Yogya Perlu Gencarkan Promosi Wisata
Pelaku industri pariwisata Yogyakarta meminta pemerintah daerah mencari pasar baru u
TRIBUNJATENG.COM YOGYA, Pelaku industri pariwisata Yogyakarta meminta pemerintah daerah mencari pasar baru untuk menjaring wisatawan mancanegara. Sebab, minimnya promosi membuat potensi wisata Yogyakarta yang begitu melimpah belum tergarap sempurna.
“Promosi pariwisata tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Harus ada mekanisme dan pola yang saling mendukung baik dari potensi, pangsa pasar, promosi serta kecenderungan pasar global,” kata pelaku jasa pariwisata Yogyakarta, Hadi Buana, Senin (20/2/2012).
Menurut Hadi saat sekarang merupakan momentum tepat bagi pemerintah provinsi, kabupaten/ kota maupun stakeholder pariwisata untuk saling sinergis membangun kerjasama. Harus guyub dan memberi dampak positif bagi pariwisata DIY ke depan.
" Selama ini memang masih ada kecenderungan mereka masih senang jalan sendiri- sendiri. Sehingga dalam menjual Jogja ke luar negeri juga belum optimal," ungkap Hadi.
Selama ini menurutnya baik pemerintah provinsi dan kabupaten/kota belum saling mendukung dalam soal promosi pariwisata. Mereka masih senang jalan sendiri - sendiri. Akibatnya dana anggaran untuk promosi tidak tepat sasaran.
Dirinya mencontohkan Malaysia yang tiap tahun mengalokasikan anggaran prmosi pariwisata tidak kurang Rp 800 milyar. Dibanding anggaran Indonesia , dana Malaysia memang lebih besar. Tapi kelebihan promosi Malaysia tidak pernah setengah-setengah.
"Kalau prmosi ke luar negeri mereka pakai satu bendera," ungkap pemilik Dalem Padma yang kebetulan tamunya banyak turis asal Malaysia ini.
Hal lain yang perlu dibenahi juga soal akomodasi. Pemerintah harus lebih peka untuk membuat wisatawan lebih nyaman dan aman selama berlibur.
"Sekarang makin banyak keluhan dari tamu yang menginap, mereka mengaku tidak nyaman jalan-jalan di Malioboro," tambahnya.
Sebenarnya dari sisi potensi pariwisata DIY tidak kalah dengan banyak daerah lain di Indonesia bahkan Malaysia sekali pun. DIY memiliki segalanya mulai wisata pantai, heritage, kerajinan batik, kuliner, dan pesona wisata lain.
“Potensi yang besar ini harus dioptimalkan dengan jaringan promosi yang tepat sasaran,” tukasnya.