Wonosobo Hebat

Pemkab Wonosobo Dorong Program HDDAP untuk Perbaiki Pertanian Lahan Kering

TRIBUN JATENG/Diskominfo Wonosobo
PROGRAM HDDAP - Bupati Afif Nurhidayat menyampaikan arah pengembangan program HDDAP saat kegiatan koordinasi lanjutan di Pendopo Kabupaten Wonosobo, Jumat (10/4/2026). Program ini difokuskan untuk mengatasi persoalan pertanian lahan kering dan meningkatkan kesejahteraan petani. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) mulai diarahkan sebagai solusi untuk menjawab persoalan mendasar pertanian lahan kering di Kabupaten Wonosobo.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan bahwa tantangan pertanian saat ini telah berubah.

Tidak lagi hanya berfokus pada produksi, tetapi juga kualitas hingga daya saing pasar.

“Tantangan pertanian saat ini tidak lagi sebatas pada peningkatan produksi, melainkan juga pada kualitas, keamanan pangan, efisiensi, dan keberlanjutan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya,  Senin (13/4/2026).

Baca juga: Banjir Wonosobo Belum Tuntas, DPUPR Kaji Pembangunan Sodetan Sungai

Ia juga menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam pengelolaan sektor pertanian.

“Sektor pertanian harus bertransformasi dari sekadar production-oriented menjadi value-oriented agriculture,” tegasnya.

Kondisi di lapangan menunjukkan tekanan yang tidak ringan.

Lahan kering di Wonosobo menghadapi keterbatasan air, degradasi tanah, serta dampak perubahan iklim yang semakin terasa.

Di sisi lain, standar pasar terus meningkat dan menuntut sistem pengawasan serta mutu yang lebih ketat.

Menurut Afif, program HDDAP relevan karena menyasar persoalan inti tersebut.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak bisa dicapai secara parsial.

“Kita tidak bisa lagi bekerja secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat agar setiap kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan riil petani,” katanya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari laporan administratif.

“Bagi kami, keberhasilan program ini harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan petani, bukan sekadar capaian administratif,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sanusi, mengungkapkan bahwa persoalan hortikultura nasional masih cukup kompleks.

“Produktivitas dan daya saing kita masih rendah, salah satunya karena keterbatasan akses irigasi, jalan produksi, serta teknologi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti belum optimalnya pemanfaatan lahan kering di Indonesia.

“Potensi lahan kering kita sekitar 53 juta hektare, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal,” tambahnya.

Selain itu, nilai tambah produk hortikultura dinilai masih rendah sehingga perlu pendekatan yang lebih menyeluruh.

“Diperlukan strategi komprehensif yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan kelembagaan petani,” ujarnya.

Melalui HDDAP, pemerintah mendorong pengembangan klaster hortikultura berbasis wilayah, optimalisasi lahan kering, hingga penguatan rantai nilai dan akses pasar.

Di Wonosobo, program ini difokuskan pada komoditas kentang di kawasan Dieng dan salak di Kecamatan Watumalang dengan total luasan sekitar 619 hektare dan melibatkan lebih dari 3.000 petani.

Sejumlah langkah teknis telah disiapkan untuk 2026, mulai dari penyediaan benih, penguatan sarana produksi, hingga pendampingan berbasis standar budidaya dan pemanfaatan teknologi digital. (ima)