Pemkot Solo Serius Garap BUMM
Keseriusan Pemkot Solo membentuk Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMM) terus berlanjut.
TRIBUNNEWS.COM SOLO, – Keseriusan Pemkot Solo membentuk Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMM) terus berlanjut. Agar segera membuahkan hasil, Pemkot akan menjadikan lima kelurahan sebagai proyek rintisan badan usaha yang bertujuan membantu pelaku usaha di tingkat kelurahan agar berkembang itu. Dipilihnya lima kelurahan itu karena masing-masing memiliki keunggulan.
Menurut penjelasan Wali Kota Solo Joko Widodo, BUMM tersebut memiliki tiga divisi yakni pasar, produksi, dan keuangan. “Nanti akan kita coba pada lima kelurahan. Yakni Mojosongo, Tipes, Sondakan, Kauman, Gandekan,” kata kepala daerah yang akrab disapa Jokowi ini, Selasa (15/5). Keunggulan kelurahan tersebut adalah, Mojosongo sebagai sentra kerajinan sangkar burung, Tipes yang banyak perajin shuttlecock dan kain perca.
Sedangkan Sondakan yang dikenal sebagai tempat produksi kain batik lukis, Kauman untuk kerajinan non batik, dan Gandekan yang dulu terkenal sebagai pusat kerajinan sepatu dan sandal kulit. Jokowi mengakui, sejak dibentuk hingga kini, BUMM masih jalan di tempat. Para pengelola masih belum paham bagaimana menerjemahkan tiga divisi di atas dalam program kerja. “Hari ini sudah kita pahamkan dan terangkan lagi,” kata Jokowi lagi.
Dari pengamatannya, hal-hal yang menjadi masalah saat ini adalah sol pemasaran, produksi, dan keuangan. Pemasaran berarti membuka peluang penjualan produk sebesar-besarnya. Setelah pemasaran beres, berlanjut ke produksi, yakni divisi yang khusus mengurusi tentang pengembangan produk agar selalu mengikuti perkembangan zaman. Misalnya saja sangkar burung, saat ini tidak sekadar menjadi kandang. Tapi bisa jadi interior yang menarik di restoran dan hotel.
“Di Singapura dan Taiwan, sangkar burung produksi untuk dijadikan interior ruangan. Bukan sekedar kandang burung,” ucapnya. Dari segi keuangan, BUMM bertugas memberikan bantuan permodalan kepada pelaku usaha yang selama ini kesulitan menembus perbankan. Jokowi pun yakin konsep-konsepnya itu akan bisa berjalan baik di kelurahan yang menjadi pilot project.
Koordinator Program Kaukus 17++, Putut Gunawan, mitra Pemkot dalam pendirian BUMM mengatakan, pihaknya akan memberikan bantuan. Terutama dalam hal inovasi dan manajemen produk, akses pemasaran serta permodalan. Setiap BUMM disuntik modal Rp 20 juta untuk mendukung pemasaran awal. "Jika order semakin besar, suntikan dana bisa bertambah menjadi Rp 70 juta," katanya. (dik)