PSIS Semarang
Masih Ingat dr. Mufida Eks Dokter Tim PSIS Semarang? Begini Karier Barunya Sekarang
Masih ingat dr. Mufida Rizqiyani Husna? Dokter yang pernah mencuri perhatian ribuan pendukung PSIS Semarang
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
Ringkasan Berita:
- dr. Mufida Rizqiyani Husna sempat menjadi idola suporter PSIS Semarang saat bertugas sebagai tim medis yang menangani pemain cedera di tengah lapangan pada musim 2022-2023.
- Di balik sorotan kamera, ia memikul tanggung jawab besar untuk menganalisis cedera atlet dalam hitungan detik serta memberikan pelayanan medis hampir 24 jam.
- Meski kini telah beralih karier ke bidang estetika, mantan dokter tim Mahesa Jenar ini mengaku kenangan kebersamaan para suporter tetap melekat kuat hingga sekarang.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di balik riuh rendah tribun stadion dan kerasnya duel lapangan hijau, sosok dr. Mufida Rizqiyani Husna pernah mencuri perhatian ribuan pendukung PSIS Semarang saat menjadi dokter tim Mahesa Jenar pada musim kompetisi 2022-2023.
Meski sempat menghadapi pandangan miring yang meragukan kemampuan perempuan di dunia sepak bola profesional.
Perempuan asal Kendal ini membuktikan dedikasinya lewat tanggung jawab tinggi dalam menangani cedera atlet yang menuntut kesigapan hingga 24 jam penuh.
Baca juga: Inilah Sosok Mufida Dokter Cantik Asal Kendal, Pernah Jadi Idola Suporter PSIS Semarang
Pada musim kompetisi 2022-2023, wajah perempuan yang akrab disapa Mufidah itu hampir selalu muncul di layar televisi setiap kali ada pemain yang terkapar akibat cedera.
Dengan langkah cepat, ia berlari dari pinggir lapangan menuju titik insiden.
Tak jarang, aksinya justru menjadi perhatian tersendiri bagi para penonton.
Bagi sebagian suporter PSIS, Mufidah bahkan sempat menjadi idola.
Kehadirannya memberikan warna berbeda di dunia sepak bola yang selama ini identik dengan kaum laki-laki.
Namun di balik sorotan kamera dan pujian dari tribun penonton, tersimpan kisah tentang dedikasi, kerja keras, dan pengabdian yang jarang diketahui publik.
Suka Olahraga Sejak Kuliah
Ketertarikannya pada dunia olahraga sebenarnya sudah tumbuh sejak masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Saat menyusun skripsi, ia memilih meneliti kehidupan atlet, khususnya kondisi psikologis menjelang pertandingan.
Selepas kuliah, Mufidah sempat berkarier di rumah sakit. Namun rutinitas yang berkutat di ruang IGD dan bangsal membuatnya mencari tantangan baru.
Kesempatan itu datang ketika dirinya bergabung dengan tim medis PSIS Semarang pada 2022.
Baginya, menjadi tenaga medis di klub sepak bola menawarkan pengalaman yang berbeda.
Ia tidak hanya bekerja di ruang perawatan, tetapi juga ikut mendampingi tim bertanding ke berbagai daerah.
“Menjadi dokter olahraga membuat mobilitas lebih luas. Bisa bertemu banyak orang dan menghadapi tantangan yang berbeda setiap hari,” kenangnya, Selasa (16/6/2026).
Meski di mata publik pekerjaannya terlihat sederhana, berlari menghampiri pemain yang cedera, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Dalam hitungan detik, ia harus mampu menganalisis kondisi atlet, menentukan tingkat cedera, hingga memutuskan apakah pemain masih layak melanjutkan pertandingan atau harus ditarik keluar.
Kesalahan kecil bisa berakibat besar bagi karier seorang atlet.
Karena itu, setiap langkah yang diambil di lapangan membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab tinggi.
Perjalanan Mufidah juga tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat menghadapi pandangan miring yang meragukan kemampuan perempuan di dunia olahraga profesional.
Ada yang menganggap tugasnya sekadar berlari ke tengah lapangan ketika pemain terjatuh.
Namun Mufidah memilih membuktikan kemampuannya lewat kerja nyata.
Di balik pertandingan yang berlangsung 90 menit, ia justru bekerja hampir tanpa mengenal waktu. Saat pemain beristirahat, tugas tim medis belum selesai.
Pernah suatu malam, ketika sebagian besar orang sudah terlelap, Mufidah harus melakukan tindakan medis kepada pemain pada tengah malam.
Esok paginya, ia kembali mendampingi sesi latihan sejak pukul enam pagi.
“Pelayanan kepada atlet itu hampir 24 jam,” ujarnya.
Tak hanya menangani cedera di lapangan, ia juga mendampingi pemain menjalani pemeriksaan lanjutan, mulai dari MRI, CT scan hingga konsultasi dengan dokter spesialis.
Semua dilakukan demi memastikan proses pemulihan berjalan maksimal.
Kini, tiga tahun setelah meninggalkan PSIS Semarang, Mufidah memilih berkarier di bidang estetika.
Meski demikian, kenangan bersama klub berjuluk Mahesa Jenar masih melekat kuat.
Yang paling membekas bukanlah sorotan kamera televisi atau popularitas yang sempat dirasakan, melainkan hubungan yang terjalin dengan para suporter.
Baca juga: Dokter Mufida Resmi Mundur dari PSIS Semarang, Janji yang Diunggah di Instagram Dinanti Suporter
Hingga kini, perempuan asal Kendal tersebut masih kerap disapa oleh pendukung PSIS ketika bertemu di berbagai kesempatan.
Bagi Mufidah, perhatian itu menjadi hadiah paling berharga dari perjalanan singkatnya di dunia sepak bola.
“Di mana pun saya berada, selalu ada yang menyapa. Rasanya seperti memiliki banyak saudara,” tuturnya. (*)
| Fariz Julinar Pastikan Ada Perombakan Besar Pemain PSIS Semarang Jelang Musim 2026/2027 Dimulai |
|
|---|
| Setelah Abimanyu, PSIS Semarang Umumkan Perpanjang Kontrak Winger Muda Krisna Jhon |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Syahrian Abimanyu Resmi Direkrut PSIS Semarang |
|
|---|
| BREAKING NEWS PSIS Semarang Resmi Rekrut Kembali Hari Nur Yulianto untuk Musim 2026/2027 |
|
|---|
| "Tanggung Jawab Pak YS" Klarifikasi PSIS Semarang Soal Tunggakan Gaji Kahudi Wahyu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260616_Sosok-dr-Mufida-Rizqiyani-Husna-mantan-dokter-PSIS-Semarang_2.jpg)