Wonosobo Hebat
Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Wonosobo Kembangkan Desa dan Pesantren Ramah Anak
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Kabupaten Wonosobo makin serius mendorong perlindungan anak melalui program Desa Ramah Anak dan Pesantren Ramah Anak.
Inisiatif ini bertujuan memperkuat hak-hak anak dan mendukung Wonosobo menuju status Kota Layak Anak (KLA).
Chief Financial Officer (CFO) Unicef Java, Ari Rukmantara, menyampaikan bahwa beberapa program Unicef di Wonosobo telah menunjukkan hasil positif.
“Beberapa program yang didukung Unicef di Wonosobo terlaksana dengan baik.
Baca juga: Natal di Gereja Blenduk, Ruang Iman yang Menyatukan Beragam Suku di Semarang
Baca juga: Kronologi Kecelakaan Truk Kontainer Melindas 4 Motor di Tonjong Brebes, Berawal Gagal Nanjak
Baca juga: Malam Pergantian Tahun di Semarang Disisipi Open Donasi, Disbudpar Imbau Swasta Lakukan Hal Sama
Di antaranya seperti terkelolanya organisasi Forkos, angka pernikahan dini menurun, berjalannya layanan kesejahteraan anak,” ujarnya.
Selain Desa Ramah Anak, Unicef juga mendorong Pesantren Ramah Anak agar lingkungan pondok pesantren aman dari kekerasan dan bullying, yang sering sulit dilaporkan anak.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan tantangan ini bullying menjadi perhatian serius.
“Jika di rumah, sekolah, dan lingkungan bermain, kekerasan terhadap anak atau bullying mudah dilaporkan ke orang tua ataupun orang terdekat.
Tetapi berbeda dengan di pondok pesantren, jika terjadi bullying mereka enggan untuk melaporkan ataupun sulit untuk diungkapkan,” ucapnya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/12/2025).
Langkah konkret dilakukan melalui perkumpulan pondok pesantren untuk mempermudah koordinasi, sehingga program seperti perbaikan sanitasi dan fasilitas pondok bisa masuk.
“Akhirnya lewat perkumpulan tersebut, kegiatan mulai masuk ke lingkungan pondok pesantren ataupun bisa disebut bahwa pesantren sudah mulai terbuka.
Akhirnya program seperti pembenahan septic tank, sanitasi juga sudah masuk ke lingkungan pesantren,” tambahnya.
Kepala Dinas PPKBPPPA Kabupaten Wonosobo Dyah Afif menekankan bahwa ramah anak bukan hanya slogan saja.
“Ramah Anak tidak hanya slogan tetapi sebuah keharusan di semua tempat,” ujarnya.
Dyah juga menyebut rencana program Unicef Masuk Pesantren, sebagai upaya meningkatkan kapasitas para pengasuh dalam menerapkan pola pengasuhan ramah anak.
“Pada nyatanya, para mengasuh merasa kewalahan, oleh karena itu mari kita agendakan Unicef Masuk Pesantren," ucap Dyah.
Dari tingkat provinsi, Yuli Arsiyanto, Perwakilan Dinas Perempuan dan Anak Jawa Tengah, menyampaikan bahwa Forum Anak Santri dibentuk untuk menguatkan koordinasi lintas sektor.
“Masing-masing kabupaten beranggotakan 2 orang, yaitu 1 santri usia di bawah 18 tahun dan 1 pendamping,” ujarnya.
Menurut Yuli, pemenuhan hak anak ibarat membangun pondasi rumah yang kokoh, membutuhkan kerja sama lintas sektor agar anak-anak dapat tumbuh aman dan terlindungi. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/HAK-ANAK-Chief-Financial-Officer-CFO-Unicef-Java.jpg)