Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Manfaatkan Lahan Kosong Samping Rumah, Agus Sulistiyanto Kini Sukses Bertani Selada Hidroponik

Agus tampak sibuk memanen seladanya yang ditanam di kebun hidroponik di samping rumahnya di RT 7 RW 1 Desa Lau, Kecanatan Dawe

Tayang:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rifqi Gozali
PANEN SELADA - Agus Sulistiyanto saat memanen selada di kebun hidroponik miliknya di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudis, Kamis (30/4/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Agus tampak sibuk memanen seladanya yang ditanam di kebun hidroponik di samping rumahnya di RT 7 RW 1 Desa Lau, Kecanatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (30/4/2026).

Selada yang tertanam pada media hidroponik itu dicabut dengan perlahan. Satu per satu selada ia letakkan pada keranjang plastik.

Di samping rumah Agus yang semula merupakan lahan kosong, kini telah disulap menjadi kebun hidroponik.

Instalasi pipa lengkap dengan meja hidroponik dan talang berlubang sebagai media tanam selada terpasang di sana.

Atap plastik uv menutup setiap instalasi tersebut.

Di setiap lubang talang, terdapat selada yang tumbuh.

Ada yang masih berusia sepakan, ada pula yang sudah 40 hari dan siap dipanen.

Pria pemilik nama lengkap Agus Sulistiyanto tersebut memulai menjadi petani selada hidroponik sejak tahun lalu.

Keputusannya untuk bertani selada selain karena ingin memanfaatkan lahan kosong yang ada di samping rumahnya, juga karena pasar selada dinilai masih menjanjikan.

Untuk memulai bertani selada Agus terlebih dahulu memang belajar secara autodidak sebelum akhirnya membuat instalasi untuk pengairan pertanian selada hidroponik.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Little Aresha Jogja, DP3AP2KB Batang Pastikan 14 Daycare Berizin Layak Operasi

Rupanya keputusannya tepat. Kini selada dari kebun hidroponik miliknya selalu ludes terjual.

“Selain kami memasok pelaku usaha katering atau penjual kebab, kami juga memasok SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Ternyata kebutuhan SPPG juga cukup banyak sehingga potensi pasar itu yang membuat saya untuk bertani hidroponik karena pasarnya yang masih luas," kata pria 38 tahun saat ditemui di kebun hidroponik miliknya.

Menurut Agus, belum ada kendala berarti dalam bertani hidroponik.

Yang paling memungkinkan untuk dia lakukan secara rutin dalam bertani selada hidroponik yakni dengan mengatur keasaman air dan nutrisi yang terkandung di dalam air yang dialirkan ke instalasi hidroponik yang saling terhubung.

"Tidak seribet pertanian konvensional.

Memang harus teliti ketika melihat kandungan PH air dan nutrisinya yang terlarut di air.

Fokusnya di situ," kata dia.

Dalam sepekan Agus kini bisa memanen seladanya sebanyak 70 sampai 80 kilogram.

Selada itu langsung dipasok ke dua SPPG dan para pemesan yang sebelumnya telah memghubunginya.

Dia menjual seladanya Rp 28 ribu per kilogram.

"Banyak yang menghubungi, kadang saya sampai kewalahan," kata dia.

Sejak tanam sampai panen, selada membutuhkan waktu sekitar 40 hari.

Dalam hal ini Agus memilih untuk menanam secara bertahap agar setiap pekan dia bisa memanen seladanya.

Dengan begitu setidaknya dia secara rutin bisa memasok selada kepada para pemesan.

Dia menilai selada hidroponik memiliki keunggulan dibanding selada yang ditanam dengan cara konvensional.

Selada hidroponik dinilai lebih bersih.

Untuk dikonsumsi tidak perlu bersusah payak membersihkan selada

Alasan inilah yang belakangan membuat para pelanggan lebih memilih selada hidroponik.

"Jadi untuk dikonsumsi, seladanya tidak perlu susah untuk membersihkan.

Karena memang sudah bersih sejak sebelumnya.

Dan juga seladanya tampak segar," kata Agus. (Goz)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved