Minggu, 24 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Sosok Asih Animal Communicator asal Semarang, Tangani Hewan Agresif Hasil Rescue

Asih warga Semarang ini dikenal sebagai animal communicator atau seseorang yang menjembatani komunikasi nonverbal antara manusia dan hewan.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
GENDONG KUCING - Asih Hardianti menggendong seekor kucing rescue berwarna hitam di kediamannya di kawasan Puspanjolo Tengah Raya, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (24/5/2026). Asih dikenal sebagai animal communicator yang menjembatani komunikasi nonverbal antara manusia dan hewan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Asih Hardianti (51) duduk santai di ruang tamu rumahnya di kawasan Puspanjolo Tengah Raya, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Di sekelilingnya, puluhan kucing rescue berlalu-lalang bebas.

Uniknya, hanya lewat satu panggilan singkat, kucing-kucing itu langsung mendekat seolah memahami setiap ucapan perempuan kelahiran 1974 tersebut.

Baca juga: Mendes Yandri Panen Melon di Tuntang Semarang, Siapkan Bantuan Dana untuk Desa Produktif

Wali Kota Semarang Sambut Biksu Thudong, Bawa Misi Perdamaian Menuju Waisak

Asih memang bukan dokter hewan. Namun dia dikenal sebagai animal communicator atau seseorang yang menjembatani komunikasi nonverbal antara manusia dan hewan.

Kecintaan Asih terhadap hewan sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. 

Namun perjalanan menjadi animal communicator baru dimulai saat dirinya aktif melakukan rescue kucing terlantar di Yogyakarta pada 2018.

Dari situ, dia sering menemukan kucing dengan perilaku agresif maupun trauma akibat kekerasan dan penelantaran manusia.

“Kucing yang saya temui, baik di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja, memiliki latar belakang dan perilaku yang berbeda-beda."

"Ada yang mengalami trauma akibat kekerasan dari manusia yang tidak menyukai mereka,” ujar Asih saat ditemui Tribunjateng.com di kediamannya, Minggu (24/5/2026).

Berangkat dari pengalaman tersebut, Asih mulai mencari cara untuk memahami kondisi emosional hewan-hewan rescue yang dirawatnya. 

Dia kemudian mengenal profesi animal communicator melalui dokter hewan sekaligus praktisi komunikasi hewan asal Tangerang, Rajanti Fitriani.

Pada pertengahan 2023, Asih memutuskan mengikuti kursus profesional untuk mempelajari komunikasi nonverbal dengan hewan.

“Saya merasa butuh belajar sendiri supaya bisa menangani kucing-kucing yang tiap hari saya temui tanpa harus selalu minta bantuan orang lain,” ungkapnya.

Perempuan yang juga bekerja sebagai ASN di Lingkungan Pemprov Jateng itu menilai manusia sebenarnya memiliki kemampuan membangun koneksi emosional dengan makhluk hidup lain melalui alam bawah sadar.

Menurutnya, komunikasi tersebut dilakukan bukan lewat bahasa verbal, melainkan lewat gelombang emosi, intuisi, dan energi positif.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved