran kemiskinan ketimbang yang berada di panggung kemakmuran.

Persoalan ini diulas dalam buku “Solusi Nelayan: Mengurai Paradoks si Miskin di Negara Maritim”. Ini merupakan seri kelima dari total tujuh judul buku dalam serial “Pengarusutamaan Strategi Pengembangan Koperasi dan UKM” yang diterbitkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) Republik Indonesia. Buku ini menguraikan problematika yang dihadapi nelayan di Indonesia, khususnya terkait kesulitan mereka dalam mengakses Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Buku ini juga menjabarkan secara detail tentang solusi yang dihadirkan KemenkopUKM lewat program “Solusi Nelayan”.

Kesenjangan antara Nelayan Buruh-Perorangan dan Nelayan Juragan

Buku ini menyebut, di Indonesia terdapat setidaknya 11 ribu kampung nelayan. Adapun kampung nelayan adalah daerah yang berlokasi dekat kawasan penangkapan ikan dan perekonomiannya berbasis perikanan tangkap dan pemrosesan ikan.

Desa Bendar adalah salah satu kampung nelayan yang diulas dalam buku ini. Disebutkan, nelayan-nelayan di desa ini hidup makmur, bahkan tinggal di rumah keramik bertingkat dengan mobil di garasinya.

Sayangnya, kondisi tersebut kontras dengan beberapa kampung nelayan lain yang juga disinggung dalam buku ini. Misalnya Cilincing, Jakarta. Di sini, nelayan-nelayan hidup miskin karena hasil laut tak mampu mencukupi kebutuhan mereka.

Data-data yang disajikan di bagian awal buku ini menunjukkan kondisi ironis yang dialami para nelayan. Sebagai pekerja di sektor yang menyerap paling banyak tenaga kerja, sebagian besar nelayan justru hidup dalam kemiskinan. Bahkan nelayan punya porsi 25 persen dari total angka kemiskinan di Indonesia.

Buku ini mengklasifikasikan nelayan dalam tiga golongan, yakni nelayan juragan, nelayan buruh, dan nelayan perorangan. Klasifikasi ini didasarkan pada kepemilikan alat tangkap. Para nelayan di Desa Bendar, Pati, yang tinggal di rumah-rumah gedongan tergolong dalam kelompok nelayan juragan. Mereka adalah para bos pemilik kapal-kapal tangkap dengan tonase kotor (gross tonnage) besar.

Adapun nelayan buruh dan nelayan perorangan tradisional adalah dua kelompok yang, menurut istilah yang digunakan dalam buku ini, tergulung ombak kemiskinan kronis. Permasalahan kesejahteraan ini membuat jumlah nelayan terus menurun. Disebutkan, dari 2021 ke 2022, terdapat penurunan jumlah nelayan sebesar 5,2 persen. Dari 1,34 juta menjadi 1,27 juta.

BBM Mahal dan Sulit Diakses: Akar Penyebab Kemiskinan Nelayan

Buku ini menjabarkan permasalahan kenaikan harga BBM dan ketimpangan distribusi BBM bersubsidi sebagai biang kerok penyebab kemiskinan nelayan semakin akut. Sebesar 70 persen modal melaut nelayan adalah BBM. Maka, tiap kali ada kenaikan harga BBM, nelayan kecil di seluruh pesisir negeri menjerit. Sebab, mayoritas nelayan kesulitan mengakses BBM bersubsidi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved