Berita Solo
Hasil Panen Petani Boyolali dan Klaten Meningkat Lewat Program Sustainable Rice Platform
Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Rikolto Indonesia berkolaborasi untuk mengembangka
Penulis: Ardianti WS | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Hari Ketahanan Pangan Seduia diperingati pada tanggal 16 Oktober 2025.
Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Rikolto Indonesia berkolaborasi untuk mengembangkan Program Sustainable Rice Platform (SRP) di Soloraya.
Selama ini Rikolto sukses sebagai lembaga non-government organization (NGO) internasional yang telah berhasil membina ribuan petani di empat kota dan kabupaten di Jawa Tengah melalui Program Sustainable Rice Platform (SRP).
Nana Suhartana selaku Manajer Program Beras di Indonesia, Ratih Rahmawati selaku Koordinator Program Beras di Indonesia, dan Citra Savitri selaku Koordinator Komunikasi di Indonesia menjelaskan terkait perkembangan program Sustainable Rice Platform (SRP).
Nana Suhartana selaku Manajer Program Beras di Indonesia menjelaskan secara mendalam bagaimana Rikolto bersama mitra strategisnya, termasuk APPOLI sebuah organisasi petani padi dan palawija organik di Boyolali dan sekitarnya berbasis keanggotaan yang menjual beras dan palawija organik, berhasil mendorong transformasi sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan bagi petani kecil membangun Petani Mandiri Lewat Sustainable Rice Platform (SRP).
Sejak bermitra dengan aliansi petani APPOLI pada tahun 2018, Rikolto telah memperkenalkan metode Sustainable Rice Platform (SRP) pendekatan pertanian padi berkelanjutan yang menitikberatkan pada efisiensi penggunaan sumber daya, peningkatan hasil panen, dan perlindungan lingkungan.
Melalui metode ini, petani tidak hanya mendapatkan hasil panen yang lebih baik, tetapi juga mampu menjual gabah mereka dengan harga di atas rata-rata pasar.
“Kami tidak hanya berbicara soal peningkatan produksi, tapi juga tentang bagaimana petani memiliki posisi tawar yang lebih baik, pendapatan yang meningkat, dan lingkungan yang tetap lestari,” ujar Nana Suhartana.
Kata Nana, Rikolto hadir untuk memastikan setiap petani kecil mendapatkan akses pada pengetahuan, pasar, dan kebijakan yang berpihak pada mereka.
Terlebih saat aliansi petani APPOLI terbentuk, Rikolto berhasil mendampingi koperasi petani di Boyolali dan Klaten, yang kini menjadi percontohan praktik pertanian berkelanjutan di Jawa Tengah.
“Pendekatan ini melibatkan pelatihan teknik budidaya ramah lingkungan, manajemen pascapanen, serta strategi pemasaran produk unggulan yang mampu menjangkau pasar nasional hingga internasional,” terangnya.
Tidak hanya fokus pada hasil pertanian, Rikolto juga menekankan pentingnya inklusi sosial dalam sistem pangan.
Melalui pendampingan di APPOLI, organisasi ini mendorong partisipasi aktif perempuan dan generasi muda dalam kegiatan koperasi, mulai dari manajemen usaha, pemasaran, hingga inovasi produk.
“Keterlibatan perempuan dan anak muda sangat penting untuk memastikan keberlanjutan koperasi petani.
Mereka membawa semangat baru, ide-ide segar, dan memastikan pertanian tetap relevan di masa depan,” terang Ratih Rahmawati.
Program ini terbukti membawa dampak sosial yang luas. Selain memperkuat solidaritas antarpetani, keberadaan koperasi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa di sekitar wilayah binaan Rikolto.
Rikolto Indonesia tidak hanya bekerja pada sektor padi. Organisasi ini memiliki tiga fokus utama, yakni Padi Berkelanjutan, Kakao dan Kopi Berkelanjutan, serta Kota Cerdas Pangan (Food Smart City).
Ia menambahkan, ini merupakan inovasi dan kebijakan pangan yang berpihak pada petani kecil menjadi kunci dalam membangun sistem pangan yang tangguh.
Pendekatan Rikolto terbukti membawa dampak signifikan. Petani di wilayah dampingan kini menikmati peningkatan hasil panen hingga 20 persen, sementara harga jual gabah meningkat di atas harga pasar umum.
Lebih dari itu, penerapan metode SRP juga menurunkan penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis, sehingga memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan.
Dengan semangat kolaboratif bersama KRKP dan berbagai mitra lokal, Rikolto Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas dampak positifnya di wilayah lain di Indonesia, membawa misi besar menuju sistem pangan nasional yang berkeadilan, tangguh, dan berkelanjutan.
Nana Suhartono, Programme Manager Rikolto Indonesia, menjelaskan bahwa organisasi tersebut telah menjalin kemitraan kuat dengan empat koperasi produsen di dua provinsi, yaitu Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB) dan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) di Kabupaten Boyolali dan Koperasi Tani Pangan Lestari (KTPL) di Kabupaten Klaten.
Sejak dimulai tahun 2019, saat ini kami telah membina 4.336 petani dengan luasan lahan mencapai 2.413 hektar
Rikolto mulai menerapkan model pertanian berkelanjutan SRP ini sejak 2023 melalui program demplot (demonstration plot) di tujuh petak sawah.
Kini, di tahun 2025, program tersebut telah bergerak untuk mencakup seluruh desa mitra, berfokus pada pertanian berkelanjutan.
Salah satu kunci sukses program ini adalah kolaborasi dengan pemerintah daerah dan edukasi intensif kepada petani.
Rikolto aktif berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali dan Klaten untuk mengembangkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Hasil Petani meningkat melalui edukasi
Kepala Desa Pojok, Fitrianto, mengungkapkan bahwa sejak diterapkannya program tersebut setahun terakhir, produktivitas padi warga meningkat signifikan.
“Dengan adanya program SRP ini, manfaatnya sangat luar biasa. Para petani di Desa Pojok merasakan hasil panen yang meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Fitrianto.
Program SRP yang menekankan cara tanam ramah lingkungan dan efisien ini dinilai mampu mengubah kebiasaan bertani masyarakat.
Melalui pengelolaan lahan yang memperhatikan kadar pH tanah dan nutrisi alami, tanaman padi mampu tumbuh lebih sehat tanpa penggunaan bahan kimia.
Fitrianto juga mengajak masyarakat luas untuk mulai mengubah pola pikir dalam bertani.
“Mari kita ubah mindset cara tanam padi agar hasil panen bisa maksimal dan berkelanjutan.
Ini sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional yang juga menjadi fokus Presiden Prabowo Subianto,” pungkasnya.
Dukungan Pemkab Boyolali
Pemkab Boyolali memberi dukungan kepada program Sustainable Rice Platform (SRP).
Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Gunawan Andriyanta, menjelaskan bahwa penerapan SRP di Boyolali saat ini baru mencakup sekitar 2.000 hektare dari total 21.500 hektare lahan pertanian.
“Ke depan, prospeknya sangat baik karena dengan menggunakan SRP, biaya produksi, khususnya untuk pupuk, dapat ditekan. Namun produktivitasnya bisa dipertahankan bahkan meningkat,” ujar Gunawan.
Ia mengatakan, harapannya melalui penerapan SRP, biaya produksi menurun sementara pendapatan petani dapat meningkat.
“Jadi harapannya biaya produksinya turun, namun tingkat pendapatan dari petani akhirnya akan meningkat,” harapnya.
Ke depan, Dinas Pertanian Boyolali berharap sebanyak 2.500-5.000 hektare lahan pertanian di Boyolali bisa menerapkan SRP.
Dukungan Dinas Pertanian Klaten
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, DKPP menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pertanian berkelanjutan di daerah yang dikenal sebagai lumbung padi nasional ini.
Kepala DKPP Klaten, Iwan Kurniawan, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menjawab tantangan pertanian masa depan.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan lembaga, swasta, dan media sangat penting untuk memberikan semangat bagi para petani agar terus berinovasi untuk mencapai pertanian yang berkelanjutan,” ujar Iwan.
Klaten sendiri memiliki lahan sawah seluas 33.435 hektare atau sekitar 51 persen dari total wilayahnya. Daerah ini dikenal luas dengan beras unggulan Rojolele Delanggu yang telah menjadi ikon pertanian lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian Klaten menunjukkan peningkatan signifikan dengan kenaikan produksi beras mencapai 13 ribu ton.
Melalui program SRP, petani diajak beralih ke praktik budidaya berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Kemajuan Koperasi APOB
Koperasi Produsen Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB) kini menjadi salah satu contoh sukses penerapan Sustainable Rice Platform (SRP) di tingkat petani, berkat kemitraan strategis dengan lembaga internasional Rikolto.
Lebih dari 1.800 petani kini menghasilkan beras sehat, rendah emisi, dan ramah lingkungan melalui program SRP yang diterapkan oleh APOB Boyolali bersama Rikolto.
“Sejak bermitra dengan Rikolto, kami bisa mengembangkan budidaya pertanian beras SRP bersama kelompok tani di wilayah Sawit dan Tanju Dono.
Kami bangga bisa memproduksi pangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Murbowo, Selasa (7/10).
Kemitraan ini memperkuat kemampuan petani dalam praktik pertanian berkelanjutan, termasuk pengurangan penggunaan bahan kimia, efisiensi air, dan pengelolaan tanah yang ramah lingkungan.
Rikolto juga membantu dalam pembinaan kelompok tani, mulai dari pelatihan teknik budidaya SRP hingga strategi pemasaran.
Beras hasil produksi APOB berbeda dari beras konvensional. Penerapan SRP membuat input kimia berkurang signifikan sehingga produk yang dihasilkan lebih aman dikonsumsi.
Saat ini, APOB telah memasarkan beras SRP ke berbagai kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Meski belum menargetkan ekspor, APOB berfokus memperkuat pasar nasional agar hasil petani terserap maksimal.
Kini APOB menaungi 1.842 petani yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Boyolali, dengan rata-rata produksi mencapai 6,5 hingga 7 ton per hektare per musim tanam. Sebagian besar petani bahkan mampu menanam hingga tiga kali dalam setahun.
Dukungan terhadap gerakan pertanian SRP ini juga datang dari Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP).
APOB mendapatkan hibah berupa Rice Milling Unit (RMU) dan bangunan pengolahannya sebagai bentuk dukungan terhadap rantai pascapanen beras berkelanjutan.
Murbowo berharap pemerintah terus memperhatikan kebutuhan petani, terutama dalam hal ketersediaan pupuk dan sarana produksi yang mudah dijangkau.
Dengan harga gabah yang kini mencapai Rp6.500 per kilogram, para petani Boyolali mulai menikmati hasil nyata dari praktik pertanian SRP.
| Rute Bersertifikasi Internasional, Mangkunegaran Run 2026 Sukses Digelar |
|
|---|
| Berburu Kuliner Khas Solo di Mangkunegaran MakaN-MakaN 2026 |
|
|---|
| Bermodal Kunci T dan Airsoft Gun, Komplotan Pencuri Motor Lintas Provinsi Akhirnya Ditangkap di Solo |
|
|---|
| Geger Jasad Bayi di Sungai Anyar Solo, Usia Baru Sehari Pasca Kelahiran |
|
|---|
| Respati Ardi Tanggapi Namanya Dicatut Coffee Shop Jalan Slamet Riyadi Solo: Lagi Tren |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/201016_Koalisi-Rakyat-Untuk-Kedaulatan-Pangan.jpg)