Berita Semarang
Buku Anak Misi untuk Raka Dorong Anak Kembali ke Dunia Bermain dan Interaksi Nyata
Raka dulu dikenal sebagai anak yang riang. Setiap sore, ia selalu menjadi orang pertama yang berlari keluar rumah
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Raka dulu dikenal sebagai anak yang riang. Setiap sore, ia selalu menjadi orang pertama yang berlari keluar rumah, mengajak teman-temannya bermain tanpa lelah. Namun, perlahan kebiasaan itu berubah. Ponsel di tangannya menjadi dunia baru yang lebih menarik dibandingkan lapangan bermain di depan rumahnya.
Ketika dua sepupunya, Tania dan Tora, datang dari kota saat liburan sekolah, mereka terkejut melihat perubahan itu. Raka yang dulu hangat dan penuh tawa kini lebih banyak menunduk menatap layar. Sapaan mereka sering tak terjawab. Ajakan bermain pun kalah oleh permainan di dalam genggaman.
Dari situ, Tora dan Tania membuat "misi" untuk membawa Raka kembali ke dunia nyata.
Empat misi pun disusun, yaitu bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya. Misi itu dibuat sangat dekat dengan dunia anak, yakni berlari di halaman, membantu nenek di rumah, membaca cerita, membuat mainan sendiri, hingga berkreasi dari barang bekas.
Perlahan, dunia Raka kembali berubah. Tawa itu muncul lagi. Layar tak lagi menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.
Baca juga: Detik-Detik Guru Gagalkan Pencurian Motor di Halaman Sekolah
Kisah itulah yang menjadi inti dari buku cerita anak Misi untuk Raka. Buku ini merupakan buku keempat dari Seri Buku Cerita Anak SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) yang diterbitkan Tanoto Foundation melalui kolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan anak, Misi untuk Raka membawa pesan tentang pentingnya literasi, stimulasi anak usia dini, serta upaya mengembalikan anak pada aktivitas bermain dan interaksi nyata bersama keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menjelaskan bahwa kehadiran buku Misi untuk Raka berangkat dari keterkaitan antara penguatan literasi, numerasi, dan kebutuhan stimulasi anak usia dini dalam konteks pengasuhan modern.
Ia menyampaikan, perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari interaksi langsung dengan lingkungan sekitar, terutama pada usia emas perkembangan.
“Program literasi dan numerasi yang sebelumnya kami jalankan sangat berkaitan dengan upaya penguatan literasi dan stimulasi anak usia dini saat ini,” kata Anang, Kamis (21/5/2026).
Anang menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya waktu penggunaan gawai pada anak. Menurutnya, anak-anak kini dapat menghabiskan waktu cukup panjang setiap hari di depan layar.
“Kami melihat bahwa saat ini anak-anak dapat menghabiskan waktu hingga tujuh jam per hari di depan layar,” ucapnya.
Ia menambahkan, pada kelompok usia yang lebih kecil pun durasi waktu layar (screen time) sudah cukup tinggi.
“Bahkan, pada anak usia 2 sampai 5 tahun, durasi penggunaan layar dapat mencapai sekitar dua hingga tiga jam per hari,” bebernya.
Menurut Anang, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena perkembangan optimal anak tidak dibentuk oleh layar, melainkan melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
| Prakiraan Cuaca Kota Semarang Hari Ini Jumat 22 Mei 2026: Hujan Ringan |
|
|---|
| Kejurnas Tenis Junior Piala Tugu Muda Digelar Juni 2026, Target 450 Peserta |
|
|---|
| Geger Ular Piton 1,5 Meter Ditemukan Melilit Pipa di Selokan Warga Mijen Semarang |
|
|---|
| Jateng Media Summit 2026, Dahlan Dahi: Media Tanpa Keunikan Akan Tenggelam di Era AI |
|
|---|
| Alasan Vonis AKBP Basuki Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa, Pilih Tidur saat Dosen Levi Tergeletak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260522_tanoto.jpg)