UGM Bebaskan SPMA Beberapa Mahasiswa
Tribun Jateng - Rabu, 8 Agustus 2012 15:28 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jogya/ Muh Fatoni
TRIBUNJATENG .COM YOGYA, – Setelah membebaskan pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) semester awal bagi seluruh mahasiswa baru, UGM juga membebaskan pembayaran Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA). Namun, untuk pembebasan SPMA, tidak semua mahasiswa baru yang mendapatkan fasilitas tersebut.
Rektor UGM, Prof Dr Pratikno, menuturkan ada sekitar 23 persen mahasiswa baru yang mendapatkan pembebasan SPMA. Jika mengacu dari jumlah total 10.700 mahasiswa baru UGM, ada 1.280 mahasiswa yang tidak perlu membayar SPMA tersebut.
“Ini adalah bentuk komitmen dari UGM untuk meningkatkan dan membuka seluasnya akses pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari kalangan kurang mampu,” terangnya, Rabu (8/8).
Lebih lanjut ia menjelaskan, mahasiswa yang mendapatkan pembebasan SPMA adalah yang berasal dari keluarga berpendapatan terendah. Namun ia enggan menyebutkan nominal pasti yang masuk dalam kategori pendapatan terendah tersebut.
Para mahasiswa baru ini diizinkan untuk mengisi SPMA nol rupiah dan tanpa melihat jurusan/ program studi yang diambil. Artinya, para mahasiswa itu hanya perlu membayar biaya operasional pendidikan (BOP) yang besarannya ditentukan oleh jumlah sistem kredit semester (SKS) yang diambil pada semester awal.
“Kami fokuskan pada SPP dan SPMA dulu. Intinya kami ingin memulai dari situ, sambil menunggu kewajiban dari pemerintah yang komprehensif untuk mengover biaya pendidikan perguruan tinggi,” sambung Pratikno.
Pada semester awal ini, UGM memang membebaskan pembayaran SPP bagi seluruh mahasiswa baru, baik S1 maupun D3. Kebijakan tersebut diambil sebagai alokasi penggunaan dana bantuan operasional perguruan tinggi (BOPT) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Pratikno juga menuturkan dirinya ingin tetap mempertahankan status dan jargon UGM sebagai kampus kerakyatan. Ia menjelaskan, selain pembebasan SPP dan SPMA bagi sejumlah mahasiswa, cukup banyak beasiswa yang bisa diakses oleh mahasiswa, baik dari pihak kampus maupun pihak swasta ketiga.
“Sementara ini yang kami kejar adalah meningkatkan akses calon mahasiswa kurang mampu untuk lebih mudah masuk kuliah di sini,” katanya. (ton)
TRIBUNJATENG .COM YOGYA, – Setelah membebaskan pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) semester awal bagi seluruh mahasiswa baru, UGM juga membebaskan pembayaran Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA). Namun, untuk pembebasan SPMA, tidak semua mahasiswa baru yang mendapatkan fasilitas tersebut.
Rektor UGM, Prof Dr Pratikno, menuturkan ada sekitar 23 persen mahasiswa baru yang mendapatkan pembebasan SPMA. Jika mengacu dari jumlah total 10.700 mahasiswa baru UGM, ada 1.280 mahasiswa yang tidak perlu membayar SPMA tersebut.
“Ini adalah bentuk komitmen dari UGM untuk meningkatkan dan membuka seluasnya akses pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari kalangan kurang mampu,” terangnya, Rabu (8/8).
Lebih lanjut ia menjelaskan, mahasiswa yang mendapatkan pembebasan SPMA adalah yang berasal dari keluarga berpendapatan terendah. Namun ia enggan menyebutkan nominal pasti yang masuk dalam kategori pendapatan terendah tersebut.
Para mahasiswa baru ini diizinkan untuk mengisi SPMA nol rupiah dan tanpa melihat jurusan/ program studi yang diambil. Artinya, para mahasiswa itu hanya perlu membayar biaya operasional pendidikan (BOP) yang besarannya ditentukan oleh jumlah sistem kredit semester (SKS) yang diambil pada semester awal.
“Kami fokuskan pada SPP dan SPMA dulu. Intinya kami ingin memulai dari situ, sambil menunggu kewajiban dari pemerintah yang komprehensif untuk mengover biaya pendidikan perguruan tinggi,” sambung Pratikno.
Pada semester awal ini, UGM memang membebaskan pembayaran SPP bagi seluruh mahasiswa baru, baik S1 maupun D3. Kebijakan tersebut diambil sebagai alokasi penggunaan dana bantuan operasional perguruan tinggi (BOPT) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Pratikno juga menuturkan dirinya ingin tetap mempertahankan status dan jargon UGM sebagai kampus kerakyatan. Ia menjelaskan, selain pembebasan SPP dan SPMA bagi sejumlah mahasiswa, cukup banyak beasiswa yang bisa diakses oleh mahasiswa, baik dari pihak kampus maupun pihak swasta ketiga.
“Sementara ini yang kami kejar adalah meningkatkan akses calon mahasiswa kurang mampu untuk lebih mudah masuk kuliah di sini,” katanya. (ton)
