Wonosobo Hebat
Jelang Iduladha, Wonosobo Perketat Pengawasan Hewan Kurban dan Waspadai PMK
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo mulai memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban.
Selain memastikan ketersediaan ternak, pemerintah juga mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo mencatat stok sapi di daerah saat ini mencapai 2.706 ekor. Sementara populasi kambing sebanyak 27.156 ekor dan domba 15.284 ekor.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispaperkan Wonosobo, Heri Prasetya, mengatakan kebutuhan sapi kurban masyarakat diperkirakan tetap tercukupi meski stok sapi lokal tidak terlalu besar.
“Kalau yang sapi memang sedikit jumlahnya, tapi biasanya nanti ada sapi dari luar daerah yang masuk sehingga tetap kebutuhan sapi kurban di Wonosobo tercukupi seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Heri.
Menurutnya, aktivitas pasar hewan hingga kini belum menunjukkan peningkatan signifikan menjelang Iduladha, diperkirakan saat pasaran hari Minggu esok mulai terlihat aktivitasnya.
Meski demikian, Dispaperkan memprediksi jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini tetap meningkat dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan diperkirakan tidak terlalu besar, tetapi tren permintaan kurban disebut masih terus tumbuh.
“Ada kemungkinan juga nanti ada peningkatan, tapi tidak terlalu banyak,” kata Heri.
Selain memantau pasar hewan, Dispaperkan juga memperkuat pengawasan kesehatan ternak untuk mengantisipasi penyebaran PMK.
Heri mengatakan kasus PMK di Wonosobo saat ini masih ada, meski tidak separah saat awal wabah beberapa tahun lalu.
Pemerintah daerah terus melaksanakan vaksinasi rutin sejak 2022. Pada 2026, vaksinasi PMK telah menjangkau 1.683 ekor ternak di 30 desa pada sembilan kecamatan.
“PMK ini masih ada walaupun tidak separah awal-awal dulu,” ujarnya.
Ia mengimbau peternak tetap berhati-hati saat mendatangkan ternak baru, terutama dari luar daerah. “Kalau ada ternak baru jangan langsung dicampur. Maksimalkan dipisah dulu sekitar 14 hari,” kata Heri.
Kondisi tersebut juga dirasakan peternak sapi asal Kecamatan Kalikajar, Sriono Edi Subekti. Peternak yang akrab disapa Eed itu tahun ini mendapat pesanan khusus sapi kurban Presiden Prabowo Subianto.
Sapi jenis Belgian Blue miliknya dipilih setelah melalui proses seleksi karena memiliki bobot lebih dari satu ton.
Menjelang Iduladha, Eed mengaku melakukan pengawasan lebih ketat terhadap kondisi ternaknya untuk mengantisipasi PMK. “Karena PMK masih ada, kami antisipasi tidak memasukkan sapi baru agar terjaga kesehatannya,” kata Eed.
Menurutnya, dampak PMK juga ikut memengaruhi populasi dan harga sapi di pasaran menjelang Iduladha tahun ini.
“Harga sapi cenderung naik karena populasi juga, dan penyakit PMK juga mengurangi populasi sapi,” ujarnya.
Dispaperkan juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak memotong sapi betina produktif saat Iduladha. Menurut Heri, larangan tersebut sebenarnya sudah lama diterapkan di Rumah Potong Hewan (RPH) Wonosobo.
Namun, praktik pemotongan di luar RPH masih menjadi perhatian pemerintah. “Di RPH sudah berjalan, cuma memang masalahnya di masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan sapi betina sering dipilih karena harga lebih murah. Karena itu, edukasi kepada masyarakat dan jagal terus dilakukan agar lebih mengutamakan sapi jantan untuk kurban.
Selain pengawasan hewan kurban, Dispaperkan saat ini juga mulai melakukan pemantauan lapak penjualan ternak di pinggir jalan dan aktivitas di RPH menjelang Iduladha. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260522_wonosobo2.jpg)