Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Jelajahi Petungkriyono, Petani Batang Belajar Olah Kopi Berkualitas

Para petani dari Batang tengah menimba ilmu dengan mengikuti pelatihan pengolahan kopi berkualitas.

Tayang:
Penulis: dina indriani | Editor: M Zainal Arifin
Istimewa
BELAJAR OLAH KOPI - Para petani dari Batang tengah menimba ilmu dengan mengikuti pelatihan pengolahan kopi berkualitas yang digelar Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya bersama Ford Foundation. Selain praktik lapangan peserta diajak belajar teknik pengolahan pascapanen dan pentingnya standar pengolahan agar kopi Batang tak hanya laku di pasar lokal, tapi juga menembus pasar nasional bahkan internasional. 

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Para petani dari Batang tengah menimba ilmu dengan mengikuti pelatihan pengolahan kopi berkualitas yang digelar Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya bersama Ford Foundation.  

Pendamping KUPS PUPUK Surabaya, Endang Susilowati, menuturkan kegiatan ini bertujuan melahirkan petani kopi yang piawai memilih biji terbaik.  

“Selama ini banyak petani belum bisa membedakan biji hijau yang layak diolah menjadi kopi unggulan,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025).

Senada, Thoriqul Huda dari PUPUK Surabaya menambahkan, pelatihan ini diharapkan membuat anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) lebih terampil dalam pascapanen.  

“Kalau biji kopi dipilah dengan benar, hasil sangrai akan lebih berkualitas dan punya daya saing tinggi,” ujarnya.  

Solehah, anggota KUPS Lembah Wangi Desa Tombo Bandar, Batang, mengaku mendapat wawasan baru.  

“Tujuannya sederhana, kami ingin usaha kopi di desa makin maju dan bisa bersaing,” ungkapnya.

Baca juga: Abrasi Capai 4 Meter, Pemkab Batang Perkuat Penataan Ruang Laut

Hal serupa dirasakan Nursiamsih dari KUPS Ganesha Mulia Sejahtera 3 Wonotunggal.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam.  

“Menanam kopi lokal berarti menjaga satwa endemik tetap hidup berdampingan dengan hutan,” jelasnya.  

Bayu Putra, narasumber dari OWA Kafe Petungkriyono, mengajak peserta turun langsung ke kebun.

Mereka dikenalkan perbedaan kopi sambung dan kopi hutan.  

“Budidaya kopi hutan lebih ramah lingkungan, tidak perlu pupuk kimia, dan tetap memberi manfaat ekonomi,” tegasnya.  

Selain praktik lapangan, pegiat kopi Kuswoto membekali peserta dengan teknik pengolahan pascapanen.

Baca juga: Bupati Batang Lantik 7 Pejabat Administrator dan Pengawas, Berikut Daftar Rincinya

Ia menekankan pentingnya standar pengolahan agar kopi Batang tak hanya laku di pasar lokal, tapi juga menembus pasar nasional bahkan internasional.

“Produksi kopi Batang bisa mencapai beberapa ton. Sayang kalau diolah tanpa metode tepat,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved