Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Siti Nur Aisyah, Anak Petani Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Berprestasi Internasional

Air mata haru, kerja keras, dan mimpi besar menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan akademik Siti Nur Aisyah.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Siti Nur Aisyah. Mahasiswi Program Studi S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Air mata haru, kerja keras, dan mimpi besar menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan akademik Siti Nur Aisyah.

Mahasiswi Program Studi S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Perempuan yang akrab disapa Aisyah, Ais, atau Iis itu mengaku sempat tak percaya ketika pertama kali mendengar kabar dirinya menjadi wisudawan terbaik.

“Awalnya saya kaget, terharu, senang, bahkan sempat bertanya dalam hati, ‘Benarkah saya?’ Saya pikir waktu itu masih nominasi, belum final,” ujarnya mengenang.

Rasa tak percaya itu perlahan berubah menjadi haru bercampur semangat ketika pihak fakultas mulai meminta foto almamater dan naskah sambutan wisudawan terbaik untuk agenda yudisium.

Saat itulah, Aisyah menyadari bahwa doa yang selama ini ia langitkan mulai menemukan jalannya.

Berbeda dengan sebagian mahasiswa yang tak pernah membayangkan meraih predikat tertinggi, menjadi wisudawan terbaik justru telah menjadi mimpi Aisyah sejak awal masuk kuliah.

Di balik mimpi itu tersimpan cita-cita besar: melanjutkan studi magister dan menjadi dosen sekaligus guru mengaji.

Ia menyadari bahwa jalan menuju impian tidak mudah.

Karena itu, sejak semester pertama Aisyah menjaga konsistensi akademik dengan prinsip sederhana: jika nilai tidak bisa naik, maka jangan sampai turun.

“Saya selalu berdoa dan berusaha agar nilai tetap konsisten. Saya ingin menjadi dosen, mengajarkan ilmu yang saya peroleh, dan sedikit meringankan beban kedua orang tua,” katanya.

Bagi Aisyah, gelar wisudawan terbaik bukan semata angka atau predikat akademik, melainkan bentuk jawaban doa yang dibukakan oleh Allah menuju mimpi-mimpi yang selama ini ia perjuangkan.

“Ini bukan hanya soal nilai tinggi, tapi jalan yang Allah bukakan menuju cita-cita yang saya langitkan,” tuturnya.

Di balik senyum wisuda, tersimpan cerita perjuangan panjang yang tidak ringan.

Selama kuliah, Aisyah harus membagi waktu antara perkuliahan dan aktivitas pesantren yang padat hingga larut malam.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved