Ramadan 2026
Link Live Streaming Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026, Diumumkan Pukul 19.05 WIB
Berikut link live streaming sidang isbat penetapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi
TRIBUNJATENG.COM - Berikut link live streaming sidang isbat penetapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.
Sidang Isbat akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, pada Selasa (17/2/2026).
Pemerintah akan menghimpun berbagai data astronomi serta hasil pemantauan hilal dari sejumlah titik di Indonesia sebelum menetapkan keputusan akhir.
Di seluruh Indonesia total terdapat 96 lokasi pemantauan hilal.
Baca juga: Sidang Isbat Awal Ramadan 2026 Digelar Hari Ini, Berikut 15 Lokasi Pemantauan Hilal di Jateng
Penentuan awal Ramadhan dilakukan dengan mekanisme yang menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi langsung di lapangan).
Hasil sidang akan diumumkan kepada masyarakat setelah seluruh rangkaian tahapan selesai dilaksanakan pada pukul 19.05 WIB.
Berikut jadwal, tahapan, serta link live streaming Sidang Isbat 2026 yang dapat disaksikan masyarakat.
Link live streaming Sidang Isbat 2026
Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses Sidang Isbat dapat disaksikan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Kemenag RI.
Selain itu, Tribun Jateng.com juga menayangkan rangkaian pemantauan hilal hingga pengumuman hasil sidang melalui kanal YouTube resminya.
Berikut tautan siaran langsung Sidang Isbat awal Ramadhan 2026:
Link live streaming Sidang Isbat 1 Ramadhan 2026 (Kemenag)
Jadwal dan tahapan Sidang Isbat 1 Ramadhan 2026
Sidang Isbat penetapan awal Ramadhan dijadwalkan berlangsung pada Selasa (17/2/2026) mulai pukul 16.00 WIB.
Sidang ini akan dihadiri Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama, pimpinan Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia, perwakilan organisasi masyarakat Islam, serta perwakilan negara sahabat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal berdasarkan data hisab.
Selanjutnya, peserta sidang menerima laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
Setelah seluruh data terkumpul, pemerintah menggelar sidang penetapan secara tertutup.
Hasil keputusan kemudian diumumkan kepada publik melalui konferensi pers.
Dalam proses penentuan awal bulan Hijriah, pemerintah menggunakan pendekatan integrasi antara hisab dan rukyatul hilal.
Metode ini diterapkan untuk mengakomodasi berbagai pendekatan yang berkembang di masyarakat sekaligus menjaga persatuan umat.
Mengutip laman resmi Ditjen Bimas Islam, kedua metode tersebut menjadi landasan bersama dalam menetapkan awal bulan Hijriah secara nasional.
Pelaksanaan Sidang Isbat juga memiliki dasar hukum melalui Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Sidang Isbat.
Regulasi ini mengatur integrasi hisab dan rukyatul hilal, penggunaan kriteria imkanur rukyat MABIMS, serta tata cara penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.
Bagaimana posisi hilal awal Ramadhan 2026?
Berdasarkan perhitungan hisab saat Matahari terbenam pada Selasa (17/2/2026) posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk.
Secara rinci, tinggi hilal tercatat berkisar antara minus 2 derajat 24 menit di Jayapura, Papua, hingga minus 0 derajat 56 menit di Tua Pejat, Sumatera Barat.
Artinya, Bulan sabit muda tersebut belum berada di atas cakrawala saat Matahari terbenam.
Kemudian, elongasi geosentris, yakni jarak sudut antara Matahari dan Bulan berada di kisaran 0 derajat 56 menit di Banda Aceh hingga 1 derajat 53 menit di Jayapura.
Sementara itu, fraksi iluminasi atau bagian Bulan yang tersinari Matahari masih sangat kecil, yakni sekitar 0,01 persen di Sinabang hingga 0,05 persen di Jayapura.
Umur Bulan pada saat itu juga masih kurang dari nol jam di sebagian wilayah. Adapun selisih waktu Bulan terbenam setelah Matahari (lag) berkisar antara 8 menit 16 detik di Jayapura hingga minus 3 menit 7 detik di Tua Pejat, yang berarti Bulan sudah lebih dulu terbenam sebelum Matahari.
“Secara astronomis, kemungkinan terlihatnya hilal pada 17 Februari sangat kecil karena posisi Bulan masih berada di bawah cakrawala,” tulis akun Instagram @infobmkg.
Meski demikian, pengamatan tetap dilakukan sebagai bagian dari prosedur ilmiah dan dokumentasi astronomis.
Hilal 18 Februari 2026 diprediksi sudah terlihat
Situasi berbeda diperkirakan terjadi pada Rabu (18/2/2026).
Berdasarkan perhitungan hisab, tinggi hilal saat Matahari terbenam sudah berada di atas ufuk, yakni antara 7 derajat 37 menit di Merauke hingga 10 derajat 2 menit di Sabang, Aceh. Elongasi geosentris tercatat berkisar antara 10 derajat 42 menit di Jayapura sampai 12 derajat 13 menit di Banda Aceh.
Sementara itu, fraksi iluminasi Bulan mendekati 1 persen. Umur Bulan juga telah melampaui 20 jam, yakni sekitar 20 jam 55 menit di Jayapura hingga 23 jam 51 menit di Banda Aceh.
Adapun selisih waktu terbenam Bulan setelah Matahari (lag) mencapai 35 hingga 45 menit.
Angka-angka tersebut telah melebihi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan MABIMS, yaitu tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Dengan kondisi ini, peluang hilal untuk terlihat secara visual menjadi jauh lebih besar.
BMKG menyiapkan 37 titik pengamatan di seluruh Indonesia untuk pelaksanaan rukyatul hilal, termasuk sejumlah lokasi strategis yang dipantau secara intensif.
Data hasil pengamatan tersebut nantinya akan menjadi salah satu acuan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadhan oleh pemerintah. (Kompas.com)
| Bukan dari Arab, Inilah Sejarah Unik Halalbihalal dari Tradisi Nusantara hingga Tren Potluck |
|
|---|
| Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang |
|
|---|
| Atraksi Sembur Api Jadi Magnet Kemeriahan Malam Takbiran di Kebumen |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi di Balik Tradisi Malam Takbiran |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Hanya 20 Hari, Sripeni Yakin Cukup untuk Antar Warga Pulang Kampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Suasana-pemantauan-hilal1-Syawal-1445-H.jpg)