Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Dinkes Kudus Catat Ada 464 Kasus Campak

Data yang dihimpun sampai pada 13 Maret 2026 itu menunjukkan ada sebanyak 257 laki-laki yang terkena campak

Tayang:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rifqi Gozali
Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Abdul Hakam. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat terdapat sebanyak 464 kasus campak.

Data yang dihimpun sampai pada 13 Maret 2026 itu menunjukkan ada sebanyak 257 laki-laki yang terkena campak dan 207 perempuan yang terkena campak.

Kepala Dinas Kesehatan Kudus Abdul Hakam mengatakan, sampai saat ini kasus campak di Kabupaten Kudus masih bisa ditangani.

Pihaknya melibatkan seluruh perangkat kesehatan mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun lanjutan untuk menanggulangi kasus ini.

“Kasus (kematian akibat campak) di Kudus belum ada.

Memang ada masuk ICU syukur tidak terjadi meninggal atau keadaan membuat kehilangan nyawa,” kata Abdul Hakam, Kamis (9/4/2026).

Hakam mengatakan, meski kasus campak di Kudus masih bisa tertangani, pihaknya masih menaruh kewaspadaan.

Terutama di beberapa wilayah pinggiran setiap fasilitas kesehatan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.

Dampak kasus campak yang ramai beberapa waktu terakhir, kata Hakam, karena selama pandemi Cobid-19 capaian vaksinasi campak jauh di bawah target.

Baca juga: Ujian Praktik Sekolah Berujung Tragis, Siswa SMP Tewas Usai Senapan 3D Rakitannya Meledak

“Kalau tidak salah, dulu hanya 10 persen untuk vaksinasi campak, sehingga boomingnya saat ini,” kata Hakam yang juga sebagai dokter spesialis anak.

Untuk vaksinasi campak sendiri terdapat tiga periode.

Pertama diperuntukkan bagi bayi berusia 9 bulan, anak usia 2 tahun, dan anak usia 5 tahun. 

Dan selama Covid-19 banyak anak usia 2 tahun yang tidak mendapatkan vaksin campak.

Apalagi mereka yang berusia 5 tahun.

“Persebaran kasus campak ditengarai beberapa hal.

Termasuk berkumpulnya orang dewasa dengan balita juga bisa menularkan virus campak,” kata dia.

Untuk deteksi dini campak, kata Hakam, bisa diketahui dari gejalanya.

Gejala yang paling dominan yaitu penderita campak mengalami demam antara 2 sampai 3 hari. 

Kemudian keluar bercak campak. Dari situ perlu waspada dan segera membawanya ke dokter atau ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Jadi kalau sudah hari pertama ada panas masyarakat harus mewaspadai timbulnya bercak di hari kedua.

Kalau hari kedua dia ada bercak campak, segera periksa ke dokter atau fasilitas kesehatan pertama atau lanjutan,” katanya.

Kalau sudah terkena virus campak, risikonya bisa terjadinya komplikasi campak.

Di antaranya yaitu bisa dehidrasi atau kejang karena demam yang terlampau tinggi.

Dan juga kalau untuk anak, remaja, atau dewasa yang terkena campak jangan sampai kekurangan istirahat.

Kasus dokter di Jawa Barat yang yang meninggal terkena campak karena komplikasi dari virus campak.

“Yang kami khawatirkan komplikasi campak bisa dehidrasi, bisa meninggal.

Kalau masuk paru-paru bisa jadi komplikasi paru-paru yang berat sehingga harus dilanjutkan ke ICU. Kalau sampai ke otak bisa jadi meningitis.

Bisa mengganggu fungsi luhur anak atau penderita campak tersebut.

Jadi komplikasinya cukup banyak,” kata Hakam.

Untuk menghindari itu semua di masa mendatang, pihaknya menyarankan agar setiap warga yang memiliki anak untuk divaksin campak tiga periode.

Yakni vaksin campak usia 9 bulan, usia 2 tahun, dan usia 5 tahun.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved