Wonosobo Hebat
Jalisu Wonosobo Ditutup Mulai Besok, Pemeliharaan dan Penanganan Rawan Longsor Dilakukan
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Jalan Lingkar Sumbing (Jalisu) di Kabupaten Wonosobo ditutup sementara mulai 16 Januari 2026 hingga 20 Februari 2026.
Penutupan ini dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo untuk pemeliharaan infrastruktur serta penanganan titik-titik rawan longsor di ruas Butuh-Bowongso.
Pengumuman resmi penutupan ini disampaikan melalui akun Instagram DPUPR Wonosobo, @dpuprwonosobo.
Dalam keterangannya, DPUPR menekankan bahwa penutupan total jalan dilakukan demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan jalur alternatif agar proses pengerjaan dapat berlangsung lancar.
"Guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan, DPUPR Kabupaten Wonosobo akan melakukan pemeliharaan infrastruktur serta penanganan titik longsor di Jalan Lingkar Sumbing.
Oleh karena itu, akses jalan akan DITUTUP TOTAL mulai tanggal 16 JANUARI 2026 hingga 20 FEBRUARI 2026.
Kami memohon maaf atas gangguan perjalanan Anda. Partisipasi masyarakat untuk menggunakan jalur alternatif sangat kami harapkan demi kelancaran proses pengerjaan," mengutip postingan DPUPR Wonosobo melalui akun Instagram resmi @dpuprwonosobo, Kamis (15/1/2026).
Jalan Lingkar Sumbing sendiri merupakan jalur sepanjang 3,3 kilometer dengan lebar badan jalan 5,5 meter, yang dibangun melalui kegiatan Inpres Jalan tahun 2025.
Jalan ini sempat viral karena keindahan pemandangannya dan banyak dikunjungi wisatawan.
Sebelumnya, Kepala DPUPR Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menegaskan bahwa meskipun jalan telah selesai dibangun, lebih dari 30 persen wilayah di sepanjang jalur masih rawan longsor.
"Badan jalannya sudah, tapi kami harus mengakui bahwa rawan longsornya masih tinggi. Maka kami segera pasang rambu-rambu peringatan dan melakukan upaya penanganan khusus di titik-titik rawan longsor," ucapnya.
Adin menambahkan, upaya penanganan tidak hanya berbasis konstruksi, tetapi juga melibatkan penanaman vegetasi penahan erosi.
Beberapa jenis tanaman yang akan ditanam bersama masyarakat antara lain akar wangi, vetiver, dan kaliandra.
Sistem drainase juga sedang diperbaiki untuk memastikan aliran air di atas tebing berjalan lancar, termasuk di titik-titik yang pernah mengalami longsor.
Selain aspek keselamatan, DPUPR juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pola penggunaan lahan.
Adin menyebutkan bahwa pembangunan jalan tidak ingin memicu perubahan fungsi lahan secara masif di kawasan lindung.
“Sekali lagi, kami tidak ingin infrastruktur terbangun, tetapi kemudian terjadi pengalihfungsian lahan yang masif sehingga menurunkan daya dukung lingkungan,” ujarnya.
Jalan Lingkar Sumbing kini menjadi potensi jalur wisata baru sekaligus mendukung kegiatan pertanian di Kabupaten Wonosobo mulai dari Reco, Butuh, Kembaran, Bowongso, Banyumudal, hingga kawasan Kalikajar sekitarnya.
Namun, beberapa titik masih memerlukan perkuatan tebing dan perhatian khusus karena kondisi geografis Kabupaten Wonosobo yang sebagian besar berada di daerah rawan bencana.
DPUPR berharap partisipasi masyarakat dalam menggunakan jalur alternatif selama proses pemeliharaan dapat menjaga keselamatan bersama sekaligus memastikan pengerjaan berjalan lancar. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260115_wonosobo.jpg)