Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Sosok Anita Wisudawati Terbaik UIN Walisongo Semarang: Ayah Saya Cuma Petani Lulusan SD

Anita asal Bojonegoro, Jawa Timur ini dikukuhkan sebagai wisudawati terbaik UIN Walisongo Semarang dengan raihan IPK gemilang yakni 3,73.

Tayang:
Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/KEMENAG
WISUDAWATI TERBAIK - Anita Firdaus, wisudawati terbaik S1 UIN Walisongo Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Meskipun orangtua hanya seorang petani dan lulusan SD, Anita telah membuktikan diri sebagai sosok ulet dalam menggapai impian besarnya.

Hal itu pun terbukti selama proses menimba ilmu di UIN Walisongo Semarang.

Dia menjadi sosok wisudawati terbaik UIN Walisongo Semarang pada 2026. Dia adalah mahasiswi S1 Prodi Manajemen Haji dan Umroh (MHU).

Baca juga: Menag RI Lantik 53 PNS UIN Walisongo: ASN Kemenag Harus Istiqomah

KemenHAM dan UIN Walisongo Gelar Uji Publik RUU HAM Berbasis Tantangan Era Modern

Ya, perjalanan panjang pendidikan Anita kini mencapai pada ujungnya. Perempuan bernama lengkap Anita Firdaus ini kini bisa bernafas lega.

Mahasiswi asal Bojonegoro, Jawa Timur ini dikukuhkan sebagai wisudawati terbaik UIN Walisongo Semarang dengan raihan IPK gemilang yakni 3,73.

Bagi Anita, pencapaian ini adalah buah dari keteguhan hati dan ketekunan.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bahagia. Benar-benar tidak menyangka kalau bisa menjadi wisudawan terbaik di jurusan Manajemen Haji dan Umroh."

"Semoga ilmunya berkah," ungkap Anita, Minggu (24/5/2026).

Anita bercerita jika tugas akhirnya cukup berani dan kontekstual. Dia sukses mempertahankan skripsi berjudul "Persepsi Jamaah Haji terhadap Kualitas Layanan Sistem Multi Syarikah pada KBIHU At-Tanwir Kabupaten Bojonegoro".

Topik ini tergolong baru karena mengkaji sistem pelayanan haji yang kali pertama diterapkan pada 2025.

Anita menyebut, dosen pembimbing sengaja mendorongnya mengambil judul tersebut agar dia memiliki wawasan yang luas serta jaringan yang banyak di luar kampus.

Meski demikian, proses turun ke lapangan tidaklah mudah bagi mahasiswi yang dikenal pemalu ini.

Anita harus berulang kali bolak-balik ke KBIHU dan berhadapan langsung dengan jamaah yang belum pernah dia kenal sebelumnya.

"Pengalaman paling berkesan sekaligus menantang adalah saat menentukan responden untuk diwawancarai."

"Awalnya saya merasa takut meminta izin ke pihak KBIHU. Ditambah lagi saat mencari jamaah, ada yang menerima dengan baik, tapi ada juga yang menolak."

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved