Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Bawang Putih di Dapur MBG Kota Semarang Ternyata Masih Mengandung Pestisida

Bawang putih di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Semarang ternyata masih mengandung residu pestisida.

Tayang:
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
Ist/Dishanpan
MBG - Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Kota Semarang memanggil belasan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Dishanpan jalan Ki Mangunsarkoro, Selasa (30/9/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bawang putih di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Semarang ternyata masih mengandung residu pestisida.

Hal itu terungkap dari hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Kota Semarang di Kantor Dishanpan jalan Ki Mangunsarkoro, Selasa (30/9/2025).

Kadar residu pestisida yang ditemukan dalam bawang putih dinilai sedikit dan tidak membahayakan, serta mudah dihilangkan jika dicuci menggunakan air mengalir.

Baca juga: Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang Panggil Belasan Petugas SPPG Terkait MBG, Singgung Keracunan

Pada kesempatan itu belasan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari program MBG ikut hadir.

Dijelaskan, dipanggilnya para petugas SPPG di antaranya sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi keracunan massal, menyusul maraknya kasus serupa yang terjadi di sejumlah daerah.

Kepala Dishanpan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih mengatakan, sebanyak 14 SPPG dilatih untuk mendapatkan bimbingan teknis terkait menjaga keamanan menjaga keamanan pangan di SPPG.

Para peserta terdiri dari kepala SPPG dan ahli gizi masing-masing dapur MBG.

"Ini sebagai antisipasi, jangan sampai terjadi keracunan di Kota Semarang dalam penyelenggaraan makan bergizi gratis ini," kata Endang dihubungi Tribun Jateng.

Endang memaparkan, dalam pelatihan itu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium masakan dan bahan baku masakan dari dapur MBG.

Menurut Endang, dari hasil pemeriksaan laboratorium, sejumlah bahan seperti bawang putih masih mengandung residu pestisida, namun dalam kadar rendah dan tidak membahayakan.

"Bumbu seperti bawang putih itu ada pestisidanya, tapi dalam batas yang low. Nah, pestisida ini bisa dinetralisir dengan cara mencuci yang bersih dengan air mengalir, kemudian juga direbus," terangnya.

Sementara itu, ia menyebut tidak ditemukan adanya zat berbahaya seperti formalin maupun rhodamin.

"Untuk tadi bahan-bahan yang dibawa sebagai sampel ini kebetulan nggih, belum ada yang sampai tingkat yang membahayakan," ucapnya.

Endang menyebutkan, sampai saat ini, Dishanpan telah melatih 39 dari total 54 SPPG yang sudah beroperasi di Kota Semarang.

Sebelumnya, 25 SPPG telah dikunjungi secara langsung oleh tim Dishanpan.

Namun karena pertumbuhan jumlah SPPG yang semakin cepat, pelatihan kini dilakukan dengan sistem pemanggilan untuk efisiensi waktu dan tenaga.

Endang menyebut, pemanggilan ini bukan karena adanya pelanggaran, melainkan bentuk langkah preventif dari Pemerintah Kota Semarang.

"Nah, kali ini yang baru kita panggil ada 14, sehingga per hari ini kita sudah melatih kepala SPPG dan juga ahli gizi dari SPPG ini sebanyak 39 SPPG," imbuhnya.

MENINJAU - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Jepara M Ibnu Hajar meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ada di Kabupaten Jepara.
MENINJAU - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Jepara M Ibnu Hajar meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ada di Kabupaten Jepara. (Pemkab Jepara)

Jepara Cek Laboratorium MBG

Bukan hanya Kota Semarang, Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jepara juga di cek laboratorium usai ada 35 siswa yang diduga keracunan.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah memastikan tidak ada bakteri penyebab keracunan dalam menu MBG yang dikonsumsi 35 siswa di Banjaran Bangsri Kabupaten Jepara. 

Kepastian ini berdasar hasil uji laboratorium sampel makanan yang dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan dan PAK Provinsi Jawa Tengah, Jalan Soekarno Hatta Kota Semarang.

"Hasil lab tidak ada bakteri dalam menu MBG yang menyebabkan keracunan anak-anak di Banjaran Bangsri Jepara," kata Kadinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunjateng, Selasa (30/9/2025).

Diketahui, sampel makanan yang dibawa ke Balai Laboratorium Kesehatan dan PAK Provinsi Jawa Tengah adalah menu MBG yang dikonsumsi para siswa yang diduga mengalami keracunan makanan. 

Menu MBG yang  dikonsumsi siswa pada Selasa (23/9) adalah nasi putih, ayam kecap, sayur tumis jagung-buncis-wortel, susu kotak dan buah melon potong.

Sampel menu itu diambil dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjaran Bangsri. 

SPPG ini melayani progam MBG untuk 3.554 dari 40 sekolah yang tersebar di 3 desa di Kecamatan Bangsri.

Rinciannya Desa Banjaran, Banjaragung dan Srikandang.

Bupati Jepara Witiarso Utomo melalui Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Jepara M Ibnu Hajar mengatakan pihaknya juga sudah mendapat informasi hasil laboratorium Balai Labkes dan PAK Provinsi Jateng.

Menurut Gus Hajar seiring telah keluarnya hasil laboratorium ini, maka bisa dipastikan jika penyebab puluhan siswa di Banjaran mengalami pusing, mual, lemas dan gejala lain yang merujuk kasus keracunan makanan bukan berasal dari menu MBG

"Jadi clear kalau dari sampel menu MBG hasilnya negatif. Secara logika sebenarnya juga bisa dinalar, dalam sehari menu untuk 3.554 dari 40 sekolah itu sama, tapi mengapa yang mengalami pusing, mual dan lemas mayoritas hanya dari SDN 1 Banjaran. Nah, mungkin saja anak-anak itu mengkonsumsi makanan lainnya kita kan juga tidak tahu," ujar Wakil Bupati Jepara ini 

Gus Hajar menegaskan pihaknya sudah dan terus memantau progam MBG agar berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). 

SPPG juga terus didorong dan dipastikan sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dokumen resmi yang menjadi bukti jika suatu usaha terutama yang bergerak di bidang makanan dan minuman telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang ditetapkan pemerintah, produk yang dihasilkan aman dikonsumsi dan proses produksi yang dilakukan juga higienis.

"Mulai dari tempat masak atau dapur, bahan masakan, pengolahan hingga penyajian harus sesuai SOP," ujarnya.

Baca juga: BREAKING NEWS 2 Siswa Terakhir Keracunan Soto MBG Akhirnya Diizinkan Pulang dari Rumah Sakit

Para siswa penerima  juga akan terus diberi pemahaman terkait waktu konsumsi menu MBG

Merujuk SOP, makanan menu MBG  harus dikonsumsi maksimal 4 jam setelah disajikan. 

"Jadi mestinya tidak boleh dibawa pulang, tapi harus langsung disantap di sekolah agar tetap layak konsumsi, bergizi dan sehat" tutupnya. (idy/ito)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved