kominfo kota pekalongan
Museum Batik Pekalongan Perluas Edukasi Pelajar Lewat Program Goes To School
Museum Batik Kota Pekalongan, memperluas peran edukasinya kepada kalangan pelajar melalui program Museum Goes To School yang digelar sepanjang 2025.
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Museum Batik Kota Pekalongan, terus memperluas peran edukasinya kepada kalangan pelajar melalui program Museum Goes To School yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025.
Program ini dinilai efektif, sebagai sarana pengenalan batik kepada generasi muda, sekaligus upaya menjaga keberlanjutan kunjungan museum di tengah keterbatasan anggaran.
Baca juga: Belasan Tahun Cuma Tambal Sulam, Jalan Bojong-Kajen Pekalongan Rusak Parah Penuh Lubang
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan, Nurhayati Sinaga, mengatakan bahwa pelaksanaan program tersebut berangkat dari hasil pemetaan pengunjung museum yang menunjukkan dominasi pelajar sebagai pengunjung terbanyak.
Berdasarkan kondisi tersebut, pihak museum menilai sekolah menjadi sasaran paling tepat dalam menyosialisasikan batik sebagai warisan budaya daerah.
"Setelah kami lakukan pemetaan, pengunjung terbanyak museum berasal dari sekolah."
"Karena itu, kami menyasar pelajar agar sejak dini mereka memahami batik, tidak hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan identitas budaya," ujar Nurhayati.
Menurutnya, konsep Museum Goes To School bukan program baru. Kegiatan ini pernah dijalankan pada tahun-tahun sebelumnya dan kembali diimplementasikan pada 2025 dengan hasil yang positif.
Melalui kunjungan langsung ke sekolah, museum dapat menjangkau peserta didik yang memiliki keterbatasan akses untuk datang ke museum.
"Sepanjang 2025, program Museum Goes To School menyasar sekolah-sekolah di wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan hingga Kabupaten Batang."
"Sasaran kegiatan mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP, SMA, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB), termasuk sekolah bagi peserta didik difabel. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan batik, sejarah perkembangannya, serta peran batik sebagai identitas budaya daerah," ujarnya.
Nurhayati berharap, program ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan pada tahun 2026 agar museum semakin berfungsi sebagai ruang belajar yang inklusif dan dekat dengan generasi muda.
"Kalau ingin tahu kotamu, datanglah ke museum. Jika tahu asal-usul, maka kita akan tahu ke mana harus melangkah. Anak-anak muda perlu mengakar pada budayanya," katanya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat, Museum Batik Kota Pekalongan tetap memberlakukan tarif masuk yang terjangkau.
Baca juga: Wakil Bupati Sukirman: Kerukunan Antarumat Jadi Fondasi Persatuan di Pekalongan
Pada tahun 2026, tiket masuk ditetapkan sebesar Rp 3.000 untuk pelajar, Rp7.000 untuk pengunjung dewasa, dan Rp 20.000 untuk wisatawan mancanegara.
Museum dibuka mulai pukul 08.00 WIB dengan layanan loket hingga pukul 15.00 WIB dan tutup pada pukul 16.00 WIB.
"Melalui keberlanjutan program Museum Goes To School, Museum Batik Kota Pekalongan diharapkan dapat terus menjadi garda terdepan dalam pelestarian dan pewarisan nilai-nilai budaya batik kepada generasi penerus," tambahnya. (Dro)
| Gubernur Jawa Tengah Dorong Target Zero Waste Saat Run For Rivers di Pekalongan |
|
|---|
| Bappenas Kaji Opsi Bendung Gerak dan Kolam Retensi untuk Bremi-Meduri Pekalongan |
|
|---|
| Jalan Rusak Belum Beres, Pemkot Pekalongan Gaspol Bangun Kantor Baru |
|
|---|
| Joko Purnomo: Kepedulian Gereja Santo Petrus Jadi Semangat bagi Petugas Kebersihan |
|
|---|
| Pelat Jembatan Setono Pekalongan Ambles, DPUPR Lakukan Perbaikan Cepat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260112_Museum-Batik-Pekalongan_1.jpg)