Wonosobo Hebat

Jelang Iduladha 2026, Dispaperkan Wonosobo Minta Peternak Waspadai PMK

TRIBUN JATENG/Imah Masitoh
IDULADHA - Dispaperkan Kabupaten Wonosobo lakukan penyemprotan disinfektan di pasar hewan Wonolelo usai adanya lonjakan kasus PMK, Selasa (14/1/2025). Menjelang Iduladha 2026, Dispaperkan Wonosobo meningkatkan pengawasan kesehatan hewan guna mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Wonosobo disebut masih ditemukan meski jumlah kasusnya tidak lagi sebesar saat awal wabah beberapa tahun lalu. 

Pemerintah daerah meminta peternak tetap waspada, terutama menjelang meningkatnya lalu lintas hewan kurban saat Iduladha.

Baca juga: Menjelang Iduladha, Harga Kambing di Kudus Terkerek Naik

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Heri Prasetya, mengatakan kondisi PMK saat ini relatif lebih terkendali karena program vaksinasi terus dilakukan sejak 2022.

“PMK ini masih ada walaupun tidak separah awal-awal dulu,” kata Heri kepada tribunjateng.com, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, vaksinasi PMK tetap dilaksanakan setiap tahun meski jumlah dosis yang diberikan tidak sebesar masa awal wabah.

“Untuk vaksinasi PMK di tahun 2026 ini kita sudah berjumlah 1.683 ekor,” ujarnya.

Jumlah tersebut tersebar di 30 desa yang berada di sembilan kecamatan di Kabupaten Wonosobo. 

Pemerintah daerah menargetkan cakupan vaksinasi terus meningkat hingga akhir tahun.

“Kita upayakan karena target provinsi 6.000, sebenarnya dapat alokasi 6.000, ini kita baru segitu,” kata Heri.

Ia menjelaskan, pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara bertahap sesuai distribusi dan kesiapan petugas di lapangan. 

Pemerintah provinsi juga meminta daerah terus memperluas cakupan vaksinasi untuk menekan risiko penyebaran PMK.

“Jadi memang kita diminta bertahap, artinya terakhir nanti tahun 2026 ini target kalau bisa 6.000 untuk vaksinasi,” ujarnya.

Meski laporan resmi kasus PMK relatif kecil, Dispaperkan menilai masih ada kasus ringan yang tidak tercatat karena masyarakat mulai terbiasa menghadapi penyakit tersebut.

“Ini kadang-kadang tidak terlaporkan. Jadi masyarakat itu sudah mulai terbiasa dengan PMK. Kalau ngga parah biasanya ngga laporan ke petugas,” kata Heri.

Data resmi yang masuk ke dinas dan dilaporkan melalui aplikasi nasional Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) hingga kini hanya enam kasus.

“Kalau yang sudah dilaporkan ke dinas, kemudian kita laporkan ke aplikasi secara nasional itu hanya enam ekor, nggak banyak,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap hewan ternak yang baru datang dari luar daerah. 

Heri menyarankan ternak baru tidak langsung dicampur dengan sapi lain yang sudah berada di kandang.

“Kalau ada ternak baru ya jangan langsung dicampur dengan ternak yang sudah dikandang,” katanya.

Dispaperkan menyarankan peternak melakukan isolasi sementara selama dua pekan untuk memastikan kondisi hewan benar-benar sehat.

“Maksimalkan untuk dipisah dulu, isolasi sekitar 14 hari lah baru aman,” ujar Heri.

Baca juga: Jelang Iduladha, Dispaperta Batang Sidak Lapak Hewan Kurban

Menurutnya, langkah isolasi menjadi penting karena lalu lintas hewan menjelang Iduladha biasanya meningkat cukup tinggi. 

Kondisi itu dinilai berpotensi memicu penyebaran penyakit jika pengawasan kesehatan hewan tidak dilakukan secara ketat.

Selain vaksinasi, Dispaperkan juga menyiagakan petugas kesehatan hewan di pasar hewan dan lokasi penjualan ternak untuk memantau kondisi sapi, kambing, maupun domba yang masuk ke wilayah Wonosobo. (ima)