Wonosobo Hebat

Stok Kurban di Wonosobo Hanya 2.706 Sapi, Dispaperkan Pastikan Kebutuhan Aman

TRIBUN JATENG/Imah Masitoh
HEWAN KURBAN - Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Heri Prasetya memberikan keterangan terkait stok hewan kurban menjelang Iduladha 2026 di Kabupaten Wonosobo. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Dispaperkan Kabupaten Wonosobo terus memantau ketersediaan hewan kurban di wilayahnya. 

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Heri Prasetya mengatakan, populasi sapi yang tercatat saat ini mencapai 2.706 ekor. 

“Untuk stok ini berdasarkan pendataan atau pengolahan data, untuk sapi itu tidak banyak, hanya 2.706 ekor, 27.156 kambing, dan 15.284 domba,” kata Heri kepada tribunjateng.com, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Kisah Mbah Painah di Wonosobo, Buruh Petik Daun Pisang yang Berhasil Naik Haji

RS PKU Muhammadiyah Wonosobo Jadi Pelopor Layanan Kesehatan Tradisional di Daerah

Menurutnya, jumlah sapi lokal di Wonosobo memang tidak sebesar daerah sentra peternakan lain di Jawa Tengah. 

Meski begitu, kondisi tersebut dinilai tidak akan mengganggu kebutuhan masyarakat saat Iduladha karena selama ini pasokan sapi juga datang dari luar daerah.

“Kalau yang sapi memang sedikit jumlahnya, tapi biasanya nanti ada sapi dari luar daerah yang masuk sehingga tetap kebutuhan sapi kurban di Wonosobo tercukupi seperti tahun-tahun yang sebelumnya,” ujarnya.

Heri menjelaskan, pola distribusi hewan kurban di Wonosobo hampir selalu sama setiap tahun. 

Menjelang Iduladha, pedagang dari sejumlah daerah biasanya mulai memasok sapi ke pasar-pasar hewan maupun lapak penjualan di pinggir jalan.

Namun hingga saat ini, aktivitas perdagangan hewan kurban di Wonosobo disebut belum mengalami peningkatan yang signifikan. 

Berdasarkan pemantauan Dispaperkan, jumlah hewan yang masuk pasar masih relatif normal.

“Pasar hewan masih biasa, belum ada peningkatan yang signifikan,” kata Heri.

Dia menyebut, dalam pemantauan sekira sepekan lalu, yang masuk pasar hewan hanya sekira 26 sapi. Sementara kambing dan domba berkisar 150 hingga 200 ekor.

Meski kondisi pasar masih cenderung landai, Dispaperkan memperkirakan jumlah hewan kurban tahun ini berpotensi meningkat dibanding tahun sebelumnya. 

Prediksi itu berkaca pada tren pemotongan hewan kurban dalam beberapa tahun terakhir yang terus mengalami kenaikan.

“Pengalaman tahun sebelumnya, 2024 ke 2025 itu ada peningkatan, ada kemungkinan juga nanti tahun ini ada peningkatan,” kata Heri.

Meski demikian, peningkatan tersebut diperkirakan tidak terlalu tinggi. Dispaperkan juga menilai kemungkinan penurunan jumlah hewan kurban relatif kecil.

“Jika meningkat tidak terlalu banyak, tapi untuk penurunan tidak ada penurunan, itu prediksi kami,” ujarnya.

Baca juga: Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional HB II Terus Digodok, Pemkab Wonosobo Gelar Audiensi

Sosialisasi di Wonosobo, BPJPH Tegaskan Oktober 2026 Jadi Batas Akhir Produk Wajib Sertifikat Halal

Data pemotongan hewan kurban tahun sebelumnya juga menjadi dasar Dispaperkan dalam memprediksi tren Iduladha 2026. 

Berdasarkan catatan pemerintah daerah, jumlah hewan kurban pada 2025 mencapai ribuan ekor dan didominasi sapi serta domba.

Tercatat, jumlah sapi yang dipotong saat Iduladha tahun lalu mencapai 3.059 ekor. Sementara kambing ada 7.667 ekor dan domba mencapai 8.388 ekor.

Data tersebut menunjukkan kebutuhan hewan kurban di Wonosobo setiap tahun relatif tinggi, terutama untuk sapi. 

Karena itu, keberadaan pasokan ternak dari luar daerah dinilai masih menjadi faktor penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk mendukung pendataan Iduladha tahun ini, Dispaperkan juga mulai berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan. Langkah itu dilakukan karena keterbatasan jumlah petugas lapangan yang dimiliki dinas.

Menurut Heri, saat ini hanya ada sekira 11 petugas yang harus menangani 15 kecamatan di Kabupaten Wonosobo. Akibatnya, beberapa petugas harus mengampu lebih dari satu wilayah.

Kondisi tersebut membuat proses pemantauan dan pendataan pemotongan hewan kurban tidak bisa dilakukan secara menyeluruh dalam waktu bersamaan. 

Karena itu, Dispaperkan biasanya menggunakan metode sampling untuk memperoleh data lapangan.

“Waktu yang sama untuk pemotongannya, petugasnya terbatas, ini tidak bisa menjangkau semuanya, kami sampling,” ujar Heri.

Meski demikian, pihaknya memastikan data pemotongan hewan kurban tetap akan dihimpun dan dilaporkan kepada pemerintah daerah sebagai bahan evaluasi tahunan. (*)