Wonosobo Hebat
Anemia dan Risiko Talasemia pada Remaja Tinggi, Dinkes Wonosobo Intensifkan CKG di Sekolah & Ponpes
Kasus Anemia dan Risiko Talasemia pada Remaja Tinggi, Dinkes Wonosobo Intensifkan CKG di Sekolah dan Ponpes
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Wonosobo memasuki tahun kedua pelaksanaan pada 2026.
Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo kini memfokuskan pemeriksaan kesehatan pada kelompok pelajar, remaja, dan santri pondok pesantren.
Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan, mengatakan kelompok usia sekolah menjadi sasaran penting karena memiliki jumlah besar dan mudah dijangkau melalui sekolah maupun pondok pesantren.
“Cek kesehatan gratis ini sudah masuk di tahun kedua ya, 2026. Salah satu kelompok sasaran penting kita adalah anak sekolah dan remaja,” kata Jaelan usai kegiatan CKG di Pondok Pesantren Rahmatul Umat, Jumat (22/5/2026)
Menurutnya, pelaksanaan program CKG pada 2025 menunjukkan tingginya antusiasme sekolah dan pondok pesantren dalam memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Dari target 20 persen untuk kelompok remaja dan anak sekolah, capaian pemeriksaan mencapai 79,8 persen.
“Berarti antusiasme sekolah termasuk pondok pesantren untuk memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis itu sangat tinggi,” ujarnya.
Tingginya partisipasi tersebut membuat Dinkes Wonosobo mempercepat pelaksanaan pemeriksaan kesehatan pada 2026.
Jika tahun sebelumnya layanan baru berjalan pada Agustus hingga September, tahun ini pemeriksaan sudah dimulai sejak awal tahun.
Jaelan menyebut hingga 19 Mei 2026, capaian program sudah melampaui target sementara.
“Target kita 2026 kan 64 persen. Per 19 Mei kemarin paling engga kita sudah harus di 22,36 persen. Ini Alhamdulillah kita cakupannya sudah 24 persen,” katanya.
Ia juga menyebut cakupan pemeriksaan untuk kelompok anak sekolah dan remaja sudah berada di angka lebih dari 30 persen pada awal trimester kedua 2026.
Angka tersebut dinilai jauh lebih baik dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Program pemeriksaan kesehatan menyasar pelajar mulai tingkat SD atau MI hingga SMA, SMK, dan MA dengan rentang usia sampai 18 tahun.
Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok usia memiliki jenis pemeriksaan berbeda. Untuk kelompok remaja dan pelajar, terdapat sekitar 17 hingga 19 jenis pemeriksaan kesehatan.
Pemeriksaan tidak hanya meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, tetapi juga skrining berbagai penyakit menular maupun gangguan kesehatan tertentu.
“Salah satunya itu talasemia, jadi tidak hanya sekadar diukur tinggi badan, berat badan, tapi juga ada pemeriksaan untuk penyakit menular,” ujar Jaelan.
Selain talasemia, pemeriksaan juga mencakup anemia, tuberkulosis, penyakit kulit seperti skabies, hingga frambusia.
Pada pelaksanaan program 2025, Dinkes menemukan tiga anak dengan risiko talasemia.
Meski jumlahnya kecil dibanding total peserta pemeriksaan, Jaelan menilai temuan tersebut sangat penting.
“Tiga yang terdeteksi talasemia itu, kalau tidak terdeteksi berarti kan risiko tinggi untuk jadi talasemia di masa-masa yang akan datang,” katanya.
Deteksi dini ini memungkinkan tenaga kesehatan melakukan intervensi lebih cepat sehingga risiko penyakit dapat ditekan sejak awal.
Selain talasemia, tingginya kasus anemia pada remaja juga menjadi perhatian serius Dinkes Wonosobo.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, anemia ditemukan mulai kategori ringan hingga berat pada anak sekolah.
“Anemia dari mulai ringan, sedang, dan berat juga ternyata memang tinggi untuk anak-anak sekolah kita,” ujar Jaelan.
Ia menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan stunting dan kesehatan ibu melahirkan.
Remaja putri yang mengalami anemia dinilai memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi ketika memasuki masa kehamilan.
Data Dinkes menunjukkan angka kematian ibu di Wonosobo masih mengalami fluktuasi.
Pada 2023 jumlah kasus sempat turun menjadi 4 kasus, namun kembali naik menjadi 11 kasus pada 2024 sebelum turun lagi menjadi 8 kasus pada 2025.
Karena itu, program konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri terus diperkuat melalui kegiatan sekolah.
“Program Jumat Berseri yang kita minum tablet tambah darah bareng-bareng mulai dari SMP, SMA itu berarti harus kita teruskan,” kata Jaelan.
Ia berharap pemeriksaan kesehatan rutin di sekolah dan pondok pesantren dapat memperkuat upaya deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda di Wonosobo. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260522_wonosobo3.jpg)