Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Buku Anak Misi untuk Raka Dorong Anak Kembali ke Dunia Bermain dan Interaksi Nyata

Raka dulu dikenal sebagai anak yang riang. Setiap sore, ia selalu menjadi orang pertama yang berlari keluar rumah

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muh radlis
IST
(Kiri-Kanan) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP3A) Eko Krisnarto; Pendongeng, Kempho Antaka; dan Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin menunjukkan buku Misi untuk Raka di Daycare Kota Semarang, Jalan Durian Raya, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026). Ist/Tanoto Foundation 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Raka dulu dikenal sebagai anak yang riang. Setiap sore, ia selalu menjadi orang pertama yang berlari keluar rumah, mengajak teman-temannya bermain tanpa lelah. Namun, perlahan kebiasaan itu berubah. Ponsel di tangannya menjadi dunia baru yang lebih menarik dibandingkan lapangan bermain di depan rumahnya.


Ketika dua sepupunya, Tania dan Tora, datang dari kota saat liburan sekolah, mereka terkejut melihat perubahan itu. Raka yang dulu hangat dan penuh tawa kini lebih banyak menunduk menatap layar. Sapaan mereka sering tak terjawab. Ajakan bermain pun kalah oleh permainan di dalam genggaman.


Dari situ, Tora dan Tania membuat "misi" untuk membawa Raka kembali ke dunia nyata.


Empat misi pun disusun, yaitu bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya. Misi itu dibuat sangat dekat dengan dunia anak, yakni berlari di halaman, membantu nenek di rumah, membaca cerita, membuat mainan sendiri, hingga berkreasi dari barang bekas.


Perlahan, dunia Raka kembali berubah. Tawa itu muncul lagi. Layar tak lagi menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.

Baca juga: Detik-Detik Guru Gagalkan Pencurian Motor di Halaman Sekolah


Kisah itulah yang menjadi inti dari buku cerita anak Misi untuk Raka. Buku ini merupakan buku keempat dari Seri Buku Cerita Anak SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) yang diterbitkan Tanoto Foundation melalui kolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.


Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan anak, Misi untuk Raka membawa pesan tentang pentingnya literasi, stimulasi anak usia dini, serta upaya mengembalikan anak pada aktivitas bermain dan interaksi nyata bersama keluarga maupun lingkungan sekitarnya.


Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menjelaskan bahwa kehadiran buku Misi untuk Raka berangkat dari keterkaitan antara penguatan literasi, numerasi, dan kebutuhan stimulasi anak usia dini dalam konteks pengasuhan modern.


Ia menyampaikan, perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari interaksi langsung dengan lingkungan sekitar, terutama pada usia emas perkembangan.


“Program literasi dan numerasi yang sebelumnya kami jalankan sangat berkaitan dengan upaya penguatan literasi dan stimulasi anak usia dini saat ini,” kata Anang, Kamis (21/5/2026).


Anang menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya waktu penggunaan gawai pada anak. Menurutnya, anak-anak kini dapat menghabiskan waktu cukup panjang setiap hari di depan layar.


“Kami melihat bahwa saat ini anak-anak dapat menghabiskan waktu hingga tujuh jam per hari di depan layar,” ucapnya.


Ia menambahkan, pada kelompok usia yang lebih kecil pun durasi waktu layar (screen time) sudah cukup tinggi.


“Bahkan, pada anak usia 2 sampai 5 tahun, durasi penggunaan layar dapat mencapai sekitar dua hingga tiga jam per hari,” bebernya.


Menurut Anang, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena perkembangan optimal anak tidak dibentuk oleh layar, melainkan melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved